Toleransi di Sumenep: Masjid dengan tukang dari Cina dan 'bicara tafsir di kelompok Syiah'

Gereja, klenteng dan masjid di desa Pabian, Sumenep Hak atas foto Pemda Sumenep
Image caption Masjid Baitul Arham, tempat Ibadah Tri Dharma Pao Sian Lin Kong, dan Gereja Katolik Maria Gunung Karmel di Jalan Slamet Riadi, Pabian, Sumenep.

"Masjid Jami Sumenep yang umurnya 254 tahun, kepala tukangnya adalah Cina, bukan orang Islam tapi dia yang bangun masjid," itulah jawaban Bupati Sumenep, Madura, Busyro Karim, saat ditanya contoh toleransi di daerah itu.

"Saat Natal, ada yang jaga gereja ... tak hanya menjaga gereja tapi persahabatannya kental," kata Busyro Karim. "Termasuk ada pula masjid Syiah ... saya sering bicara tafsir di kelompok Syiah."

Toleransi yang terjadi di Sumenep mulai terjalin sejak zaman kesultanan, tambahnya. "Tidak ada dalam sejarah, kekerasan antara umat beragama atau sesama agama Islam misalnya." Di Sumenep, terdapat sekitar 400 penganut Syiah.

Kekerasan sesama Islam yang diacu Busyro adalah yang terjadi terkait kelompok Syiah di Sampang, Madura pada 2012 yang berujung pada relokasi penganut Syiah ke Sidoarjo, Jawa Timur.

Image caption Penganut Syiah mengungsi di gedung olahraga Sampang, Madura.

Desa yang dicontohkan membawa semangat toleransi ini adalah Pabian, dengan tiga tempat ibadah, gereja, masjid dan klenteng yang terletak berdekatan.

Salah seorang warga, Taufik Iskandar, anggota gereja Katolik di Sumenep, bercerita tentang ibadah Natalnya tahun lalu bahwa, "Pemuda Muslim ikut jaga gereja, itu toleransi. Kami tak saling ganggu tapi tolong menolong."

Sumenep -dengan 95% dari 1,1 juta penduduk memeluk Islam- bukan satu-satunya daerah yang membanggakan toleransi, di tengah kasus intoleransi yang meningkat di Indonesia dalam satu tahun terakhir.

Hak atas foto Pemda Sumenep
Image caption Penduduk Sumenep yang berjumlah 1,1 juta jiwa terdiri dari 95% pemeluk Islam.

Komnas HAM dalam laporan tahunan tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dikeluarkan awal tahun ini mencatat peningkatan kasus intoleransi namun memuji ketegasan sejumlah pemerintah daerah dalam menghadapi aksi-aksi seperti ini.

Tren peningkatan yang dicatat Komnas HAM, 76 kasus pada 2014 dan 97 kasus sepanjang tahun lalu.

Tiga daerah yang disebut paling banyak kasus intoleransi adalah Jawa Barat, DKI Jakarta dan Sulawesi Tenggara.

Efektifkah membangun kampung toleransi?

Aksi intoleransi di daerah-daerah lain inilah yang membuat pemerintah daerah Kabupaten Kupang merencanakan membangun enam tempat ibadah; gereja Katolik, Protestan, masjid, kuil untuk Hindu, Buddha dan klenteng untuk pemeluk Konghucu.

"Dengan fenomena akhir-akhir ini, kadang terjadi provokasi terhadap agama satu terhadap agama lain, misalnya saling menghina dan menista. Untuk itu di daerah yang masih miskin dan terbelakang ... fokus kami adalah mengentaskan kemiskinan dan bukan memperdebatkan keyakinan satu sama lain dan saling bermusuhan," kata Bupati Kupang Ayub Titu Eki kepada BBC Indonesia.

"Kita tidak menunggu (perpecahan), namun (melakukan) pencegahan, karena kalau sudah terjadi kerusuhan, menyembuhkannya lama," kata Ayub terkait rencana membangun tempat ibadah yang dia katakan merupakan inisiatif bersama.

Belum jelas kapan pembangunan apa yang disebut 'kampung toleransi' ini selesai namun Ayub mengatakan dengan lokasi yang berdekatan ini, kontak antarumat beragama semakin sering.

Di kota Kupang sendiri, jemaat Gereja HKBP dan jemaah Masjid Al-Muttaqin menyatakan telah hidup berdampingan selama puluhan tahun, sebagai salah satu contoh nyata toleransi.

Image caption Masjid dan gereja di kota Kupang, NTT.

Gereja dan masjid saling berbagi lahan parkir dan mengatur jam ibadah sedemikian rupa pada hari-hari besar dan juga Ramadan.

Hidup berdampingan seperti ini juga terjadi di Manado, seperti yang pernah diutarakan pengurus masjid At-Taqwa, Mukhlis.

"Walaupun di kelurahan ini hanya ada satu masjid, yakni masjid At-Taqwa, yang dikelilingi oleh beberapa gereja, tapi Alhamdulilah kerukunan umat beragama di sini sejak dahulu sampai saat ini sangat akrab. Satu sama lain saling mengunjungi saat hari raya keagamaan," tutur Mukhlis.

Namun apakah membangun kampung toleransi seperti yang tengah direncanakan di Kupang efektif?

Hak atas foto Yongke Londa
Image caption Masjid At Taqwa, Manado yang dikelilingi gereja.

Hendardi dari Setara Institute untuk Perdamaian dan Demokrasi mengatakan upaya membentuk kampung toleransi bisa bertahan bila digagas oleh masyarakat sendiri.

"Langkah itu akan berkontribusi pada penguatan toleransi sepanjang dikelola secara serius bukan simbolik. Sebagai inisiatif warga, maka sustainability (keberlangsungan) gagasan tersebut memungkinkan berjalan panjang," kata Hendardi.

"Tapi jika ide ini dilakukan oleh pemerintah, saya khawatir hanya proyek simbolik yang tidak berkelanjutan," tambahnya.

Dan apa kata para pembaca BBC tentang toleransi? Inilah sejumlah komentar dari Facebook BBC Indonesia terkait berita soal toleransi ini.

Lenny Johor:"Orang yang meributkan agama adalah orang yang bodoh, bagi saya agama sama saja, yang penting orangnya hidup benar ... saya wanita keturunan Jawa-Cina, keluarga besar saya mempunyai agama beraneka ragam, ada Kristen, Katholik, Buddha, Hindu, bahkan ada banyak yang masuk Islam tapi kami damai selalu."

Dyah Widyasari: Di keluarga besarku campur ... saling menghormati dan menghargai, Natalan ngumpul, Lebaran ngumpul.

Yusuf Avicenna Asihanto: Bagimu agamamu bagiku agamaku. Toleransi menurut saya tidak mencampuradukkan agama ... apalagi menyimpang dari ajaran agama.

Topik terkait

Berita terkait