Plastik yang 'aman dikonsumsi hewan laut': solusi masalah sampah?

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Aman karena dapat diurai, diminum, bahkan dimakan?

Sepotong plastik berwarna hijau dicelup ke air panas, lalu diaduk-aduk. Tak lama berselang plastik itu larut di dalam air - menciptakan warna kehijauan.

Kevin Kumala, 32, seorang pengusaha sosial yang memproduksi plastik itu tak ragu menenggaknya di depan kamera.

Video yang menggambarkan adegan ini viral di media sosial Desember lalu. Awalnya diunggah oleh akun Facebook, Make A Change Bali, dan kemudian diambil juga oleh media asing termasuk Al Jazeera English dan penyedia konten Now This.

Plastik dengan merek dagang Avani Eco lantas naik daun, dan Kevin jadi sering diminta untuk membuktikan adegan itu langsung di depan wartawan. "Saya minum ini hampir tiap hari," kata Kevin ketika bertemu dengan BBC Indonesia. Dan, dia yakin itu aman.

Dia mengatakan bahwa produk ini telah menerima sertifikasi Eropa untuk produk kemasan ramah lingkungan EN 13432, dan beberapa sertifikasi sejenis seperti ISO 17088 dan ASTM D 6400-04.

Teknologinya tidak baru, tetapi ada satu keunggulan yang mereka banggakan: "yang sudah lulus toxicity test, yang aman dikonsumsi mamalia laut, baru kami saja," katanya.

Tapi tentu saja, Kevin memperingatkan bahwa plastik itu tidak benar-benar untuk diminum dan tidak ada yang sungguh-sunguh mau menjual minuman rasa plastik. Dia melakukan 'aksi minum plastik' karena ingin menunjukkan bahwa barang itu aman jika tertelan oleh makhluk hidup.

Image caption "Sebanyak 80% pemesan plastik ini masih dari luar negeri," kata pendiri Avani Eco yang berbasis di Bali ini.
Image caption Kevin Kumala dan plastiknya yang bisa dilarutkan dalam air.

Dan ini amat penting, menurutnya, karena sekitar 80% plastik yang kita digunakan akan berakhir di laut, danau, dan sungai, merusak habitat makhluk laut dan juga mengancam kekayaan di dalamnya.

Di tanah, plastik yang dibuat dari polimer berbasis pati singkong ini bisa terurai dalam waktu tiga hingga enam bulan. Harganya memang relatif lebih tinggi dibandingkan plastik biasa. Kalau selembar plastik dijual seharga Rp150, plastik ramah lingkungan ini bisa dibandrol Rp350 per lembar. Tapi, dia optimistis ini bisa menjadi solusi tepat untuk mengatasi masalah sampah.

"Sebanyak 80% pemesan plastik ini masih dari luar negeri," kata pendiri Avani Eco yang berbasis di Bali ini.

Tapi apakah betul-betul aman? Peneliti LIPI, Myrtha Karina, yang dihubungi oleh wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, tidak bisa berkomentar banyak sebelum menelitinya.

"(Tentu) harus ada peneliti lain yang membuktikan. Tetapi, seperti saya katakan, pembuatan plastik ramah lingkungan berbasis tapioka itu memang ada bahan kimia lain yang dicampur. Harus, tidak mungkin tidak. Tetapi setahu saya bahan kimianya, larut dalam air dan 'ramah lingkungan," papar Myrtha Karina.

Diganti tas katun

Sebuah kajian Universitas Georgia yang dirilis tahun lalu menemukan lautan di Indonesia adalah perairan kedua di dunia yang menyimpan sampah plastik terbanyak. Ini tentu akibat produksi dan konsumsi plastik yang tinggi, serta minimnya upaya daur ulang.

Kajian lain, yang dilakoni lembaga Ocean Conservancy menemukan bahwa 28% ikan-ikan di Indonesia mengandung plastik.

Hak atas foto AFP
Image caption Indonesia adalah perairan kedua di dunia yang menyimpan sampah plastik terbanyak.

Mengatasi masalah sampah ini tidak mudah, tapi aktivis dari Diet Kantong Plastik mengatakan ada hal yang lebih penting selain mengganti plastik dengan plastik.

"Kami menyarankan plastik diganti dengan kantong yang bisa dipakai berkali-kali dengan bahan yang tidak mengandung plastik sama sekali seperti tas katun. Sekarang kan sudah banyak, desainnya semakin menarik. Dan di tiap-tiap daerah punya tas khas masing-masing yang bisa dipakai untuk mengganti kantong plastik," jelas Adisa Soedarso.

Perubahan perilaku dengan menggunakan tas katun, menurut Adisa, lebih penting ketimbang sekedar mengganti plastik, walau ramah lingkungan.

"Ada ritel-ritel yang dengan tas plastiknya mencantumkan gambar plastik yang bisa terurai dalam sekian lama, khawatirnya kalau disampaikan seperti itu, orang akan terus pakai lagi dan sampahnya malah meningkat."

"Pesannya (untuk mengurangi sampah) tidak sampai. Kebiasaan tidak akan berubah sedangkan pemerintah targetnya Indonesia bersih sampah 2020, mendorong untuk zero waste," jelasnya.

Hak atas foto ROMEO GACAD / GETTY
Image caption Desainer Jessica Dunn asal Australia dan sejumlah tas yang dibuat menggunakan plastik bekas pada 2010 lalu di Jakarta.

Sementara itu, menurut Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, R Sudirman, kedua solusi itu bisa berjalan beriringan. Pemerintah misalnya akan segera menerbitkan peraturan menteri untuk menghidupkan lagi program kantong plastik berbayar, yang menurut sejumlah aktivis berdampak positif pada perubahan konsumsi plastik.

"Ini akan keluar secepatnya, tinggal dirapikan saja," katanya.

Sementara itu, industri plastik pelan-pelan diajak untuk menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. "Industri yang menghasilkan plastik banyak, kalau langsung diganti ndak bisa, karena biayanya mahal. Harus ubah teknologinya tetapi memang butuh waktu," katanya.

Kunci solusi menurut Sudirman ada tiga hal: plastik dikurangi, kemasan ramah lingkungan ditambah, dan masyarakat dididik. Tapi sukseskah?

Topik terkait

Berita terkait