Meninjau frasa 'mengemis menjadi babu' dari kaca mata bahasa

getty Hak atas foto Keystone/Hulton Archive/Getty
Image caption Pemandangan Kramat Batavia, Jawa, pada 1942. Kata 'babu' digunakan dalam masa kolonial merujuk pada pengasuh anak yang tidak berpendidikan.

Pernyataan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah tentang babu ibarat 'penghinaan dua kali' bagi buruh migran dan juga menandakan bahwa wakil rakyat itu tidak memahami persoalan TKI di luar negeri, menurut sejumlah pihak.

"Anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang dan pekerja asing merajalela..." begitu isi lengkap cuitannya Selasa (24/01) pagi. Fahri Hamzah kemudian meminta maaf melalui akun Twitter-nya pula.

Ditinjau dari segi bahasa istilah babu pada awalnya tidak memiliki makna negatif seperti sekarang.

Kata ini telah digunakan sejak zaman bangsawan Jawa, kata pemerhati bahasa Priyantono Oemar. Babu secara spesifik diartikan sebagai orang yang mengasuh anak. Sementara itu, orang yang membantu pekerjaan dan berharap mendapat upah namanya buruh, dan orang yang membantu tapi tidak mengharap upah disebut batur.

Pada zaman kolonialisme, babu juga dipekerjakan di rumah-rumah keluarga Belanda. Keluarga-keluarga Belanda banyak yang sangat bergantung pada peran babu sehingga terkadang anak lebih dekat dengan babu dibandingkan ibu.

Di tahap inilah babu mulai dimaknai negatif karena sering dikaitkan dengan orang yang tak berpendidikan.

"Ada keluarga-keluarga Belanda di Batavia yang merasa khawatir terhadap pengaruh buruk babu pada anak-anak mereka sehingga babu diberi pendidikan. Ketika mereka pulang ke Belanda pun, babu-babu dibawa untuk mengasuh anak di kapal selama perjalanan laut sehingga ada istilah zeebaboe atau babu laut," jelasnya.

Kata itu kemudian semakin dinilai negatif sehingga banyak orang menggantinya dengan sebutan pembantu rumah tangga (PRT). Tapi belakangan, sebutan PRT juga dinilai negatif sehingga muncul istilah lain yaitu asisten rumah tangga.

"Ini soal nilai rasa," katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska.

Ada pula istilah warisan Belanda untuk menyebut pembantu, yaitu jongos yang berasal dari jongen artinya pemuda dan oost yaitu timur - yang kini juga dipersepsikan sebagai kata yang merendahkan.

Begitu menyakitkan?

Bagi Priyantono Oemar, ucapan Fahri Hamzah seperti 'dua kali menghina' TKI karena tidak hanya menyebut 'babu' yang artinya merendahkan tapi juga menyebut mereka 'mengemis'.

"Saya pikir kata mengemis ini yang lebih menyakitkan karena mereka bukan mengemis, ada pelatihannya dan harus berpendidikan SMA (untuk menjadi TKI)."

Hak atas foto SAEED KHAN
Image caption Siti Hajar diduga disiksa majikannya di Malaysia selama tiga tahun, dipukul dengan rotan dan disiram air panas.

Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) memandang ucapan itu juga mencerminkan bahwa Fahri Hamzah, yang menjabat sebagai ketua pengawas TKI DPR RI, gagal memahami persoalan mendasar buruh migran di luar negeri.

"Jika Fahri mempelajari seluk belum persoalan buruh migran, tentu dia tahu bahwa anak bangsa menjadi 'babu' di negeri orang karena memang negara gagal mengentaskan rakyat dari kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja layak di dalam negeri," ujar mereka dalam rilisnya.

"Anak bangsa menjadi "babu" di negeri orang karena sejak 1990, pemerintah memang sudah menarget pengiriman TKI setiap tahun dan menjadikan devisa TKI sebagai andalan pemasukan negara. Ketika anak bangsa terlantar di luar negeri menuntut pelayanan dan perlindungan, itupun belum tentu diberikan."

Fahri Hamzah dalam kicauannya mengatakan bahwa dia tidak bermaksud "menghina profesi orang; buruh, kuli, jongos atau apapun" karena menilai semua pekerjaan itu "halal dan mulia."

"Tapi saya sedang bicara bagaimana negara dijebak untuk menjual hak rakyatnya ke pasar kapitalis," lanjutnya. Namun pada akhirnya, dengan berbagai protes dan kritikan, dia menyatakan permintaan maaf.

Topik terkait

Berita terkait