'Berkacalah pada diskriminasi di negeri sendiri': reaksi atas kebijakan imigrasi Trump

TRUMP Hak atas foto Getty Images
Image caption "Saya Muslim, saya orang Suriah, saya bukan teroris," sebut sebuah poster dalam protes menentang kebijakan imigrasi Donald Trump di AS.

Perintah eksekutif Presiden Donald Trump yang antara lain melarang masuknya warga tujuh negara berpenduduk mayoritas umat Islam ke Amerika Serikat menuai beragam reaksi di Indonesia.

Dalam kebijakan tersebut, selain menangguhkan seluruh penerimaan pengungsi, AS juga melarang warga Irak, Suriah, Iran, Libia, Somalia, Sudan, dan Yaman untuk berkunjung ke AS selama 90 hari. Sejumlah kategori visa, seperti diplomatik dan PBB, tidak termasuk dalam penundaan ini.

Indonesia, yang berpredikat sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, tidak termasuk dalam daftar. Tetapi kebijakan imigrasi Trump yang secara luas dianggap diskriminatif itu menjadi isu sensitif bagi pengguna media sosial di Indonesia.

Sejumlah orang menganggap bahwa kebijakan ini adalah cerminan wajah baru Amerika yang anti-Islam dan antimigran.

"Amerika adalah negara kaum imigran. Saya yakin bahwa Trump juga berasal dari imigran. Melarang imigran jelas tak adil," cuit pengacara dan aktivis HAM Todung Mulya Lubis di Twitter.

"Keputusan Trump adalah kebodohan, arogansi, paranoia yang harus dikutuk," sebut budayawan Goenawan Mohamad dalam akun @gm_gm.

Namun di Facebook BBC Indonesia, sejumlah orang berkomentar dengan santai. "Trump lebih tahu negara mana yang berbahaya bagi beliau. Beliau larang Iran dan Irak tapi memperbolehkan negara kita, sebab Indonesia bagus dan sangat cocok buat Amerika," kata Maskur Maskur.

Lainnya menulis, "ini mengingatkan dan mengajak kita berfikir bahwa yang namanya diskriminasi itu gak enak! Diskriminasi ras, agama, fisik atau apapun, tetap yang namanya diskriminasi itu ndak enak!"

Berkaca ke dalam negeri

Tapi, ketimbang memusatkan perhatian pada hal yang terjadi jauh di AS, sejumlah pengguna media sosial menggunakan kesempatan ini untuk mengajak orang-orang melihat 'diskriminasi' di negeri sendiri.

"Ada orang ngamuk kenapa Trump menutup kesempatan untuk Muslim di USA, habis itu di-timeline-nya ribut teriak kofar kafir. Bedanya apa sih?" kata @hariadhi menyindir perkembangan situasi di Indonesia.

Dosen Monash University Australia dan juga cendikiawan NU, Nadirsyah Hosen, mengungkap opini yang senada. "Antum yang teriak-teriak ngomel sama Trump diskriminasi terhadap Muslim, pikir dulu yah bagaimana antum teriak-teriak mendiskriminasi non-Muslim di Indonesia."

Hak atas foto TWITTER
Image caption "Yang teriak-teriak mengomel sama Trump bahwa dia mendiskriminasi Muslim pikir dulu yah," kata cendikiawan NU Nadirsyah Hosen.

Seorang pengguna Facebook, Zen Zulkarnaen, kemudian membandingkan reaksi warga AS yang ikut membela hak-hak minoritas dengan Indonesia.

"Ketika Presiden Amerika Donald Trump melakukan kebijakan diskriminasi rasis terhadap muslim, hebatnya serentak warga Amerika dari Yahudi hingga Ateis berdiri membela hak-hak muslim minoritas di sana. Sementara Muslim di sini justru sibuk ketakutan pada hantu komunis yang dibuatnya sendiri sembari terus rasis terhadap etnis-agama minoritas. Ironis."

Setara Institute menilai diskriminasi terhadap kelompok minoritas di Indonesia masih tinggi. Dalam riset terbaru, mereka mencatat ada 270 tindakan pelanggaran kebebasan berkeyakinan di Indonesia pada tahun 2016, dan yang terbanyak menimpa kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Laporan tahunan kebebasan beragama dan berkeyakinan dari Komnas HAM juga mencatat adanya peningkatan dalam kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia sepanjang 2016. Jawa Barat masih menjadi provinsi pertama di mana kasus intoleransi banyak terjadi, disusul DKI Jakarta, dan Sulawesi Tenggara.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Mantan wakil presiden Boediono mengatakan langkah Trump "mengingatkan kita pentingnya menjaga dan membangun Rumah kita sendiri."

Berita terkait