'Saya bertanya' kepada bapak presiden, cuitan SBY yang menjadi guyonan

sby Hak atas foto Reuters
Image caption Susilo Bambang Yudhoyono saat meninggalkan istana pada tanggal 20 Oktober 2014 setelah pelantikan Presiden Joko Widodo.

Pertanyaan Susilo Bambang Yudhoyono kepada Presiden Joko Widodo melalui akun Twitternya atas hak perlindungan setelah rumahnya 'digruduk' ratusan orang justru diikuti banyak guyonan di media sosial.

Kediaman pribadi mantan presiden di Kuningan, Jakarta itu, "Digruduk ratusan orang. Mereka berteriak-teriak," tulis SBY dalam akun Twitternya Senin (06/02).

"Kecuali negara sudah berubah, Undang-Undang tak bolehkan unjuk rasa di rumah pribadi. Polisi juga tidak memberitahu saya," tambahnya.

Rumah di Kuningan yang dimaksud SBY adalah kediaman pribadi yang secara resmi diberikan negara untuk mantan presiden dan wakil.

"Saya bertanya kpd (kepada) Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn (dengan) hak asasi yg (yang) saya miliki?... Saya hanya meminta keadilan. Soal keselamatan jiwa saya, sepenuhnya saya serahkan kpd Allah Swt," tulis SBY lebih lanjut.

Hak atas foto Twitter
Image caption Cuitan SBY di Twitter

Tagar saya bertanya disinggung lebih dari 6.000 kali beberapa jam menyusul cuitan SBY itu, sebagian berisi berbagai guyonan.

Hak atas foto Twitter
Image caption Twitter

"#Saya bertanya kepada bapak presiden dan Kapolri, jika rumah saya didemo dan saya merasa jantung saya berdegub lebih cepat, apakah saya jatuh cinta," tulis seorang pengguna.

"Saya bertanya kepada bapak presiden dan Kapolri, apa saya punya hak untuk teriak 'tidak sah' di akad nikah mantan yang belum lama mutusin saya?" dan "Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, kenapa ciki Taro makin dikit isinya," cuit yang lain.

'Menimbulkan simpati'

Terlepas dari guyonan ini, pengamat politik dari Universitas Indonesia, Cecep Hidayat, mengatakan pernyataan SBY atas perlindungan sahih karena menyangkut perlindungan aparat negara, terutama mantan presiden dan wakil.

Hak atas foto Twitter
Image caption Twitter, #Sayabertanya

BBC Indonesia berupaya mengontak kepolisian untuk menanyakan langkah yang dilakukan terkait pengamanan kediaman pribadi mantan presiden itu namun belum mendapatkan jawaban sampai berita ini diturunkan.

Namun Cecep mengatakan rangkaian cuitan SBY ini 'untuk menimbulkan simpati' karena terlihat menjadi korban.

"Kok saya dijadikan korban, rumah didemo dan dengan viktimisasi (menjadi korban) harapannya akan menimbulkan simpati buat SBY," kata Cecep.

Ia menambahkan berbagai cuitan terkait dengan perkembangan pemilihan gubernur DKI Jakarta dengan salah salah satu calon putra SBY, Agus Harimurdi Yudhoyono.

"Kalau konteks Indonesia (dampak cuitan) tak begitu besar karena angka melek internet yang menggunakan media sosial. Tapi untuk Jakarta, sebagian besar aktif di media sosial dan menjadi target cuitan SBY," tambahnya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Agus Harimurti Yudhoyono, salah satu calon gubernur DKI Jakarta untuk Pilkada tanggal 15 Februari 2017

Pekan lalu, SBY mengadakan jumpa pers dan mengungkapkan ingin bertemu dengan Presiden Joko Widodo untuk yang ia sebut bicara 'blak-blakan' dan jika satu hari bisa bertemu Presiden Joko Widodo, dia mengatakan ingin 'blak-blakan' serta mengklarifikasi berbagai isu termasuk dugaan makar dan aksi 411.

"Tiap pemimpin punya era dan waktu masing-masing. Sebagian orang melihat SBY belum bisa move on (bergerak ke depan). Dia merasa tak nyaman dan ketidaknyamanan ini banyak diangkat lewat cuitan," kata Cecep.

Topik terkait

Berita terkait