Akan sepanas apa putaran kedua Pilkada Jakarta?

kertas suara Hak atas foto Getty Images
Image caption Hasil penghitungan cepat menunjukkan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi melaju ke putaran berikutnya.

Putaran kedua - yang pasti terjadi, setelah Agus Harimurti Yudhoyono menyatakan menerima kekalahan- untuk Pilkada DKI Jakarta akan berlangsung sangat sengit.

Ke mana suara pemilih Agus-Sylvia mulai dibicarakan di media sosial menyusul pernyataan Agus untuk "menerima kekalahan dengan lapang dada"?

"Agus", dicuitkan lebih dari 100.000 kali sampai Rabu (15/02) malam setelah menerima kekalahan dan memberikan selamat kepada pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.

"Hari ini tentu berbeda, secara ksatria dan lapang dada, saya menerima kekalahan saya dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta. Saya dan Ibu Sylvi mengucapkan selamat kepada pasangan nomor dua bapak Basuki dan bapak Djarot kemudian pasangan nomor tiga bapak Anies dan bapak Sandi," kata Agus di Wisma Proklamasi, Jakarta.

Wartawan dan sastrawan Goenawan Mohamad, termasuk salah satu yang menanggapi pernyataan itu dengan cuitan, "Pidato Agus Yudhoyono sangat bagus: tenang, jernih, jelas, tulus, berisi. Ia sudah pantas lega. Bertanding itu memang melelahkan."

Hak atas foto EPA
Image caption Agus Yudhoyono dan istrinya Annisa Pohan.

Sajumlah tanggapan cuitan itu mempertanyakan suara pemilih Agus-Sylvi.

"Prediksi partai pdkng (pendukung) AHY tobat merapat ke pemerintah," tulis salah seorang pengguna, dan, "Terlihat sudah angin berbalik arah 180%. Kenapa? Karena realitas kemana arah suara agus?" cuit yang lain.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ahok-Djarot pada hari pencoblosan.

Pertarungan sangat sengit

Jadi ke manakah suara pemilih Agus-Sylvi?

Very Junaedi, dari lembaga peneliti Kode Inisiatif (Konsitusi dan Demokrasi Inisiatif) mengatakan tren Anies-Sandi cenderung naik namun suara pemilih Agus-Sylvi tidak akan sepenuhnya ke pasangan nomor urut tiga itu.

"Pemilih Ahok bukan hanya yang non-Muslim tapi juga pemilih Muslim atau paling tidak, mereka yang rasional memilih Ahok karena Ahok punya prestasi yang cukup gemilang di Jakarta, kata Very kepada wartawan BBC, Endang Nurdin.

"Jadi pemilih yang beri suara ke Agus, tak mungkin 100% jadi ke Anies, tapi bisa juga pindah ke Ahok karena melihat fakta Ahok juga bekerja dengan baik untuk Jakarta,"

"Karena itu ini jadi pertarungan yang sangat sengit antara Anies dan Ahok di putaran kedua nanti."

Indonesia belum siap 'primordial'

Hak atas foto EPA
Image caption Anies Baswedan dan keluarganya.

Cendekiawan dan penulis buku Etika Politik, Franz Magnis-Suseno, juga memperkirakan putaran kedua akan panas namun tidak akan muncul masalah yang serius.

"Pemilihan antara pasangan nomor dua dan tiga akan cukup panas tapi saya tak antisipasi terjadi sesuatu ... karena patron (kedua kubu) Pak Jokowi dan Pak Prabowo sudah membangun hubungan yang cukup baik. Tentu secara politis berseberangan di Pilkada Jakarta tapi tak lagi bersifat permusuhan," kata Franz Magnis.

"Karena itu saya tidak mengantisipasi sesuatu," tambah cendekiawan yang biasa dipanggil Romo Magnis itu.

Tetapi Romo Magnis melihat, masyarakat Indonesia seperti belum siap untuk menerima pemimpin Jakarta dari non-Muslim.

"Perasaan primordial terlalu ditantang. Orang mau pluralis ... tetapi tidak (untuk posisi) seperti gubernur Jakarta apalagi sebagai calon presiden atau calon wakil presiden."

Lebih-lebih, kara Franz Magnis, sosok Ahok begitu kontroversial, tidak memusingkan posisinya sebagai minoritas, kukuh mengambil kebijakan kontroversial dan tanpa ragu berbicara menyentuh istilah dan isyu sensitif, dan tak segan untuk berkonfrontasi dengan politikus atau kalangan mana pun.

"Itu akan mempertajam situasi. Sangat kelihatan selama tiga bulan di Indonesia, dan efeknya masih akan lama terasa. Itu bukan saya persalahkan Ahok, tapi tentu saja dia (merupakan) rangsangan (bagi orang untuk beraksi)."

Topik terkait

Berita terkait