Buku 'Aku Belajar Mengendalikan Diri' dan pendidikan seks yang tabu di Indonesia

buku anak Hak atas foto Twitter

Buku cerita anak berjudul 'Aku Belajar Mengendalikan Diri' menjadi kontroversi di media sosial. Seorang praktisi pendidikan seksual menilai cerita ini hanya akan menambah kesalahpahaman dan stigma negatif terhadap aktivitas seksual dan masturbasi.

Di Facebook pembahasan yang ramai bisa dilihat di akun @semiotikaadiluhung1945. Unggahan foto beberapa halaman cerita yang ditulis Fita Chakra itu telah dibagikan setidaknya 730 kali.

Hak atas foto Facebook

Netizen pun banyak berkomentar negatif. Akun bernama Agus Iman Budiesanto menilai cerita dari seri buku Aku Bisa Melindungi Diri akan membuat anak "terlalu cepat dewasa". Sementara Imam Yodan Wbs menganggap cerita akan membuat pembacanya "rusak".

Bisakah asrama tanpa pintu versi Khofifah redam perilaku seks berisiko?

Ciuman massal para suami istri PNS di Nias Selatan: Apa yang salah?

Konten cerita ini mulai mendapat banyak perhatian khalayak setelah diunggah oleh akun Instagram @lambe_turah yang memiliki 1,8 juta pengikut. Di unggahan yang sudah di-like lebih 17.000 kali tersebut dia menulis "harap berhati-hati kalau memilih buku cerita yesss. Mamak harus buka bukunya lihat dan baca isinya ... sebelum membeli."

Hak atas foto Instagram
Image caption Komentar di akun Instagram @lambe_turah.

Pada foto yang diunggah, cerita ini salah satunya menggambarkan seorang anak yang tampak tersenyum dan memeluk guling. Gambar itu dilengkapi tulisan, "Aku menemukan permainan baru yang mengasyikkan. Sesekali aku memasukkan tanganku ke celana. Aku mengulang. Lagi dan lagi."

Sementara di halaman lain, seorang bocah tertidur memeluk guling dan dilengkapi narasi, "Iseng-iseng aku menggerakkan tubuhku naik turun. Eh, ternyata asyik juga rasanya."

Hak atas foto Instagram

Meskipun banyak yang mengecam, ada juga yang menilai cerita yang bertujuan untuk pendidikan seksual ini, masih wajar. Misalnya yang dicuitkan akun Twitter @annisaaa97. Dia mempertanyakan mengapa ketika publik diberikan buku edukasi seks, "malah heboh"? Dia menilai pendidikan seks di Indonesia "masih tabu".

Hak atas foto Twitter

Namun, Vera Bekti R yang di akun Twitter-nya, @veravebira, menyebut diri sebagai seorang psikolog, tidak setuju dengan penggambaran di cerita itu. Menurutnya, "...memberikan gambaran kepada anak, sama dengan memberi stimulus untuk anak (agar) berpikir demikian."

Hak atas foto Twitter

'Tidak perlu pada balita'

Setelah ramai-ramai kecaman oleh netizen, penulis buku ini, Fita Chakra, menuliskan klarifikasi di akun Instagramnya. Dia menegaskan, "Niat kami sesungguhnya adalah supaya anak-anak bisa melindungi diri dari kejahatan seksual."

Namun, pernyataan Fita itu tidak disetujui oleh Maulida Raviola, koordinator umum Pamflet, sebuah organisasi yang aktif mengajarkan kesehatan reproduksi ke sekolah-sekolah.

"Tapi sayangnya di buku tersebut orang tua dan pembaca tidak dikasih tahu apa itu masturbasi dan kaitannya dengan kejahatan seksual," ungkapnya kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ilustrasi pendidikan seks.

"Kalau dijelaskan di awal kalau masturbasi itu (untuk) memperkenalkan anak bahwa menyentuh tubuhnya itu harus dilakukan dengan konsen, persetujuan diri sendiri, mungkin akan nyambung (dengan tujuan melindungi diri dari kejahatan seksual). Kalau tujuan tidak dijelaskan, selamanya akan diperdebatkan," tutur Maulida.

Lebih jauh lagi, Maulida menyatakan pengenalan pendidikan seksual terkait masturbasi 'belum perlu' diberikan kepada anak usia balita.

"Pengenalan pada anak itu sebatas bahwa ini tubuh, tubuh kamu, yang boleh memegang cuma kamu. Kalau orang tua pegang juga harus izin dulu. Itu otoritas tubuh. Menurutku itu cukup untuk pengenalan konsep tubuh dan haknya si anak ke balita."

Hak atas foto facebook

Ketika ditanya kapan biasanya pendidikan tentang konsep masturbasi diajarkan, Maulida menjawab, "Sejak pubertas, perempuan usia 10 dan laki-laki usia 12, bisa diperkenalkan konsep masturbasi, aktivitas seksual dan dorongan seksual.

"Kami merasa dengan kemampuan analisis mereka, kemampuan berpikir mereka, itu sebaiknya diajarkan ketika mulai remaja," katanya.

Memperburuk stigma

Penerbit buku Tiga Ananda, dan perusahaan induknya, Tiga Serangkai, telah meminta maaf lewat akun Instagram mereka terkait peredaran buku dan cerita itu. Mereka menegaskan "buku tersebut telah telah kami tarik dari peredaran sejak Desember 2016".

Kaus 'LOL' terduga pembunuh Kim Jong Nam meroket harganya

Lekat, tenun Baduy, dibawa dari Banten dan dipamerkan di London

Lewat akun Instagram pula Tiga Serangkai mengungkapkan, "Kami mengangkat materi "masturbasi"... karena berawal dari adanya fenomena anak yang mendapatkan keasyikan saat menyentuh..., bahkan memainkan kemaluannya. Hal "negatif" ini sudah umum dijumpai... Beberapa artikel bahkan menunjukkan bahwa perilaku ini juga dilakukan oleh balita."

Hak atas foto Instagram

Pernyataan penerbit itu, dinilai Maulida tidak sejalan dengan semangat pendidikan seksual. "Bisa memberikan stigma baru tentang seksualitas. Menyatakan masturbasi (sebagai) hal negatif, padahal sebenarnya tidak seperti itu.

Dia menjelaskan semua aktivitas seksual punya sisi positif dan negatif, sehingga harus jelas dalam memaparkannya. "Kalau dilihat dari aktivitas seksual justru masturbasi yang paling tidak berisiko secara medis," tegasnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penyuluh kesehatan reproduksi berpendapat pendidikan seks dinilai harus diajarkan sejak masih kanak-kanak.

Namun, melihat masturbasi dari sudut pandang hak seperti itu, dinilai Maulida belum banyak diterima di Indonesia. "Padahal itu adalah pendidikan seks paling komprehensif. Ini karena berbicara hak secara seksual, juga menyangkut soal pilihan seks, hak aborsi dan kondom, yang bagi sejumlah orang belum banyak diterima."

Belum jernihnya melihat konsep seksualitas dinilai menjadi penyebab kerap kaburnya tuturan buku 'pendidikan seksual', yang berujung tetap munculnya penolakan dari publik.

Topik terkait

Berita terkait