Mengapa ada FPI dalam cuitan netizen yang ramai ‘tolak Freeport'?

Freeport

Perseteruan antara pemerintah Indonesia dengan PT Freeport banyak diperbincangkan di media sosial.

Netizen beramai-ramai mendukung pemerintah Indonesia dan menolak Freeport, suatu fenomena yang disebut antropolog serta sosiolog sebagai 'histeria nasionalisme'.

Tercatat dalam 24 jam terakhir sebelum berita ini ditulis, sudah ada setidaknya 24.600 cuitan terkait Freeport.

Hak atas foto Twitter

"... aku padamu pak Jokowi! Jangan takut. Kita negara berdaulat, tidak akan takut arbitrase," cuit Hegar Wibawa lewat akun Twitter-nya @hegar_wibawa.

Sementara di Facebook, Cecep Iskandar lewat unggahan bergambar menulis, "Kepada pak Jonan dan bu Sri Mulyani, hormaaaat.. grak!! (Salut pada kecerdikan dan keberanian mengambil keputusan terhadap Freeport)."

Hak atas foto Facebook

Ramainya komentar di masyarakat, menyusul sikap pemerintah yang tetap meminta Freeport memenuhi berbagai persyaratan terkait ekspor mineral mentah, meskipun perusahaan tambang itu berencana menggugat Indonesia ke pengadilan internasional.

Sosiolog Thamrin Amal Tomagola menyebut fenomena banyaknya dukungan terhadap pemerintah dalam menghadapi Freeport ini sebagai 'histeria nasionalisme.'

Hak atas foto AFP
Image caption PT Freeport Indonesia berencana menggugat pemerintah Indonesia melalui pengadilan internasional, sementara sebagian pekerjanya akan dipecat.

Histeria muncul karena semakin banyaknya masyarakat yang menganut paham 'ultranasionalisme, inward-looking dan proteksionisme. Dan ini gejala global. Lihat saja Trump dan Brexit' katanya kepada BBC Indonesia.

Menurut Thamrin, 'nasionalisme' semakin menguat di Indonesia sebagai dampak dari globalisasi. "Masyarakat merasa kesejahteraannya kurang terangkat. Dalam globalisasi yang liberal, perusahaan asing dapat beroperasi di Indonesia (misalnya Freeport), sementara mereka (masyarakat) merasa tidak mendapat apa-apa".

Politisasi identitas

Yang menarik dari komentar yang ditulis netizen di lini massa adalah bagaimana penolakan terhadap Freeport dikaitkan dengan ormas Front Pembela Islam (FPI) dan ormas dan organisasi Islam lainnya.

Dari rangkuman situs pengumpul data, Spredfast.com, setidaknya ada 1.400 cuitan dalam 24 jam terakhir yang menyebut Freeport dan FPI secara bersamaan.

Hak atas foto Twitter

Contohnya saja cuitan Ferry Maitimu, lewat akunnya @FerryMaitimu, "Kenapa kubu FPI, Forum Umat Islam, Hizbut Tahrir Indonesia, PKS, Fadlizon, Fakri Hamzah, dll bungkam soal ketegasan Jokowi terhadap Freeport?"

Cuitan Ferry tersebut telah di-retweet hampir 200 kali.

Antropolog dari Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto, mengatakan pengaitan antara Freeport dan FPI oleh netizen ini adalah bagian dari 'politisasi identitas.'

"Indonesia sudah jelas (orangnya berbeda-beda). Dalam politisasi identitas, perbedaan itu digunakan untuk mendiskriminasi orang yang berbeda."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ormas FPI kerap disebut dalam cuitan terkait Freeport.

Perihal penolakan terhadap Freeport, dia menegaskan reaksi itu tidak muncul dari "seluruh netizen secara homogen. Pasti ada kelompok-kelompok tertentu." Ketika tidak ada suara dari FPI terkait Freeport, maka kelompok yang identitasnya berseberangan dengan FPI akan menyerang balik.

Penggunaan Freeport untuk kepentingan politik, dinilai Sulistyowati bukanlah hal baru. "Orang mau nyalon Pilpres/Pilkada selalu menjadikan Freeport sebagai salah satu isu nasionalisme, yang mungkin beneran atau hanya semu belaka untuk konsumsi politik."

Bagaimana dengan orang Papua?

Meskipun pembahasan ramai di media sosial, Sosiolog Thamrin Amal Tomagola menilai riuhnya 'ketidaksukaan' terhadap Freeport, tidak akan berdampak kepada kebijakan dan keputusan yang diambil.

"Yang diperlihatkan media sosial, histeria di medsos seperti biasa, hanya akan berumur paling seminggu dan dua minggu, setelah trending topik, lalu selesai, tanpa solusi," katanya.

Hak atas foto Twitter

Suara dari orang Papua sendiri, cukup sulit ditemukan di Twitter. Setelah mengeksplorasi cukup lama, kami akhirnya menemukan sebuah cuitan dari Bryan Anofa, yang megaku sebagai orang Papua.

Lewat akunnya, @isoreanb, dia mencuit, "Freeport lagi, Freeport lagi. Saya orang Papua. Siapa yang memakan daging? Siapa yang berebut tulang?"

Berita terkait