Desas-desus kalung berlian: Bolehkah istri Jokowi terima hadiah Raja Salman?

Iriana perhiasan Hak atas foto AFP/Youtube

Desas-desus Ibu Negara Iriana Joko Widodo mendapat hadiah kalung berlian dari Raja Salman ramai merebak. Namun, pihak Istana menegaskan kabar itu adalah berita bohong.

Jika dilacak menggunakan Spredfast.com, di Twitter perbincangan terkait pemberian kalung berlian tersebut dimulai pada 5 Maret, atau sehari setelah Raja Salman meninggalkan Jakarta. Netizen Melisa Lil Panda lewat akunnya, @semangkasegar mencuit, "abis liat kalung pemberian Raja Salman ke Ibu Iriana. Ya Allah."

Hak atas foto Twitter

Ketika diusut, isu itu bermula dari unggahan video di Youtube berjudul "Ini Kalung2 Berlian Pemberian Raja Salman ke Ibu Iriana Jokowi yang Diserahkan ke KPK, Benarkah?" Unggahan 4 Maret itu dilakukan akun bernama Gerilya Politik.

Pada video yang telah ditonton lebih 11.000 kali itu, tampak berbagai macam perhiasan berbentuk kalung berlian, beragam bungkusan yang ditutup kain keemasan, botol-botol kristal dan belasan panci yang sudah dililit pita. Terdengar ramai pula pembicaraan dalam bahasa yang bukan Bahasa Indonesia.

Hak atas foto Youtube

Netizen pun mengomentari video itu. "Hoax", kata pemilik akun Soci Miff. Sementara, pemilik akun Sonarti S di Youtube menyebut, "ngarang beritanya... Ini mah orang kawinan di Saudi."

Pihak Istana pun telah membantah rumor yang beredar itu. "Ketika semua acara berlangsung, kebetulan semua saya mengikuti, tidak ada itu (penyerahan hadiah). Tidak pernah ada," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (06/03).

Hak atas foto Youtube

Pramono mengungkapkan telah mendengar kabar itu sejak dua minggu sebelum kedatangan Raja Salman ke Indonesia. Dia pun menegaskan tidak pernah ada pemberian kalung berlian maupun cinderamata lainnya dari Raja Salman ke Ibu Negara.

Bolehkah terima hadiah?

Betapapun, muncul pertanyaan, seberapa wajar seorang presiden dan ibu negara, dalam hal ini Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Widodo menerima pemberian dari kepala negara atau pemerintahan lain?

Hak atas foto AFP
Image caption Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana.

Lembaga pemantau korupsi, Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebut berdasarkan undang-undang Tindak Pidana Korupsi, penilaian apakah sebuah pemberian kepada pejabat negara (gratifikasi), boleh atau tidak boleh diterima, ditentukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Apapun bentuk pemberian yang diterima oleh penyelenggara negara, meskipun diberikan pimpinan negara lain, disampaikan dulu kepada KPK, lalu ditanya apakah ini gratifikasi (pemberian dengan imbalan tertentu) atau tidak. Kalau dari penilaian KPK itu gratifikasi, maka tidak boleh diambil."

Hak atas foto Humas Polri
Image caption Polri serahkan pedang pemberian Raja Salman kepada KPK.

Hal itulah yang baru saja dilakukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Selasa (07/03). Tito diwakili Koordinator Sekretaris Pribadi Kepala Kepolisian RI, Komisaris Besar Dadang Hartanto menyerahkan cinderamata pedang dari Raja Salman, kepada KPK, untuk dinilai apakah bisa tetap disimpan Polri atau tidak.

Dadang menegaskan, jika KPK menilai pedang itu bisa diambil maka Polri akan menyimpannya "di museum, ruang perjamuan, atau di ruang tamu gedung Polri."

Bass Metallica Jokowi

Presiden Joko Widodo sendiri juga bukan tokoh yang baru dalam menghadapi isu gratifikasi.

Ketika masih menjabat Gubernur DKI Jakarta, 2013 silam, dia mendapat hadiah gitar bass dari salah seorang personel band rock internasional Metallica, Roberto Trujilo. Gitar itu diserahkan kepada Jokowi beberapa bulan menjelang konser Metallica di Jakarta.

Kala itu Jokowi mengatakan, "Saya sih seneng-seneng saja diberi gitar sama (Robert) Trujillo dan mosok itu gratifikasi. Menurut saya endak itu." Namun, setelah pertimbangan, gitar itu pun diserahkan kepada KPK untuk dinilai. Sekitar seminggu kemudian, KPK memutuskan menyita gitar bass itu.

Hak atas foto AFP
Image caption Jokowi dan gitar pemberian dari personel Metallica.

Menurut KPK, gitar bass itu termasuk gratifikasi 'yang tidak boleh diterima,' karena pada bagian depan gitar terdapat tulisan 'giving back!'. Dalam artian KPK, kalimat itu bermakna pemberian Metallica dengan harapan timbal balik dari Jokowi, padahal saat itu Jokowi menjabat gubernur.

Gitar bass itu kini dipajang di Galeri Gratifikasi pada Direktorat Gratifikasi KPK.

Berita terkait