Bocah 6 tahun di Wonogiri merokok puntung dan alami infeksi paru-paru

rokok Hak atas foto Fajar Sodiq/Getty
Image caption NS (foto bagian kanan) saat berada di rumah keluarganya di Wonogiri.

Seorang bocah enam tahun di Wonogiri, Jawa Tengah, NS, memiliki kebiasaan merokok sejak berusia tiga tahun. Namun, kebiasaan itu berhenti dua bulan lalu setelah dia mengalami gangguan paru-paru.

Kepada wartawan Fajar Sodiq yang mengunjungi kediaman keluarga NS, ibu bocah tersebut, M, mengungkapkan "Januari kemarin NS sering panas. Terus saya bawa ke dokter anak. Menurut dokter, ada masalah di paru-paru."

Dia pun kemudian membawa anaknya ke Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Solo. Dari hasil pemeriksaan darah, NS mengalami infeksi paru-paru dan alergi debu, akibat merokok.

"Sejak Februari, dia harus kontrol sebulan sekali... dan harus minum obat dua kali (sehari)," kata M.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebanyak 20 juta anak Indonesia memulai merokok sebelum berusia 10 tahun.

NS adalah contoh semakin banyaknya perokok anak di tanah air. Berdasarkan data Atlas Pengendalian Tembakau di ASEAN, lebih 30% anak Indonesia mulai merokok sebelum usia 10 tahun. Jumlah itu mencapai 20 juta anak.

Disuruh membeli rokok

Ketua Lentera Anak, sebuah organisasi yang membela hak-hak anak, Lisda Sundari, mengungkapkan banyaknya perokok anak, karena banyak pula 'model perokok' di sekitar mereka.

"Anak adalah peniru terbaik. Model ini bisa orang tua, guru, kakak mereka yang merokok sembarangan, di rumah, sekolah, angkutan umum. (Kondisi tersebut) membuat merokok seolah-olah adalah hal yang biasa dilakukan orang dewasa, dan memberi kenikmatan."

Hak atas foto AHMAD NAAFI
Image caption Ardi Rizal asal Sumatera Selatan, merokok sejak berusia 2,5 tahun.

Pada kasus NS, perkenalan awalnya dengan rokok dimulai sejak ayah atau kakeknya meminta NS, yang kala itu masih berusia tiga tahun, membeli rokok di warung. Setiap membawa rokok dari warung, kemasannya selalu sudah terbuka.

"Itu nggak tahu apa dirokok (sama dia) atau rokoknya dipotong-potong. Tetapi yang pasti jumlah rokoknya selalu berkurang, " ungkap M.

Meskipun begitu, si ibu mengaku ia tidak pernah melihat anaknya merokok. Ketika ayah dan kakeknya merokok, NS "sama sekali tidak pernah ikutan merokok."

Hak atas foto AFP
Image caption NS pun kerap memungut puntung rokok dan menghisapnya.

Ketika kebiasaan merokoknya semakin 'menjadi-jadi' keluarga ini pun kewalahan menghentikan anaknya. "NS mengangis kalau dilarang merokok". NS pun mulai mencari tegesan atau puntung rokok di asbak untuk dihisap.

"Bahkan, jika ada orang yang datang ke rumahnya, NS selalu meminta rokok."

'Kapok'

Tapi saat ini kondisinya sudah berbeda. NS sudah mulai sembuh. Menurut Ibunya, Ia sudah tidak lagi merokok. Pun saat diminta ayah atau kakeknya membeli rokok, kemasannya selalu tertutup. "Kalau sekarang sudah nggak berani membuka bungkus rokoknya, " kata dia.

Namun, Lisda Sundari menegaskan 'model perokok', yang dalam kasus NS adalah ayah dan kakeknya, harus benar-benar menjauhkan kebiasaan merokok dan hal-hal terkait rokok dari NS agar benar-benar bisa keluar dari kebiasaan rokok.

Keluarga mengklaim hal itu telah dilakukan. Jika ayah atau kakeknya merokok, mereka memilih untuk tidak melaksanakan aktivitas itu di dalam rumah. "Ayahnya mulai mengurangi rokok juga, " tutur M.

Hak atas foto Facebook
Image caption Seorang bayi yang 'dicekoki' rokok, yang sempat ramai dibicarakan.

NS sendiri sebetulnya pernah dirawat di rumah sakit ketika umur delapan bulan karena muntaber parah. M bercerita, anaknya itu bahkan "divonis meninggal dunia". Hanya saja satu jam kemudian, NS diketahui bernafas. "Kalau orang Jawa biasanya menyebut nyowo balen (nyawa kembali). Makanya anak nyowo balen biasanya kandane angel (sulit diperingatkan). Apa yang diinginkan harus dipenuhi jika tidak, menangis," pungkasnya.

Berita terkait