Mengapa peran gay di Beauty and the Beast jadi kontroversi?

Gaston LeFou Hak atas foto Disney/Twitter

Film Beauty and the Beast yang mulai tayang di bioskop Indonesia, Jumat (17/03) ini menyulut kontroversi. Pasalnya film dengan pemeran utama Emma Watson tersebut menampilkan peran kecil seorang lelaki homoseksual atau gay.

Sutradara Bill Condon sebelumnya mengungkapkan ada 'momen gay' antara tokoh antagonis Gaston, dan temannya, LeFou. "LeFou ini adalah orang yang kadang iri dan ingin menjadi seperti Gaston yang kuat, tetapi kadang dia ingin mencium Gaston. Dia bingung dengan perasaannya."

Kepada BBC Indonesia, komisioner Lembaga Sensor Film (LSF), Rommy Fibri, menegaskan Beauty and the Beast yang diklaim Disney sebagai film pertama dengan karakter dan menampilkan adegan bernuansa gay, telah 'lulus sensor.' "Artinya tidak ada yang disensor, direvisi atau dikaburkan (saat penayangan)," jelasnya.

Rencana penayangan ini mendapat perhatian sejumlah orang tua di beberapa group diskusi WhatsApp.

Hak atas foto WhatsApp
Image caption BBC Indonesia telah mendapatkan izin untuk menampilkan pembicaraan ini dengan syarat identitas dihapus.

Sementara di Twitter, akun @hayuningratri mencuitkan kebingungannya dengan simpang siur itu.

Hak atas foto Twitter

Akun @angelinanoah menuliskan dengan setengah heran atas kontroversi itu, juga setengah bercanda.

Hak atas foto Twitter

Sutradara Bill Condon menyebut kontroversi terkait karakter gay, yang kemudian ramai dibicarakan di beberapa negara ini, 'sudah terlalu berlebihan.'

Malaysia tunda penayangan

Di Malaysia, film musikal tersebut ditunda penayangannya oleh jaringan bioskop TGV dan GSC.

Meskipun aktivitas homoseksual ilegal di Malaysia, Menteri Pariwisata Malaysia, Nazri Aziz menilai keputusan itu "lucu". "Mengapa dilarang tayang karena ada karakter gay? Banyak gay di dunia ini, dan saya rasa itu (penayangan film) tidak akan mempengaruhi orang untuk jadi gay."

Hak atas foto Disney
Image caption Film Beauty and the Beast yang dibintangi oleh Emma Watson, Dan Stevens dan Luke Evans ini akan menampilkan peran gay untuk pertama kalinya.

Suara beragam muncul dari netizen Malaysia. Syed Asyraf dengan akunnya @uzer26 mencuit, "Potong saja adegan gay di film Beauty and the Beast. Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga."

Di sisi berlawanan, akun @prasys menulis, "Ini sungguh bodoh. Beauty and the Beast ditunda penayangannya, sementara film bodoh tentang pemerkosaan dan korban yang diminta menikahi pelaku, ditayangkan."

Hak atas foto Twitter

'Hanya sosok peran'

Perdebatan terkait film berdurasi lebih dua jam ini tidak hanya terjadi di Indonesia dan Malaysia. Di Rusia, seorang anggota dewan menyampaikan petisi kepada Menteri Kebudayaan Vladimir Medinsky untuk melarang penayangan Beauty and the Beast. Namun, kementerian telah mengizinkan penayangan film itu dengan rating 16 tahun ke atas.

Peraturan di Rusia melarang penyebaran "propaganda gay" kepada anak-anak.

Hak atas foto Twitter

Perdebatan juga ramai terjadi di Singapura bahkan Amerika Serikat sendiri.

LSF Indonesia menegaskan tidak menyensor film tersebut karena yang ditampilkan bukan adegan seks, "Tapi itu kan karakter LGBT (saja). Beda lah penilaiannya."

Image caption Saat wawancara majalah Attitude, sutradara Bill Condon yakin peran LeFou ini merupakan terobosan baru saat mengangkat kisah LGBT ke layar lebar.

Komisioner LSF Rommy Fibri menyatakan, "secara faktual kan faktanya begitu (orang gay ada)... Film ini hanya menggambarkan ada situasi itu di masyarakat."

Meskipun begitu, karena ramai diperbincangkan terkait karakter gay, film itu kembali melewati proses pleno LSF pada Kamis (09/03). Hasilnya, tetap saja lulus.

Hak atas foto Disney
Image caption Beauty and the Beast adalah adaptasi dari film kartun berjudul sama yang diputar di bioskop tahun 1991.

Meninaputri Wismurti, pekerja di industri film yang pernah menjadi direktur di Q! Film Festival mengungkapkan "selalu ada sisi positif dalam menampilkan isu keberagaman di sebuah film atau karya seni lainnya."

"Semakin banyak media, baik tulis, audio ataupun visual yang memaparkan hal-hal yang beragam di sekitar kita akan membantu masyarakat kita untuk tidak 'kaget' melihat perbedaan dan menghadapinya sebagai bagian yang memperkaya kehidupan kita."

Topik terkait

Berita terkait