Tersangka pornografi anak di grup Facebook 'amatiran', mengapa?

pelaku Hak atas foto Polda Metro Jaya

Polda Metro Jaya telah menetapkan empat administrator grup Facebook private 'Official Candy's Groups', yang memuat video dan foto porno anak, sebagai tersangka.

Seorang ahli forensik digital menilai keempat pelaku masih 'sangat amatir'.

"Tahun-tahun terakhir, yang membuat (grup seperti ini di Facebook) berkurang. Meskipun private, privasinya tidak terlalu tinggi," ungkap ahli digital forensik Rubby Alamsyah kepada BBC Indonesia, Kamis (16/03).

Ruby menilai asalkan memenuhi syarat administrator, siapapun bisa masuk menjadi anggota grup tersebut di Facebook, dan kemudian melapor ke polisi.

"Bagi yang lebih ahli, mereka memakai teknik lain, misalnya The Onion Router (TOR) dan Deep Web. Ini jauh lebih tertutup, harus pakai teknis khusus untuk bisa menembus ke situ. Jadi yang kasus Official Candy's Groups, orang-orangnya jauh lebih amatir."

Hak atas foto Facebook

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Wahyu Hadiningrat, Rabu (15/03), mengungkapkan grup Facebook yang dibuat sejak September 2016 tersebut menyaratkan, supaya tidak dikeluarkan, pengguna harus aktif mengunggah foto/video pencabulan anak-anak yang tidak boleh sama di setiap unggahan.

Mereka juga harus aktif mengomentari dan memberikan like.

Kombes Wahyu menyebut dari gadget keempat tersangka dan juga dari akun Facebook mereka, telah dikumpulkan "500 film dan 100 gambar pornografi anak". Jumlah total korbannya disebut bisa mencapai "ribuan anak", merunut grup Facebook ini sempat memiliki 7.479 anggota.

Hak atas foto POLDA METRO JAYA / SHUTTERSTOCK
Image caption Keempat tersangka kasus ini adalah W alias Snorlax (27), DS alias Illu Inaya (24), DF alias T-key (17) dan SHDT (16).

Pakar forensik Rubby Alamsyah yang kerap bekerja sama dengan Polda Metro Jaya mengungkapkan selain bertujuan untuk memuaskan nafsu, pelaku juga "berusaha mengambil keuntungan ekonomi".

"Setiap orang harus bayar US$15 dollar (Rp200.000) agar bisa masuk grup dan mengakses (konten)," tutur Rubby. Jika sempat ada lebih 7.000 anggota, admin grup ini diperkirakan telah mengantongi lebih Rp1,4 miliar.

Perbincangan 'cabul'

Sejumlah perbincangan pada grup Official Candy's Groups beredar di media sosial.

Salah satunya memperlihatkan seorang pengguna bertanya, 'bagaimana caranya agar bisa memiliki pacar seorang anak sekolah dasar'. Dari unggahan itu, sejumlah anggota grup memberikan komentar, "culik saja, baru pacarin", "...sering kasih cokelat".

Beberapa pengguna terkesan bangga memiliki pacar anak di bawah umur. "Pacar ane kelas 3 SD, ane umur 20." Ada juga yang menulis, selama empat tahun terakhir telah memiliki "sembilan pacar anak-anak perempuan".

Sementara, video dan foto pelecehan seksual pada anak yang diunggah di grup tersebut, sebagian "disebut dilakukan sendiri oleh anggota grup". "Empat orang tersangka sendiri, mereka menyontohkan foto dan video 12 anak, yang mereka lakukan (sendiri) pelecehan seksualnya," cerita Rubby Alamsyah.

Hak atas foto Kompas
Image caption Seto Mulyadi menilai kasus pelecehan seksual pada anak bagai "fenomena gunung es".

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi, yang dalam kasus ini diundang oleh Polda Metro Jaya sebagai salah satu pemerhati, mengklaim kasus pelecehan seksual pada anak sudah menjadi "fenomena gunung es".

"Kasusnya banyak sekali. Sering tidak terungkap karena banyak yang menilainya sebagai aib. Secara kasat mata (kasus pelecehan seksual pada anak) meningkat konsisten 70-100% setiap tahunnya."

Siapa yang diincar?

Kak Seto, sapaan akrab Seto Mulyadi menyebut pelaku pelecehan seksual pada anak yang menggunakan media sosial, biasanya "memalsukan nama dan identitasnya".

Mereka cenderung mengincar anak-anak yang banyak "mengunggah foto dirinya. Ini mudah jadi sasaran empuk predator. Lalu dibujuk, diajak bertemu dan melakukan perbuatan menyimpang."

Kasus Official Candy's Groups, menurutnya juga menjadi bukti bahwa korban biasanya adalah orang dekat pelaku. "Bahkan ada pelaku (berinisial DF alias T-key) yang korbannya adalah keponakannya sendiri. Ini betapa mudah tergiur."

DF yang berdomisili di Depok mengaku pernah mencabuli enam orang anak pada 2011. Dua di antaranya merupakan keponakannya, sementara sisanya adalah tetangganya yang berusia antara tiga hingga delapan tahun.

Seto juga menekankan, perhatian jangan hanya ditujukan kepada pelaku, tetapi juga harus diberikan kepada korban.

"Karena kalau tak segera dapat terapi, dia akan memendam terus dan berujung jadi penyimpangan. (Pelaku) yang berumur 17 tahun itu sendiri mengaku di depan Kapolda, bahwa dia juga pernah mendapatkan pelecehan seksual waktu anak-anak."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ilustrasi. Seto juga menekankan, perhatian jangan hanya ditujukan kepada pelaku, tetapi juga harus diberikan kepada korban.

Polda Metro Jaya mengungkapkan setidaknya sudah diketahui delapan orang anak yang menjadi korban dan akan ditangani oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Identifikasi terhadap korban lain di video dan foto yang ditemukan, terus dilakukan.

Berita terkait