Kamus Nyinyir 'Pilkada Jakarta' yang dipakai di media sosial

getty Hak atas foto AFP / Getty

Pilkada DKI Jakarta kali ini boleh jadi merupakan pemilihan kepala daerah yang paling memecah belah. Sejak pertengahan tahun lalu, media sosial dipenuhi berbagai opini politik yang membuat jengah, juga berbagai berita palsu dan hoax.

Sementara itu, berbagai hinaan, cacian, dan julukan kasar dilontarkan untuk dua kandidat yang akan bertarung pada 19 April nanti: Ahok-Djarot dan Anies-Sandi. Para pendukungnya juga tak ketinggalan kena getahnya.

Apa saja julukan-julukan itu? BBC Indonesia merangkumnya untuk membedah riuh Pilkada Jakarta di media sosial yang ternyata tak hanya menjengkelkan tapi juga kadang lucu dan satire.

Dan, jika ada satu hal yang bisa dipetik dari semua ini adalah bahwa manusia, kadang-kadang, bisa sangat kreatif untuk menghina sesamanya.

1. Si Mulut Jamban

Hak atas foto TWITTER
Image caption "Kalian semua suci, aku penuh dosa," kalimat populer dari bintang kontroversial Awkarin.

Si Mulut Jamban / si-mu-lut-jam-ban/ nomina /

Ada lebih dari 3.000 cuitan tentang 'si mulut jamban' di Twitter dalam tiga bulan terakhir, dan kita tahu kepada siapa kata ini mengacu.

"Sidang sudah memasuki ke sidang 14 tapi belum ada tanda-tanda si mulut jamban akan masuk hotel prodeo," kata akun @antonfathoni01 - yang tampaknya sangat, sangat rajin membahas soal kasus dugaan penistaan agama.

Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, memang dikenal dengan ucapan-ucapannya yang tanpa tedeng aling-aling dan dianggap kasar namun di sisi lain banyak dipuji atas upayanya memberantas korupsi dalam birokrasi.

Selain 'mulut jamban', dia juga sudah dicap sebagai 'penista agama' (bahkan sejak belum masuk proses hukum -dan sekarang pun masih belum ada vonis pengadilan). Bagi para pembenci (haters), dia juga dikenal sebagai a-hoax dan 'celengan babi,' serta sering diacu dengan nama Cinanya, Zhong Wan Xie.

Bagaimana internet meresponsnya? "Kalian semua suci, aku penuh dosa," begitu meme yang tersebar di internet mengutip kalimat yang dipopulerkan seleb kontroversial Awkarin.

2. Motivator

Hak atas foto kumeme.com
Image caption Salah satu meme di internet yang bermaksud untuk humor saja. Anies Baswedan atau... Anies Bawa Sedan?

Motivator / mo-ti-va-tor / nomina /

"Tamat sudah karir Mario Teguh, digantikan oleh Anies Baswedan. Motivator yang hebat," kata satu pengguna Facebook.

Kalimatnya tampak memuji tapi sebetulnya tidak, karena sebutan ini sebetulnya ingin mengritik Anies Baswedan yang dianggap hanya pintar berkata-kata, tapi minim eksekusi.

Mantan menteri pendidikan itu juga dikritik karena pernyataannya yang berubah-ubah, misalnya tentang pandangannya terhadap Prabowo Subianto (rival Jokowi pada pilpres 2014 yang kini mendukungnya menjadi calon gubernur).

3. Kaum kafirun dan munafikun

Diambil dari istilah agama. Berasal dari kata kafir (ka-fir / nomina) dan munafik (mu-na-fik / adjektiva), tetapi mungkin agar lebih seru keduanya ditambahkan akhiran -un dan dikelompokkan sebagai 'kaum.'

dalam konteks pemilihan gubernur Jakarta ini, kaum kafirun digunakan untuk menyebut non-Muslim, sementara kaum munafikun adalah umat Muslim yang memilih Ahok dalam pilkada Jakarta.

"Yang makin aneh malah ada yang mengaku Muslim tapi malah di kubu penista agama yang dia anut, kaum munafikun dan kafirun. Heuheu.." kata akun @mudawahyu.

Sebutan ini terus dipakai dalam berbagai konteks misalnya dalam kontroversi unggahan Inul Daratista tentang Ahok, hingga masalah penolakan mensalatkan jenazah umat Islam pemilih Ahok - sebuah insiden yang menurut Dewan Masjid Indonesia tidak sesuai ajaran Islam dan terlalu mempolitisasi masjid.

Hak atas foto TWITTER

4. Kaum Bumi datar

Anda masih ingat dengan teori Bumi datar yang sempat ramai beberapa bulan lalu? Walau namanya diambil dari situ, sebutan Kaum Bumi Datar bukan diperuntukan untuk anggota komunitas Flat Earth Society yang tersebar di berbagai negara di dunia.

Dalam konteks pilkada, frasa ini lebih banyak digunakan netizen untuk merujuk pada kalangan fanatik agama yang dianggap 'bersumbu pendek' alias mudah marah dan mudah dimanfaatkan oleh kepentingan politik tertentu (tetapi kalau dikritik atau diberi masukan akan lebih marah-marah lagi).

Hak atas foto TWITTER

5. Kelas menengah ngehe

Hak atas foto TWITTER
Image caption Plesetan aksi 313: Aksi solidaritas bela fans Coldplay Indonesia yang tidak kebagian tiket.

/ ngehe / nge-he / adjektiva / belum ada dalam KBBI

Sebutan 'kelas menengah ngehe' biasanya merujuk pada warga berpenghasilan sedang yang banyak maunya dan banyak tuntutan.

Ciri-cirinya mudah ditemukan, misalnya selalu mengeluh tentang kemacetan Jakarta padahal dirinya sendiri mengendarai mobil pribadi yang jadi sumber kemacetan; beli produk Starbucks (cuma) kalau sedang promo saja; bahasanya suka campur-campur Indonesia-Inggris agar terlihat keren; suka pindah-pindah aplikasi transpor online tergantung diskon paling murah; dan sibuk berburu tiket Coldplay saat orang-orang ramai bicara politik.

Dalam konteks pilkada Jakarta, frasa ini juga banyak digunakan untuk menyebut warga yang mengelu-elukan pembangunan kota tetapi apatis dengan masalah kaum marjinal, misalnya isu penggusuran atau reklamasi.

6. Cebongers

Hak atas foto AFP
Image caption Jokowi gemar memelihara kodok sejak menjabat sebagai walikota Solo.

Kecebong / ke-ce-bong / nomina /

Cebongers banyak digunakan pada Pilpres 2014 lalu untuk menyebut pendukung Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Kata ini diambil dari istilah kecebong yang artinya adalah larva binatang amfibi (seperti misalnya kodok) yang hidup di air dan bernapas dengan insang serta berekor.

Sebutan ini mungkin muncul karena para haters terinspirasi oleh fakta bahwa Joko Widodo gemar memelihara kodok ketika menjadi walikota Solo dan gubernur Jakarta.

Karena itulah segelintir orang bahkan menyebut Jokowi sebagai 'raja kodok' - berdampingan dengan sebutan cebongers (pengikutnya). Pemimpin FPI, Rizieq Shihab sempat meledek dengan sebutan 'Jokodok.'

Tapi, Anda harus hati-hati menggunakan istilah 'raja kodok' karena baru-baru ini pengguna Facebook bernama Indrisantika Kurniasari menuai kontroversi karena menuliskan kata-kata yang dianggap menyinggung Presiden Jokowi serta adat Maluku.

Dalam konteks pilkada Jakarta, sejumlah haters menganggap bahwa cebongers kadang bersekutu dengan Ahokers. Konteksnya misalnya seperti ini:

"Dasar Ahoker & Cebongers, gayanya pada sotoy. Kalau kalian non muslim ngapain ngaku-ngaku muslim. Pas ditanya salat jawabnya salat dalam hati juga bisa," kata @HambaliIpang di Twitter.

7. Bani taplak dan bani serbet

Hak atas foto AFP / Getty

Bani / ba-ni / nomina

Kata ini berarti anak; anak cucu; keturunan: -- Adam, seluruh umat manusia. Bani taplak dan bani serbet merujuk para pendukung Ahok (juga dikenal sebagai sebutan Ahokers) yang mungkin berarti 'kaum serbet atau taplak.'

Bagaimana para haters mendapat ide julukan ini? Kemungkinan dari kemeja kotak-kotak yang menjadi ciri khas Ahok-Djarot.

Sebutan lain yang kurang sopan adalah jambaners - pengikut si mulut jamban.

Hak atas foto TWITTER

Berita terkait