Pernyataan Aa Gym soal 'Ganyang Cina' tuai kontroversi

AFP Hak atas foto AFP
Image caption Foto arsip pada 2008, menunjukan sejumlah pendukung Rizieq Shihab bentrok dengan polisi setelah siang di Jakarta. Pimpinan FPI itu divonis 18 bulan penjara karena terbukti menghasut kekerasan.

Pernyataan Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym bahwa umat Islam tidak pernah mengatakan 'Ganyang Cina' menuai keriuhan di media sosial karena dianggap menyangkal realitas adanya kelompok Islam garis keras - yang kerap memicu kekerasan.

Kicauan Aa Gym yang diunggah Senin (10/04) merupakan respons atas video kampanye Ahok-Djarot yang menampilkan sejumlah orang berpeci dan bersorban berujuk rasa dengan latar belakang spanduk bertuliskan 'Ganyang Cina'.

"Tak pernah kami mengatakan ganyang Cina, sekalipun berjuta umat Islam berkumpul, bahkan kami menghormati... Mengapa membuat video fitnah ini?" katanya.

Video kampanye Ahok-Djarot yang diklaim mempromosikan keberagaman itu dilaporkan oleh sejumlah advokat kemarin karena dianggap menyudutkan umat Islam. Walau tim sukses Ahok-Djarot mengatakan bahwa penggambaran itu adalah sesuai dengan realitas yang terjadi.

Hak atas foto TWITTER

Kicauan Aa Gym langsung mendapat berbagai tanggapan dan dibagikan lebih dari 4.000 kali. Sejumlah orang kemudian menunjukan rekaman video dan gambar yang menunjukan spanduk-spanduk anti-Cina dan teriakan-teriakan provokatif.

Tokoh muda NU, Nusron Wahid misalnya mengunggah berbagai video yang menunjukan sejumlah orang menggunakan kaus 'aksi 4 November' sedang menggelar spanduk bertulis 'Ganyang Cina, Penjarakan Ahok.'

"Ini fakta atau utopi? Kalau fakta jangan marah dong. Ketahuan berbuat, (lalu) ditunjukkan kok marah," tanya Nusron.

Dengan mengubah satu syair paling terkenal dari Aa Gym, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Amerika Serikat, Akhmad Sahal mencuit, "jagalah hati @aagym, jangan kau nodai dengan memfitnah bahwa orang lain telah memfitnah."

Hak atas foto TWITTER
Image caption Aksi 4 November 2016 disertai juga dengan tulisan-tulisan provokatif seperti 'Gantung Ahok di Sini'.

Beberapa orang juga mempertanyakan sikap Aa Gym yang cenderung diam ketika ada peristiwa-peristiwa intoleran terjadi. Misalnya ketika ada spanduk penolakan pensalatan jenazah bagi umat Islam yang mendukung Basuki Tjahaja Purnama dalam pilkada Jakarta.

"Kalau kayak begini, kira-kira Aa berani minta maaf enggak ya?" tanya yang lain.

Ini bukan pertama kalinya Aa Gym menuai kontroversi. Februari lalu, dia juga dikecam oleh media sosial karena ikut menyebar hoax menjelang pilkada.

Dalam sebuah cuitan, dia mengunggah gambar jari-jari palsu dan memperingatkan tentang potensi kecurangan, "tak ada salahnya semua pihak berhati hati, siapa tau ada yang kalap saking ingin menang, menghalalkan segala cara."

Foto tersebut nyatanya adalah jari prostetik di Jepang, yang menurut wartawan lepas di Akiko Fujita dalam situsnya, dibuat untuk bekas anggota Yakuza yang kehilangan jarinya.

Hak atas foto TWITTER

Kelompok Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) melaporkan video keberagaman Ahok-Djarot ke Bawaslu, Senin (10/04) karena video ini dianggap menyalahi aturan kampanye - yaitu mengandung penghinaan terhadap agama, suku atau ras.

Anggota ACTA, Novel Bamukmin mengatakan, "Ide (keberagaman) itu bagus, tetapi kan bisa tanpa gambar itu. Cuma karena ini permasalahan detik ke-08 sampai 13, itu jelas menyerang Islam," sambungnya.

Eva Sundari, bagian dari tim sukses Ahok Djarot, mengatakan video itu menggambarkan "realitas-realitas yang divisualkan" dan "Ahok serta pendukungnya adalah korban politisasi SARA."

"Intimidasi dan kekerasan itu realitas," katanya. "Situasi lapangan selama Pilkada merupakan pengalaman pahit bagi kita, bagaimana Jakarta tersobek isu SARA. Politisasi agama jelas membahayakan kita semua."

Berita terkait