Alasan orang-orang Inggris cinta gamelan: 'Membuat orang lebih dekat'

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Jonathan Roberts, warga Inggris yang tinggal di Oxford, membawakan tembang tentang cinta.

Sejumlah warga Inggris yang tergabung dalam satu kelompok gamelan mengungkapkan alasan mengapa mereka sangat menikmati instrumen musik Indonesia ini, yang antara lain 'membuat orang lebih dekat dan seperti keluarga'.

Di sela-sela Facebook Live BBC Indonesia, 'Klenengan di Southbank Centre, London', anggota kelompok yang mereka namakan Siswa Sukra mengatakan musik Jawa ini memberikan perasaan tenang, membawa kebersamaan, dan rasa kekeluargaan.

Pada umumnya mereka mulai mengenal gamelan di Inggris dan melanjutkan di Solo, Jawa Tengah, serta melanjutkan sampai sekarang.

Dari lebih dari 1.500 komentar dan salam dalam Facebook Live, sebagian besar menyatakan penghargaan kepada para pemain gamelan ini termasuk Riendra Ayu Armadani yang kerja di Hong Kong dan menulis, "Kagum banget ada orang barat aja gemari budoyo Jowo."

Image caption Grup gamelan di Inggris 'klenengan' untuk pemirsa BBC Indonesia.

Di Bali, Suwintari Putu menulis, "Salam semua utk (untuk) smua mbak dan mas yg semangat latihan gamelan di Inggris saya kagum sekali melihatnya," sementara Riri Loretha mengatakan,"Wah wah wah ... gimana anak-anak muda Indonesia??? Yuk mari lebih suka budaya kita Indonesia ... masak lebih jago anak-anak luar."

Inilah cerita dari sebagian anggota grup gamelan yang mereka namakan Siswa Sukra.

Sophie Ransby, manajer gamelan, Southbank Centre

Image caption Manajer gamalen di Southbank Centre, Sophie Ransby.

"Saya mulai main gamelan saat saya usia 12 tahun... Saya masuk ruang gamelan dan langsung jatuh cinta, sebelum dengar suara gamelan. Instrumennya keliatan indah dan saya langsung mau pegang dan setelah semakin senang. Waktu main gamelan dengan kelompok terasa bersama komunitas (kebersamaan).

Suara gamelan beda dengan orkestra barat, sangat harmonis dan indah. Tak harus latihan lama untuk dapat suara bagus sekali.

Banyak kelompok gamelan (di Inggris), mulai anak sekolah tertarik dan begitu dewasa (mereka mengikuti) kelompok gamelan, dan mereka tertarik dengan kebudayaan Indonesia ini dan bisa melihat (elemen lain seperti) tarian Jawa, dalang."

Ada sekitar 150 kelompok gamelan dan banyak tempat yang punya instrumen gamelan termasuk di Southbank Centre."

Jonathan Roberts, gelar doktor tentang karawitan

Image caption Jonathan Roberts mengambil gelar doktor dengan penelitian soal karawitan.

"Saya sudah main gamelan 21 tahun, saya senang main gamelan karena musik yang membuat sekelompok orang menjadi komunitas... Gamelan membuat orang lebih dekat dan seperti keluarga.

"Selama hidup saya akan main gamelan ... kalau saya main gamelan, rasanya macam-macam tergantung gendingnya, ada yang bisa merasa santai, ada yang membuat gembira, ada yang membuat sedih... Lebih dari setengah hidup saya main gamelan."

"PHD saya tentang tentang kelompok karawitan di Solo yang bukan profesional. Sudah ada beberapa buku tentang gamelan Jawa tapi semua meneliti yang profesional yang di Kraton atau ISI Joga, Solo, Bandung."

Sammy Brett, guru di London

Hak atas foto Alamy
Image caption Sammy Brett masih cinta gamelan setelah bermain 10 tahun.

"Saya sudah main gamelan dalam 10 tahun. (Pertama), saya belajar di universitas, tapi kemudian dapat beasiswa Dharmasiswa dan tinggal di Solo 2011-2013 dan terus belajar gamelan. Sampai 10 tahun ini, saya masih cinta gamelan, rindu kembali ke Solo.

"Saya coba latihan sering di sini tapi ya sulit ... di sini bisa dua kali seminggu."

"Gamelan membuat senang, santai (tenang). Sebelum saya ke Indonesia, saya stress di kerja karena capai hidup di sini. Saat saya latihan atau pentas gamelan, dapat buat saya senang dan santai, dan lupa stress."

Image caption Peter Smith, guru gamelan di Southbank Centre.

Dave McKenny, musisi

"Saya suka gamelan, karena elemen penting untuk hidupku, Saya main selama 13 tahun di London, di Solo, dan kota-kota Eropa ... teman-teman yang main gamelan menjadi komunitas yang dekat sekali.

"Pertama main di universitas di SOAS dan setelah itu main tiap minggu ... mudah-mudahan saya main gamelan sampai lama sekali."

Berita terkait