Tentang Ahok, Anies, dan Pilkada Jakarta yang dibumbui 'seribu hoax'

bbc Hak atas foto AFP

Dibayangi hoax, berita palsu, dan informasi menyesatkan, Jakarta akan menghadapi salah satu pemilihan yang paling memecah belah pada 19 April besok.

BBC Indonesia menoleh kembali pada mengapa para aktivis menganggap bahwa saat ini adalah 'era gelap' kehidupan digital di Indonesia dan bagaimana mereka mencoba mengubahnya.

"Kita mengubah narasi kampanye kita sekarang," kata Matarari Timoer, salah satu anggota ICT Watch.

"Dulu slogannya 'think before share' (pikir dulu sebelum menyebarkan), tapi sekarang kita mendorong orang-orang untuk ambil bagian. Do your part."

Dia membicarakan kampanye untuk melawan penyebaran hoax, yang dia percaya bisa meningkatkan risiko intoleransi agama di Indonesia. Ada kebutuhan yang genting "untuk membuat kaum mayoritas diam - silient majority - untuk berbicara di media sosial."

"Kehidupan digital kita telah memasuki dunia kegelapan, dan itulah mengapa kita butuh orang-orang untuk menjadi lentera dan memerangi kegelapan ini," jelasnya.

Hak atas foto ICT WATCH
Image caption Matahari Timoer in a documentary 'Lentera Maya' by ICT Watch as an effort to teach digital literacy in Indonesia.

Matahari Timoer paham bahwa penggambaran itu mungkin terlalu dramatis, tetapi sebagai mantan anggota kelompok Muslim radikal dia paham apa yang menjadi taruhannya.

Hoax dan berita bohong begitu mengkhawatirkan hingga Presiden Joko Widodo memberi perhatian khusus tahun lalu.

Ada lebih dari 40.000 situs yang mengklaim menjadi situs berita, tetapi kebanyakan tidak terdaftar, kata Dewan Pers yang akhirnya membuat sistem verifikasi media online untuk menyaring berita bohong.

Baru-baru ini, menteri komunikasi juga meminta Twitter dan Facebook melawan hoax dalam platform mereka, tetapi banyak orang berpendapat ini tidak cukup.

Matahari Timoer menggarisbawahi apa yang disebut 'dark social media': grup-grup WhatsApp dan Telegram yang lebih tertutup dan berpengaruh. "Itu lebih berbahaya karena orang-orang di dalam grup terikat dengan satu kesamaan dibandingkan Facebook atau Twitter yang lebih terbuka."

Ada lebih dari 1.900 laporan dugaan hoax dalam tiga bulan terakhir, kata Khairul Ashar, salah satu pendiri Turn Back Hoax - sebuah inisiatif digital yang memungkinkan pengguna melaporkan dan mengungkap hoax yang beredar di media sosial.

"Ada lebih dari seribu laporan yang terkonfirmasi bahwa itu hoax. Kebanyakan tentang politik, terkait Pilkada Jakarta. Dan isu agama berperan besar."

Hak atas foto Agus Suparto

Kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi misalnya menunjukan bagaimana fakta diputarbalikan. Foto Ahok yang sedang berjabat tangan dengan Raja Salman disebut palsu. Padahal itu dipotret langsung oleh fotografer kepresidenan dan tersebar luas di media sosial ketika Raja Saudi itu tiba di Jakarta awal Maret lalu.

Foto itu memang dianggap pencitraan yang bagus bagi Ahok yang sedang dilanda kasus dugaan penistaan agama.

Tapi berbagai teori bermunculan. "Ini hoax karena haram bagi raja untuk bersalaman dengan penista agama," kata satu pengguna Facebook. Lainnya mengunggah analisis panjang dan 'beberapa fakta' tentang mengapa foto itu palsu.

Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo meresmikan masjid raya pertama milik pemda di Jakarta, tetapi beberapa orang berpendapat itu tampak seperti salib - menuduh Ahok melakukan Kristenisasi.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Jakarta bersyariah? Anies tegas-tegas membantahnya.

Lawan Ahok tercoreng dengan hoax juga dan mereka sampai meluncurkan situs anti-hoax untuk melawannya, disebut fitnahlagi.com.

Jakarta bersyariah jika Anies Baswedan menang? Tentu! Jika Anda yakin dengan fakta-fakta alternatif alias kabar palsu di internet.

Juga ada poster-poster rekaan yang tersebar yang mengatakan bahwa "jika Anies Baswedan kalah pemilu, akan ada Revolusi Islam" dengan gambar provokatif pria dengan pakaian putih memegang pedang.

Tapi lucunya, hal yang memang sengaja dipalsukan malah dielu-elukan sebagai fakta. Foto di bawah ini, yang diunggah oleh seniman Photoshop Agan Harahap dibilang sebagai peristiwa nyata oleh sebagian pemuja Rizieq Shibab, pemimpin Front Pembela Islam, di dunia maya.

Hak atas foto Instagram
Image caption Agan Harahap senoman Photoshop gemar mengedit foto-foto selebriti dan tokoh nasional terkait isu-isu hangat.

Satu unggahan dengan ratusan share tertulis, "pertemuan ini dirahasiakan [...] diambil oleh Hamba Allah yang ikut dalam rombongan."

"Fanatik sih boleh saja, tapi logika harus tetap dipakai ya," kata Agan mengingatkan pengikutnya di media sosial.

Bagaimana efeknya?

Matahari Timoer mengatakan berbagai berita bohong bisa mempengaruhi pemilih yang emosional.

"(Mereka) boleh jadi akan mempertahankan pilihannya berdasarkan sebaran kabar yang mengandalkan isu agama dan suku. Dalam kelompok ini, biasanya mereka tak terlalu mementingkan apa program kandidat, tetapi lebih pada siapa kandidatnya," jelasnya.

Tapi secara umum, dia berharap efeknya akan minim mengingat semakin banyak orang yang sadar akan penyebaran hoax.

Khairul Anshar punya berpendapat lain soal efek hoax. Dia percaya ada yang lebih berbahaya - yang melampaui riuhnya pilkada ibu kota.

"Ada kelompok-kelompok yang ingin mengubah dasar negara Indonesia, dan mengatasnamakan kebebasan berpendapat mereka menggunakan media sosial untuk menambah pengikut. Ini pisau bermata dua dalam demokrasi," katanya.

Berita terkait