Mobil berisi nenek dan cucu diberondong polisi, seorang petugas diperiksa

tribun Hak atas foto TribunSumsel/ Eko Hepronis

Insiden penembakan bertubi-tubi terhadap sebuah mobil berisi keluarga, dua di antaranya anak-anak, dikecam oleh berbagai pihak, sementara polisi berjanji akan menindak tegas petugas yang melakukannya.

Peristiwa itu terjadi di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Selasa (18/04) lalu, setelah sebuah mobil sedan menerobos razia kendaraan bermotor yang dilakukan polisi.

Seorang perempuan berusia 55 tahun bernama Surini tewas akibat penembakan itu, sementara empat anaknya dan satu cucu berusia tiga tahun mengalami luka tembak.

Dalam sejumlah laporan, polisi menyebut bahwa mobil itu terus melaju saat dihentikan polisi dan hampir menabrak sejumlah petugas. dalam pengejaran, polisi mengaku mengeluarkan tembakan peringatan sebelum akhirnya terjadi insiden itu.

Insiden ini menuai amarah warga kota, kata mitra BBC Joko Suryono dari Radio Papeja FM. "(Pembicaraan) sangat ramai. Bahkan ada demonstrasi ke kepolisian menuntut kapolres mundur."

Hak atas foto SONNY TUMBELAKA/AFP/Getty Images
Image caption Menurut polisi, mobil melarikan diri saat diminta berhenti dalam razia kendaraan bermotor.

Selain dianggap brutal, warga juga tidak terima dengan pernyataan kapolres yang awalnya berkilah bahwa korban hanya terkena pantulan peluru dari ban, lanjut Joko. "Padahal saksi mata melihat tembakan langsung ke arah kaca dan badan mobil bukan ke ban."

Di media sosial, sejumlah video yang memperlihatkan suasana evakuasi korban dibagikan ribuan kali. "Baru kali ini ada razia kendaraan, terus ditembakin hanya karena menerobos," kata Mayang Jingga. Lainnya mengatakan, "pecat dan mengundurkan diri secara terhormat adalah kata yang pas."

'Kebrutalan aparat'

Sementara itu, Kapolres Lubuklinggau AKBP Hajat Mabrur Bujangga kepada BBC Indonesia menjelaskan seorang anggota polisi yang melakukan penembakan kini telah diperiksa atas dugaan pelanggaran prosedur.

Dalam razia gabungan, aparat kepolisian diperbolehkan menggunakan senjata api yang dibawanya. "Saat ini masih diperiksa dan bisa dikenakan sanksi yang terberat," katanya.

Dalam rilisnya, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menyatakan bahwa insiden itu adalah 'potret kebrutalan aparat Polridi lapangan.'

"Analisis kami tidak menunjukkan bahwa peristiwa dilatarbelakangi adanya kontak senjata dengan aparat Polri. Bahkan tidak ada seorang pun di antara penumpang kendaraan yang diketahui membawa senjata api atau merupakan tersangka kejahatan yang menjadi target kepolisian," kata Yati Andriyani dari Kontras.

Mereka menyebut tindakan 'sewenang-wenang' aparat ini sudah beberapa kali terjadi. Salah satunya adalah pembakan enam terduga pelaku terorisme di Tuban.

Topik terkait

Berita terkait