Sri Mulyani jadi perempuan 'paling berpengaruh' dalam pemberitaan

epa Hak atas foto EPA

Sri Mulyani, Retno Marsudi, dan Susi Pudjiastuti adalah sejumlah pejabat publik perempuan yang dianggap paling berpengaruh dalam pemberitaan media.

Indonesia Indicator yang menganalisis 14 juta pemberitaan dari 1.525 media online satu tahun terakhir, menyebut bahwa Menteri Keuangan Sri Mulyani adalah sosok perempuan yang paling banyak dikutip media dengan jumlah 99.218 kali.

Diikuti oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sosial Khofifah, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, serta Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

"(Mereka) dapat dikatakan pihak yang berpengaruh karena penyataannya disebarluaskan oleh media, dan berpotensi membentuk opini publik," kata mereka dalam hasil risetnya.

Sri Mulyani ditugaskan menjadi Menteri Keuangan Juli lalu, dan sejak itu berjanji untuk memburu mereka yang mencoba menghindari pajak setelah program amnesti pajak berakhir.

"Saya akan mengejar Anda ke mana pun Anda akan pergi dan menyembunyikan aset Anda karena para wajib pajak tidak boleh menghindari dan menyembunyikan pendapatan dan aset mereka dengan mudah dan aman di negara surga pajak tanpa mendapatkan akibat apapun," tegasnya dalam wawancara khusus bersama BBC.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini menggeser Susi Pudjiastuti yang mendapat posisi paling berpengaruh ini tahun lalu.

Hak atas foto Ulet Ifansasti/Getty Images
Image caption Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti banyak disebut sebagai salah satu menteri yang memiliki kinerja baik.

Hanya tujuh persen

Walau begitu, kontribusi narasumber perempuan dalam pemberitaan amat minim dibanding laki-laki.

Dari berbagai nama yang dikutip media (sekitar 2500), hanya ada 165 nama perempuan. Ini artinya perempuan hanya menempati porsi sebanyak 7% dibandingkan figur pria.

"Dari 15 nama yang diberitakan media rata-rata hanya memunculkan satu nama perempuan. Ini hanya menunjukkan bahwa figur perempuan ini relatif jarang diberitakan media ketimbang laki-laki," ujar Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang.

Namun, menurutnya ini lebih baik dari tahun lalu di mana perbandingannya lebih besar yaitu 1:18 dan pada 2015 sekitar 1:20.

Hak atas foto Indonesia Indicator
Image caption Hanya 7%, narasumber perempuan dalam pemberitaan.

Kepala Bidang Perempuan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Indonesia, Hesti Murti kepada BBC Indonesia mengatakan bahwa ini adalah masalah yang masih dihadapi oleh media massa di Indonesia.

"Media tidak terlalu sensitif memandang bahwa suara perempuan itu penting dalam semua isu. Narasumber perempuan itu kan baru muncul kalau hari begini, Kartini. Tapi sebenarnya perempuan juga harus dimintai pendapatnya ketika membahas politik, ekonomi, pertahanan, dan lainnya," kata Hesti.

Ada sejumlah indikator yang menentukan apakah sebuah ruang redaksi memiliki sensitivitas terhadap gender, sambungnya. Misalnya seberapa besar porsi pemberitaan tentang perempuan.

"Dari semua aspek, misalnya politik, ekonomi, dan lainnya, kita didorong untuk melihat aspek dampak masalah itu ke perempuan seperti apa, karena dampak kebijakan pasti paling besar pasti ke perempuan atau ke anak-anak, tapi seringkali tidak terlalu diperhatikan dengan baik dalam mengambil kebijakan."

"Selain itu bisa dilihat apakah redaksi punya tidak daftar narasumber perempuan yang punya kapasitas. Apa lagi hari ini, jumlah perempuan berpendidikan S1 dibandingkan dengan laki-laki sudah hampir sama, di level lebih atas, dosen dan peneliti juga presentasinya sudah lebih baik," tambah Hesti.

Secara global, Indonesia menempati urutan ke 88 dalam laporan Global Gender Gap Index yang dikeluarkan oleh World Economic Forum, jauh di bawah Thailand (urutan 71), Singapura (urutan 55), dan Filipina (urutan 7).

Topik terkait

Berita terkait