Petik sakura sampai buang sampah, etiket di Jepang yang 'belum diketahui' turis Indonesia

Hak atas foto Vera Aprilianti
Image caption Tak mengobrol dengan suara keras di kereta.

Unggahan seorang warga Indonesia yang melihat turis tidak membersihkan meja dan meninggalkan sampah setelah makan saat berkunjung ke Tokyo menimbulkan perdebatan soal kebiasaan buruk yang bertentangan dengan etiket di Jepang.

Melalui akun media sosialnya, Tyas Palar mempertanyakan tentang kebiasaan turis itu dengan menulis, "Kenapa ya, banyak orang Indonesia, kelas menengah dan berduit sekali pun yang dalam harapan kita tentunya lebih terdidik dan tahu adat, susah tertib? Padahal tertib itu sesungguhnya memudahkan bagi diri kita sendiri dan juga semua orang."

"Bayangkan kalau ini terjadi pada kita, sedang kesulitan cari meja untuk makan, eeeeh semua meja kotor dan berantakan!" tambahnya pekan lalu.

Ratusan komentar soal kebiasaan buruk di Facebook termasuk dari akun Yarnedi Mulyadi yang menulis, "Tidak usah terlalu menjelekkan orang Indonesia... itu hanya kebiasaan yg (yang) mesti dirobah."

Galilei Sion yang mengatakan, "Maap maap Gue (Maaf saya) yakin orang yang ke Jepang pasti bukan orang kalangan bawah, pasti kalangan menengah ke atas, emang budaya kebiasaan orangnya aja yang jorok."

Hak atas foto Facebook Tyas Palar
Image caption Meja yang tidak dibersihkan setelah makan.

Seorang warga Jepang, Nana Watarai, yang tinggal di Tokyo mengatakan ada beberapa etiket di Jepang, termasuk membersihkan meja sendiri setelah makan di food court yang "belum diketahui" turis asing termasuk yang dari Indonesia.

"Hampir semua tempat untuk food court, meja dibersihkan sendiri dan orang asing mungkin tak tahu ... karena jumlah pelayan yang tak begitu banyak," kata Nana.

Inilah sejumlah kebiasaan lain yang menurut Nana juga belum banyak diketahui.

Ngobrol dengan suara keras di kereta

Kebiasaan orang Jepang, terutama di Tokyo, adalah diam saat berada di kereta, kata Nana.

"Ngobrol boleh tapi tak terlalu bising, handphone juga tak boleh dipakai, karena kalau ngobrol di telepon mengganggu orang lain," tambahnya mengacu pada pengalamannya mengantar teman asal Indonesia yang mendapatkan telepon melalui video saat di kereta.

Tidak memetik bunga sakura

Hak atas foto Vera Aprilianti
Image caption Bunga sakura tak boleh dipetik dari pohonnya.

Banyak turis yang berkunjung ke Jepang pada saat musim bunga sakura yang dimulai di sejumlah tempat di Jepang dari Maret sampai Mei.

Pada saat musim bunga sakura, rakyat Jepang biasanya menikmati dengan piknik di bawah pohon-pohon sakura, tradisi berabad-abad yang dinamakan hanami.

Seorang warga Indonesia yang tinggal di Tokyo, Vera Aprilianti, mengatakan pada saat musim sakura, "banyak turis indonesia beramai-ramai metik bunga sakura. Padahal tak boleh, kalau mau ambil, yang sudah jatuh."

Nana Watarai mengakui ada turis asing yang memetik bunga sakura berwarna putih dan merah muda ini.

"Memang bunga tak boleh dipetik dari pohon, walaupun ada juga orang Jepang yang ingin... Tapi banyak juga orang Indonesia yang belum tahu dan bertanya tentang etiket-etiket di Jepang ini," kata Nana.

Kursi prioritas untuk orang tua di kereta

Di kereta-kereta Jepang, terdapat kursi yang memang diprioritaskan untuk orang tua.

Nana bercerita biasanya dia bertanya terlebih dahulu apakah orang tua yang ada di dekatnya mau duduk.

Vera juga mengatakan hal senada karena orang usia lanjut di Jepang cenderung mandiri.

"Manula Jepang itu mandiri jadi biasa ke mana mana sendiri termasuk naik kereta, nah meski kereta penuh tapi banyak di antara mereka yang tak bakal mau dikasih tempat duduk sama kita, bisa tersinggung mereka karena dianggap sudah jompo dan gak kuat berdiri lama," cerita Vera.

"Mereka malah berpikir kami bahkan lebih kuat dari kalian anak muda. Jadi trik kalau mau kasih tempat duduk ke manula Jepang adalah dengan berdiri seakan akan mau turun di stasiun berikutnya. Bangku kosong yang kita tinggalkan itu biasanya akan diduduki sama manula tersebut," tambahnya.

Buka sepatu saat masuk rumah

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rumah tradisional Jepang dengan tikar tatami.

Satu kebiasaan lain yang menurut Nana belum banyak diketahui turis adalah untuk membuka sepatu atau alas kaki bila masuk ke rumah orang Jepang.

"Orang Jepang kalau di rumah, tak biasa pakai sepatu, jadi harus dibuka ... di sekolah juga begitu."

Sejumlah hotel juga memiliki kamar khas Jepang dengan tikar khusus, dan mewajibkan orang untuk buka sepatu.

"Di hotel dengan kamar ala Jepang, tamu kalau masuk kamar juga harus buka sepatu," kata Nana.

Data dari Badan Turis Jepang, Japan Tourism Agency, JNTO, seperti dikutip Nikkei, jumlah turis Indonesia meningkat lebih dari 32% pada 2016 dibandingkan tahun sebelumnya.

Dan angka tahun ini lebih tinggi lagi, dengan angka pada Januari dan Februari, untuk turis dan Indonesia dan Filipina naik 57% dan 40% menurut JNTO.

Berita terkait