Pujian untuk anak 11 tahun yang mengasuh adik sambil sekolah di Nias Selatan

sd di nias selatan Hak atas foto Indri Rosidah
Image caption Tetap semangat dengan segala keterbatasan, tulis guru SD di Nias Selatan, Indri Rosidah.

Anak-anak di Nias Selatan tetap semangat menuntut ilmu walaupun harus berjalan kaki jauh ke sekolah dan ada yang harus menjaga adik dan juga mengangkut kayu, kata seorang guru.

Seorang murid di SD Nias Selatan dalam dua minggu ini membawa adiknya ke sekolah karena orang tuanya bekerja di ladang karet, cerita Indri Rosidah, guru dalam Program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T).

"Sampai hari ini dia masih bawa adiknya setelah dalam dua minggu terakhir membawanya. Adiknya tenang karena diberi makan dan setelah itu tidur," kata Indri tentang salah seorang dari lebih 190 murid.

Bersama camat dan pejabat desa setempat, mereka mengunjungi rumah muridnya, Boisman Gori.

"Kami berjalan selama setengah jam... Saya sendiri ngos-ngosan mendaki gunung dengan jalan tanah liat," kata Indri kepada BBC Indonesia.

"Orang tua Boisman mengatakan kalau kami tidak ke ladang, bagaimana kami bisa mencari makan, dan bapaknya terkadang merantau," tambahnya.

Hak atas foto Indri Rosidah
Image caption Mengasuh adik sambil sekolah dari jam 8 pagi sampai 12 siang.

Indri mengatakan kondisi rumah keluarga Boisman 'lumayan' dibandingkan dengan rumah murid-murid lain dengan 'atap seng dan lantainya semen, tapi tetap merupakan keluarga tak mampu'.

Unggahan Indri tentang Boisman melalui akun Instagramnya banyak menuai pujian tentang anak berumur 11 tahun ini.

Kamu telah membuktikannya nogu

"Ini anakku yang bernama Boisman Gori... Dia sangat menyayangi adiknya, terlihat dari cara dia memperlakukannya. Sering sekali di sela-sela KBM, aku melihat Boisman memeluk dan mencium kepala adiknya dengan gemas," tulis Indri.

Hak atas foto Indri Rosidah
Image caption Masih inget ga pas kita sebesar anak ini (kls 2 SD)? Jangankan mengambil kayu di kepala seperti ini, disuruh beli korek api ke warung sebelah aja kadang susah, tulis Indri.

"Dengan jarak antara rumah dan sekolah yang bisa dibilang jauh dan mendaki gunung (jauh untuk saya pribadi dan dekat kata mereka), dia dengan sabar dan penuh keceriaan menggendong adiknya yg menggemaskan. Saya kira untuk seorang anak kelas 5 SD tak mampu melakukannya."

"Tapi kamu telah membuktikannya nogu (anakku)... para penerus bangsa yang masih semangat mengenyam pendidikan dengan segala keterbatasannya."

Indri mengatakan sebagian murid-murid SD lainnya berjalan ke sekolah sampai lebih dari satu jam dan 'tetap bersemangat tinggi'.

"Semoga kamu jadi anak pintar ya sayang terharu aq (aku) liat mu dek," tulis Diana_pungki_waruwu menanggapi unggahan Indri.

Sementara melalui halaman Facebook BBC Indonesia, akun atas nama Roos Lina menulis, "Ya ALLAH baru ini saya liht (lihat) kakak sehebat dia.. msih kecil tdk malu bw (tidak malu bawa) adiknya ke sekolah," dan Uti Maria mendoakan keberhasilan Boisman, "Smg (semoga) anak-anak ini sukses dan berjaya untuk menuntut ilmu amiin."

Kesadaran rendah di Morowali

Data dari Kemendikbud menunjukkan Program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) -program yang diterapkan sejak enam tahun lalu- periode 2016/2017 diikuti oleh 3.000 sarjana yang baru lulus, tersebar di 56 kabupaten.

Hak atas foto Novim Aivianita Hanifi
Image caption Novim Aivianita Hanifi dengan papan tulis darurat di Morowali.

Guru muda lain, Novim Aivianita Hanifi, yang ditempatkan di Morowali Utara, Sulawesi Tengah, mengatakan keterbatasan menuntut para guru untuk kreatif.

"Papan tulis darurat ini digunakan ketika kami mengadakan tambahan belajar (les) untuk anak2 didik kami di rumah. Karena keterbatasan fasilitas, sebagai seorang guru sm3t kami diharuskan berpikir sekreatip mungkin. Salah satunya adalah dengan membuat papan tulis darurat," cerita Novim.

Novim juga mengatakan listrik hanya menyala sekitar empat jam mulai pukul 18 di desa penempatannya.

Bila di Nias Selatan, anak-anak bersemangat tinggi, di desa Ueruru, Bungku Utara, Morowali, kesadaran menuntut ilmu sangat kurang.

"Kesadaran akan pendidikan sangat kurang. Rata-rata di penempatan saya ini, mereka hanya lulusan SMP. Tingkat pengangguran tinggi. Anak mudanya hobi beradu ayam, pakai pil, dan miras," cerita Novim.

"Untuk anak didiknya, minat sekolah masih rendah. Karena kurangnya motivasi dan dukungan dari keluarga serta lingkungan, khususnya org tua, sehingga, mereka selalu menganggap sulit semua materi pelajaran, sering pesimis duluan, lantas malas mendengarkan penjelasan dari guru," tambahnya.

Inilah sejumlah komentar tentang Bosiman yang masuk di Facebook BBC Indonesia:

Imam Solihin: Maaf dik, aku mengaku kalah dengan kebesaran tekadmu. Semoga kelak adik bisa jadi orang besar dan hebat. Sehingga dengan cara itu adik bisa mengangkat orang-orang yang tidak mampu, adik bisa membahagiakan orang tua dan keluarga.

Nuri Nere: Sungguh besar jiwa dik .....aq (aku) salut denganmu ......mudah2an tuhan memberikan yg (yang) terbaik untuk keluargamu.

Novida Wanty Panggabean Mulia sekali hatimu adik sayang... semoga menjadi orang pintar dan sukses nanti setelah dewasa.. Tuhan memberkatimu... Amiiiiiin.

Apriliana Nenny: Calon ayah luar biasa di masa depan.

Serdaman Mendrofa: Niat dan tekatmu akan membawamu dalam kesuksesan kelak,

Nanna Zuanna: Ya allah trenyuh q (aku) ke ingat waktu dlu sm spt (dulu sama seperti) adik ini waktu ngaji bw (bawa) adek waktu yasinan rutin tiap Jumat.

Vérité Vérité Ya Allah.... mengingatkanku pd (pada) abangku, dulu saat umurku msh 3 thnan aku jg (juga) di mong abangku sambil sekolah,

Marlia AT Murid yg (yang) penuh semangat, guru yg (yang) sangat pengertian. Tiada batas utk pendidikan.

Suwanti Suwanti: Kalian akan menjadi anak2 yang berguna bagi keluraga,sesama dan negara.

Siti Asih Trihastuti Wow...mulia sekali.

Berita terkait