Brownies: Seekor anjing yang disiksa dan dimutilasi -entah oleh siapa

Garda Satwa Indonesia Hak atas foto Garda Satwa Indonesia
Image caption Brownies sebelum dibawa ke Jakarta.

PERINGATAN: FOTO DAN DESKRIPSI DALAM LAPORAN INI BERISI GAMBARAN YANG MENGGANGGU.

BBC

Seekor anak anjing kehilangan dua kaki depannya diduga karena ulah manusia: sebuah kasus yang mengangkat kembali berbagai perilaku kekerasan terhadap satwa yang semakin marak beberapa tahun terakhir.

Akhir April lalu, anak anjing berbulu cokelat ditemukan di sebuah lingkungan pabrik di Bangka Belitung dengan kondisi yang mengenaskan dengan dua kaki depannya terpotong.

Brownies, begitu dia dipanggil kemudian, diselamatkan oleh seorang pecinta binatang yang bersama organisasi penyelamat satwa berupaya membawanya ke Jakarta untuk perawatan lebih lanjut.

"Kalau kata dokter dari bentuk lukanya ini murni dipotong kakinya," kata Anisa Ratna, Sekretaris Garda Satwa Indonesia.

"Dia ditemukan di pot kembang, karyawan pabrik bilang kakinya sudah tidak ada. Ditemukan dalam keadaan tiduran, mulutnya menganga karena rahangnya geser, bahunya mengalami dislokasi, dan dehidrasi. Tampaknya diinjak juga oleh pelakunya," papar Anita.

Facebook ungggahan Garda Satwa Indonesia tentang nasib Brownies menuai berbagai simpati dan juga amarah. "Sadis tak kepalang pelakunya," kata satu pengguna. "Tidak seharusnya manusia melakukan hal sekeji itu," kata yang lain.

Kekerasan terhadap binatang, baik hewan peliharaan atau satwa langka, semakin marak dan mengkhawatirkan, kata para aktivis. Berbagai laporan, misalnya, menyebut adanya kasus kucing ditembak atau diinjak mati dengan sengaja.

Februari lalu, tindakan sejumlah mahasiswa memotong putus leher ayam dalam sebuah unjuk rasa dikecam karena dianggap mempertontonkan sadisme.

Pada bulan yang sama, tiga karyawan perkebunan sawit di Kalimantan ditetapkan sebagai tersangka karena membunuh, memutilasi, memasak dan menyantap seekor orang utan - aktivitas yang kemudian mereka unggah di media sosial dan menimbulkan kontroversi.

Hak atas foto Garda Satwa Indonesia
Image caption Brownies harus menjalani dua operasi lain untuk benar-benar pulih.
Hak atas foto Garda Satwa Indonesia

Anita mengatakan butuh waktu lama bagi Brownies untuk pulih. "Setelah diamputasi, darahnya harus dinormalkan kembali untuk operasi rahang, setelah itu operasi bahu karena bahunya copot. Mungkin tiga bulan baru kita pesankan kaki palsu."

Salah satu penyebab munculnya banyak kasus penyiksaan terhadap binatang, menurut Anita, adalah ketentuan hukum yang masih sangat ringan.

KUHP pasal 302 menyebut bahwa sengaja menyakiti atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya bisa diancam dengan pidana ringan, yaitu penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak Rp4.500.

Sementara jika perbuatan itu mengakibatkan cacat atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak Rp300.

Komisi IV DPR RI saat ini tengah membahas revisi Undang-undang No.5/1990 yang oleh sejumlah kalangan dianggap belum memadai dalam upaya melindungi keanekaragaman satwa di Indonesia.

"Dengan dinaikkannya sanksi dan dilengkapi pasalnya, kami berharap orang jadi semakin lebih sadar bahwa penyiksaan terhadap hewan itu pidana. Selama ini masyarakat masih berpikir wajar, ah binatang ini, apalagi tidak ada yang punya," tambah Anita.

Berita terkait