Sandiaga, kartu jomblo dan 'mak comblang yang salah kaprah'

EPA Hak atas foto EPA

Gubernur dan wakil gubernur Jakarta terpilih, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, tampaknya serius mewacanakan Kartu Jakarta Jomblo yang salah satunya disebut untuk mencegah penurunan populasi. Padahal penurunan populasi lah yang justru menjadi solusi bagi ibukota yang kian padat ini.

Kartu Jakarta Jomblo awalnya hanya menjadi bahan lelucon yang dibuat Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (atau tim suksesnya) saat masa kampanye Pilkada Jakarta lalu. Mereka ketika itu merespon video guyonan penyedia konten Opini.id yang menyebut bahwa ada aspirasi yang belum terwakili dalam debat cagub, yakni aspirasi kaum jomblo.

Lama-kelamaan, ide ini semakin dianggap serius setelah mendapat banyak respon positif.

Dalam sejumlah laporan, Kartu Jakarta Jomblo disebut sebagai program untuk membantu warga Jakarta agar mendapatkan pasangan hidup dan tidak lagi hidup sendiri. Bagaimana caranya? Yaitu dengan memfasilitasi berbagai kegiatan para lajang di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) misalnya acara nonton bareng, taaruf massal, dan game.

Dari sinilah, KJJ yang menuai tawa itu kemudian mengundang tanda tanya. "Serius mau ada Kartu Jakarta Jomblo??!! Buwat apaaaahhh...?" kata satu pengguna Twitter.

Pada sebuah wawancara dengan wartawan, wakil gubernur Jakarta terpilih Sandiaga Uno mengatakan KJJ bisa menjadi solusi untuk mencegah penurunan populasi. Dia mengaku khawatir populasi di kota-kota besar akan berkurang - membandingkan Jakarta dengan Singapura atau kota-kota besar di Jepang.

"Salah satu yang menjadi kekhawatiran dari kota-kota besar bukan hanya di Asia tapi juga di seluruh dunia itu adalah jumlah populasi yang menurun karena banyak kesibukan. Saya melihat ini ada di Singapura," kata Sandiaga.

Namun sejumlah pengamat mengkritisi pernyataan ini. Betulkan populasi Jakarta menurun sehingga warganya perlu segera dijodohkan melalui layanan 'mak comblang' Pemprov DKI Jakarta.

Populasi tidak turun

Hak atas foto BPS

Populasi Jakarta selalu mengalami peningkatan, menurut data Badan Pusat Statistik, dan pada tahun 2016 diproyeksikan jumlah penduduk Jakarta mencapai lebih dari 10 juta.

Laju pertumbuhan penduduk lah yang mengalami tren turun - setidaknya dalam selama enam tahun terakhir. Penurunan laju ini menurut Kepala BPS Jakarta Thoman Pardosi disebabkan berbagai faktor.

"Angka kelahiran tertahan, angka kematian tetap, dan migrasi ke Jakarta tidak sebanyak yang dulu-dulu lagi. Kalau dulu, migrasi ke Jakarta tanpa pendidikan, tanpa sekolah, modal bisa baca tulis, datang ke Jakarta bisa dapat kerjaan. Tapi sekarang, kalau tidak punya keterampilan, tidak punya rekomendasi, tidak dapat pekerjaan," jelasnya.

Lantas apa yang membuat angka kelahiran stagnan? Apa betul karena banyak orang lebih suka menjomblo?

"Karena keluarga berencana," jawab Thoman Pardosi - merujuk pada program KB warisan Orde Baru yang dianggap menjadi salah satu warisan terbaik masa itu.

Hak atas foto Dewan Kesepian Jakarta
Image caption Ke-jomblo-an telah menjadi guyonan populer di kalangan anak muda terutama melalui meme di dunia maya.

Data SUPAS 2005 dan 2015 juga tidak mendukung klaim bahwa jumlah jomblo naik signifikan dalam 10 tahun terakhir. Pada profil usia 35-39 misalnya, ada 11,62% masih menjomblo (atau belum menikah) pada tahun 2005. Jumlah ini lebih besar prosentasenya dibanding tahun 2015 - sebesar 10,83%.

Sementara dikategori usia 30-34 tahun, tercatat ada 23,1% berada dalam status belum menikah pada 2005 sementara pada 2015 prosentasenya sekitar 19,8%.

Prosentase jumlah kaum belum menikah di kategori usia 40-44 tahun memang naik pada tahun 2015, yaitu 6,49% - dibandingkan pada 2005 yaitu 4,84%. Tetapi sulit untuk menyimpulkan bahwa secara umum kaum jomblo berperan dalam stagnanya angka kelahiran.

'Fokusnya menurunkan, bukan menambah'

Walau laju pertambahan penduduk mengalami tren turun, Provinsi DKI Jakarta masih memiliki masalah tingginya kepadatan penduduk karena luas wilayahnya yang paling kecil dibandingkan provinsi lain di Indonesia.

Targetnya "pasti menurunkan, menahan lah paling tidak," lanjut kepala BPS Jakarta, Thoman Pardosi.

"Kalau kartu jomblo kan akan menjodohkan orang, membuat orang berpasangan. Ketika orang berpasangan, maka yang mungkin adalah punya anak. Bertambah dong penduduk, bukan menahan laju," katanya.

Hak atas foto TWITTER / yukepodotcom
Image caption Salah satu meme yang juga beredar di media sosial.

Ini bertolakbelakang dengan niatnya, kata Thoman. "Niatnya kan menyelesaikan persoalan. Persoalannya kan kita kelebihan penduduk, kalau kelebihan penduduk, kok mencari program yang menambah penduduk."

Menurutnya masalah yang paling penting dari segi kependudukan adalah kemiskinan di Jakarta yang perlu lebih dipikirkan.

Pakar demografi Prijono Tjiptoherijanto sepakat bahwa Jakarta sudah terlalu padat. "Agak sulit menurunkan populasi di Jakarta, satu satunya yang bisa dilakukan mungkin adalah tidak menambah. Daya dukung Jakarta sudah tidak mampu ini mendukung orang segitu banyak," katanya.

Dia berpendapat bahwa masalah jomblo (perkara menikah atau tidak menikah) tidak punya hubungan kuat dengan angka kelahiran, karena ada orang yang memilih tidak menikah tapi punya anak dan ada juga yang memilih menikah tapi tidak punya anak.

"Tidak dipicu (dengan KJJ) juga banyak orang (di Jakarta) sudah pingin punya anak. Jangan samakan dengan kota-kota di negara maju karena kulturnya berbeda."

Lalu bagaimana pendapat pengguna media sosial? Sebagian mengatakan ini adalah hal yang lucu.

"Rendah sekali kualitas warga jakarta, bahkan mencari pasangan saja harus difasilitasi pemerintah. Sungguh hina sekali. Hahahaha...," kata Seth Budi melalui Facebook.

Berita terkait