Pembobolan situs Pengadilan Negeri dan Tempo terkait Ahok

Tempo diretas Hak atas foto TEMPO
Image caption Gambar ini muncul selama beberapa jam setiap membuka situs online Tempo

Situs Pengadilan Negeri di Bali serta Tempo sempat dibobol peretas dengan memunculkan pesan protes terkait Ahok.

Baik situs Pengadilan Negeri Negara, Bali serta Tempo, tempo.co, telah pulih Kamis (11/05).

Menjelang Rabu (10/5) tengah malam, situs Tempo dengan alamat tempo.co, memunculkan gambar pendiri FPI Rizieq Syihab yang mengepalkan tangan, sedang berbaris bersama sejumlah tokoh anti Ahok lain, dengan tulisan kecil di bawah foto itu, 'Bebaskan Ahok.'

Dan ketika dicari dengan mesin pencari, muncul tampilan 'TEMPO.co: hacked by Rizieq Shihab'.

Sementara situs Pengadilan Negeri Negara di Jembrana, Bali, memunculkan gambar Ahok, dengan dominasi tulisan berbahasa Inggris,

Sejauh ini Tempo tak berniat mengambil langkah hukum. Pengamat teknologi informasi menyebut, peretasan sejenis ini memang biasanya tak berujung pada pencarian pelaku.

Pemimpin redaksi situs tempo.co, Burhan Solihin mengatakan, mereka mulai tahu dan mendapat laporan terjadinya peretasan itu sekitar tengah malam.

"Lalu tim teknologi menganalisis situasi dan ternyata ditemukan bahwa peretasan dilakukan bukan di server Tempo.co namun di DNS server. Ini semacam server pengatur traffic di internet," papar Burhan.

"Saat orang mengetik di browser mereka http://tempo.co maka DNS server akan mengarahkan ke server kami di CBN. Nah, semalam, hacker rupanya mengalihkan pengaturannya ke server mereka di Cloudfare," jelasnya pula.

Tak mau berspekulasi

Kendati tayangan yang dimunculkan peretas itu adalah gambar yang terkait pembelaan pada Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, yang baru saja dipenjara setelah divonis dua tahun untuk dakwaan penistaan agama, Tempo menolak untuk menduga-duga.

Sejauh ini, kata pemimpin redaksi Majalah Tempo, Arif Zulkifli, yang penting adalah bahwa sistem sudah pulih dalam beberapa jam.

"Kami menyesalkan pihak-pihak yang telah melakukan peretasan itu, siapapun mereka dan apapun motifnya, namun kami menolak untuk berspekulasi tentang siapa pelakunya dan apa motifnya," tandas Arif yang biasa dipanggil Azul ini.

Hak atas foto Google
Image caption Pemunculan jika mencari situs Tempo dengan mesin pencari Google.

Peretasan emosional

Burhan Solihin menambahkan, mereka juga belum melaporkan peretasan ini pada polisi.

"Fokus kami sekarang masih pada memulihkan dan memperkuat sekuritinya, menguji kembali ketahanan sistem kami," katanya.

"Adapun soal penanganan hukum, kami belum sampai ke sana. Kalau nanti kami bisa mendapatkan jejak pelakunya tidak menutup kemungkinan untuk itu. Sementara kami fokus ke internal dulu," tegasnya.

Pengamat teknologi informasi, Enda Nasution menyebut, pertesan seperti ini memang biasanya tak berujung pada pencarian pelaku.

"Butuh resources dan waktu untuk mencari dan menangkap pelakunya, sedang kerugian materil tidak besar," tutur Enda.

"Jadi biasanya korban peretasan hanya memulihkan situs web mereka saja, menutup lubang-lubang yang dimanfaatkan peretas. Dan tidak mengejar pelakunya lagi."

Hal yang sama, tuturnya, terjadi pada peretasan Telkomsel lalu.

"Untuk yang ada kerugian besar, seperti kemarin ada peretasan Tiket.com dan Citilink atau Garuda. Pernah juga Bank Danamon diretas. Kerugiannya hingga beberapa miliar. Biasanya dikejar pelakunya."

Sedangkan peretasan yang terjadai pada situs Tempo dan PN Negara, Bali, menurutnya sekadar meluapkan emosi.

"Itu peretasan luapan emosi, seperti pernah terjadi, dulu, para peretas Indonesia 'menyerang' situs-situs Australia, misalnya," kata Enda lagi.

'Makan sendok'

Lain lagi dengan situs Pengadilan Negeri Negara, Bali. Entah apa urusannya dengan vonis Ahok, namun situs internet pengadilan yang berlokasi di Jembarana ini menjadi sasaran peretasan.

Rabu menjelang tengah malam, sebagaimana situs Tempo, situs pengadilan itu memunculkan halaman web berwarna hitam dengan foto Ahok yang penuh dengan tulisan protes terkait vonis pada Ahok.

Hak atas foto PN Jembrana
Image caption Retasan laman PN Negara di Bali, menampilkan halaman yang lebih ramai dengan tulisan.

Di atas foto, peretas menuliskan 'identitas' mereka: "Diretas oleh ONSLET & Achon666ju5t.

Disusul tulisan yang mengapit foto Ahok: "give his all to his country, guilty and sentenced 2 years in jail" (Memberikan segalanya untuk negaranya, (tapi) dinyatakan bersalah dan dihukum dua tahun penjara).

Di bawahnya, tertulis, "Simple explanation: they didn't know the difference between "eat with spoon" and "eat spoon". They claimed both are same meaning, and made this governor guilty, the end. (Penjelasan sederhana: Mereka tidak paham beda antara 'makan menggunakan sendok' dan 'makan sendok.' Mereka menganggap keduanya berarti sama, dan karenanya sang gubernur bersalah. Selesai)."

Diakhiri dengan "#RIP Justice In My Country," atau "Beristirahat dalam damai, keadilan di negeriku.'

Belum ada keterangan dari pihak pengadilan mengenai hal ini.

Berita terkait