Misteri yang tersisa dari bangkai hewan raksasa di Maluku

bangkai paus Hak atas foto LIPI
Image caption Observasi dan pengambilan sampel bangkai paus oleh LIPI.

"Itu makhluk misterius! Tidak, itu cumi-cumi raksasa! Bukan, bukan, ternyata itu paus." Kira-kira beginilah perdebatan seminggu terakhir tentang bangkai hewan laut raksasa yang terdampar di Pantai Dusun Hulung, Desa Luhu, Seram Bagian Barat, Maluku.

Sejumlah pakar akhirnya mengkonfirmasi bahwa hewan sepanjang 23 meter dan lebar 6,5 meter itu bukan cumi-cumi raksasa (maaf mengecewakan Anda), melainkan paus, walau jenisnya belum diketahui.

Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia kini sedang melakukan uji DNA untuk menjawabnya. Informasi ini dinilai penting untuk memetakan sebaran kasus paus terdampar di Indonesia.

"Untuk penentuan jenis dari sampel yang diambil butuh waktu kurang lebih tiga minggu," kata Kepala Pusat Riset Perikanan KKP Toni Ruchimat.

Dharma Arief, peneliti LIPI yang terlibat dalam pengambilan contoh DNA mengatakan bahwa dugaannya paus ini termasuk famili Balaenopteridae (paus baleen) satu keluarga dengan paus biru hingga paus humpback. "Karena perairan di sana memang masuk jalur migrasi paus-paus itu," katanya.

Perairan Seram Bagian Barat diketahui berada dekat dengan Laut Banda - perairan laut dalam yang cukup sering dijumpai keberadaan mamalia laut berukuran besar sedang hingga kecil.

Hak atas foto LIPI
Image caption Bangkai paus yang terdampar.

Selain masalah jenisnya, beberapa misteri lain juga belum terjawab. Misalnya tentang sebab paus ini mati dan bagaimana bangkainya terdampar di pesisir.

Dharma Arief hanya bisa menduga. "Kalau misalnya paus itu mati di tengah laut, lama-lama mereka akan tenggelam. Tapi kasus kemarin ini kemungkinan besar karena dia terdorong oleh ombak, angin, terbawa ke pesisir. Karena di Maluku, saat ini sedang musim timur, terdorong dari timur."

"Mengenai penyebab kematian, kemungkinannya diburu Paus Orca (paus pembunuh) atau hiu, atau dia sakit, atau stress. Yang umum itu."

Hak atas foto LIPI
Image caption "Paus tersebut telah terdampar dalam kondisi Kode 4 atau telah membusuk," kata WWF.
Hak atas foto LIPI
Image caption Pengambilan sampel bangkai paus oleh LIPI.

Dwi Suprapti, Koordinator Konservasi Spesies Laut dari WWF Indonesia, mengatakan sulit menentukan penyebab kematian secara pasti karena tidak ada tindakan bedah bangkai atau nekropsi.

"Selain itu paus tersebut telah terdampar dalam kondisi Kode 4 atau telah membusuk, sehingga penampakan fisiknya telah berubah. Diduga paus telah mati lebih dari seminggu di lautan dan kemudian terbawa arus laut sehingga terdampar di pantai. Ada banyak peluang kematian paus, baik itu faktor usia, penyakit, pencemaran air maupun suara, maupun ancaman yang disebabkan aktifitas manusia. Namun dalam kasus ini tidak dapat dipastikan," paparnya.

Kasus paus terdampar tidaklah baru dan cukup sering terjadi di Indonesia. Sepuluh tahun lalu di Yogyakarta misalnya, bangkai paus sperma dengan panjang tujuh meter dan berat lima ton terseret ke Pantai Parang Tritis. Pada tahun 2014, bangkai paus juga terdampar di Pulau Bintan.

Khusus untuk paus baleen, data menunjukkan bahwa di perairan Laut Banda juga pernah dilaporkan kasus Paus Baleen terdampar dengan jenis Paus Biru (Balaenoptera musculus) pada bulan Desember tahun 2012.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bangkai paus terdampar di Pulau Bintan, 2014 lalu.

Tapi mengapa penting untuk mengetahui jenis paus dan mendata sebaran kasusnya?

Menurut Dwi, sangat penting. "(Ini) dapat digunakan sebagai dasar acuan dalam manajemen konservasinya maupun pengelolaan kawasannya," kata Dwi. Hingga kini, belum ada data Indonesia belum memiliki data populasi terkait dengan mamalia laut khususnya paus baleen.

Bangkai paus di Pantai Dusun Hulung akhirnya dikubur secara manual oleh warga dusun dengan peralatan seadanya, kata Dandim Masohi, Letkol Infantri Fikri Dalemunthe.

"Rencananya sekitar dua mingguan, kepala dinas akan mengambil lagi sisa kerangkanya untuk teliti lebih lanjut dan dimuseumkan," katanya.

Awalnya, mau bangkai yang menyengat cukup mengganggu dan ikan di sekitar tampak mati. "Warga berdatangan ingin foto-foto," kata Fikri menceritakan awal penemuan bangkai itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Paus sperma dengan panjang tujuh meter ditemukan di Pantai Parang Tritis, Yogyakarta, 2007 lalu.

Topik terkait

Berita terkait