Kapan pulang? Membedah 'amarah' netizen pada Rizieq Shihab

getty Hak atas foto Getty Images

Sepekan terakhir, sentimen pengguna media sosial terhadap pimpinan Front Pembela Islam, Rizieq Shihab, didominasi dengan sentimen negatif, terutama amarah, kata lembaga riset digital Indonesia Indicator.

Sejak 9 Mei, bertepatan dengan putusan sidang putusan Basuki Tjahaja Purnama terkait kasus penistaan agama, percakapan tentang Rizieq Shihab meningkat tajam.

Pada masa sebelum Ahok ditahan Rizieq disebut rata-rata 3.516 per hari di Twitter. Namun, setelah penahanan Ahok, cuitan tentang Rizieq meningkat menjadi 13.842 percakapan per hari.

"Ada 113.136 percakapan di lini masa membicarakan mengenai Habib Rizieq dalam seminggu terakhir," papar Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang.

Awalnya, emosi netizen didominasi dengan rasa 'terkejut' pada 9 Mei, mempertanyakan mengapa kasus Rizieq tidak diproses secepat kasus Ahok.

"Rizieq juga ngata-ngatain agama lain kok. Dia juga menimbulkan keresahan masyarakat. Tapi sampai sekarang masih bebas-bebas saja," kata @CiplukCarlita.

Lainnya mengatakan, "kalau hukum mau adil, mestinya kasus Rizieq, Al Khathath, Buni Yani, bahkan Sandiaga dan Anies juga jalan, tapi sejak kapan hukum adil? kata @adimasnuel.

Kapan pulang?

Namun, dominasi emosi 'terkejut' bergeser menjadi amarah dipicu oleh beberapa hal. Misalnya, terkait perginya Rizieq ke luar negeri (Arab Saudi, Malaysia, dan kembali lagi ke Arab Saudi) dan berita soal dirinya yang meminta bantuan Komnas HAM karena merasa dikriminalisasi.

Seperti diketahui, Rizieq Shihab kini terbelit tujuh perkara termasuk kasus dugaan pencemaran nama baik Soekarno, kasus dugaan penodaan agama, hingga kasus penghinaan budaya lokal.

Hak atas foto TWITTER

Pengguna media sosial juga mempertanyakan kasus dugaan penyebaran konten pornografi terkait Rizieq Shihab dan Firza Husein, dan mengapa FPI seakan bereaksi pandang bulu. Padahal FPI lah yang paling rajin berdemo ketika video pornografi Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari tersebar.

"Kata polisi, kasus Rizieq-Firza mirip kasus Ariel-Luna. Kalau FPI konsisten, mereka harus menuntut Rizieq dihukum mati," kata Akhmad Sahal, yang juga mengunggah berita lawas yang berjudul "FPI: Ariel teroris moral, pantas dihukum mati."

Lainnya mengatakan, "sebaiknya Rizieq segera pulang, mendampingi Firza. Menjelaskan perkaranya ke masyarakat."

Pada Selasa (16/05) kemarin, Polda Metro Jaya memastikan bahwa foto perempuan dalam kasus dugaan pornografi Rizieq Shihab bukanlah rekayasa.

Hak atas foto TWITTER

Dikriminalisasi?

Namun reaksi amarah netizen juga ditanggapi oleh kelompok pro Rizieq yang meyakini adanya kriminalisasi terhadap ulama.

"Mereka meyakini bahwa chat mesum tersebut merupakan upaya fitnah terhadap Rizieq Shihab. Mereka menganggap setelah Ahok kalah, para pendukung Ahok kalap menyerang Rizieq," papar Rustika Herlambang.

Hak atas foto Indonesia Indicator
Image caption Kuning: Gembira, Biru: Sedih, Oranye: Antisipasi, Ungu: Jijik, Merah: Marah, Biru Muda: Terkejut, Hijau: Takut, Hijau muda: Percaya

Selain amarah, banyak pengguna media sosial tampaknya juga menanti-nanti bagaimana akhir kasus pimpinan FPI itu. Emosi 'anticipation' yang diperlihatkan dengan warna oranye dalam grafik juga cukup signifikan.

"Di dalam percakapan dengan emosi ini banyak harapan yang dimunculkan oleh netizen pada Habib Rizieq agar persoalan ini diselesaikan dengan baik, tidak dipenjara, mengharapkan upaya polisi untuk menghentikan pencarian Habib Rizieq," tambah Rustika.

Sementara rasa 'percaya' yang diungkapkan oleh netizen terkait beberapa hal. Sebagian, misalnya, percaya bahwa Rizieq pelaku percakapan mesum, sebagian lagi yakin dan percaya dengan polisi untuk segera menyelesaikan kasus itu.

Berbeda, pendiri PoliticaWave Yose Rizal mengatakan porsi pro dan kontra terhadap sosok pimpinan FPI ini hampir sama-sama kuat. "Tapi terlihat ada penggiringan opini dari kubu yang mendukung dia (bahwa kasus-kasus yang menimpa Rizieq sebagai kriminalisasi dan direkayasa)," katanya.

Namun perdebatan hangat ini hanya ada di media sosial, kata Yose. Tidak ada pergerakan massa di jalan seperti yang terjadi pada kasus penistaan agama yang menimpa Ahok.

Inilah yang menurut Yose membuat tekanan publik terhadap kasus Rizieq tidak tergolong besar, walau pentolan FPI itu memiliki lebih banyak kasus dibanding Ahok.

Berita terkait