Teriakan anak-anak 'bunuh si Ahok' di pawai obor 'bisa berbahaya'

ramadan Hak atas foto Oscar Siagian/Getty Images
Image caption Pawai obor di Jakarta diikuti sejumlah anak untuk menyambut datangnya Bulan Ramadan. Namun tidak jelas di lokasi mana di Jakarta, tempat anak-anak berteriak 'bunuh-bunuh' berlangsung.

Anak-anak yang berteriak 'bunuh-bunuh si Ahok' saat ikut dalam pawai obor di Jakarta merupakan sikap yang bisa berbahaya di kemudian hari bila ditolerir, kata seorang psikolog anak.

Teriakan "bunuh-bunuh si Ahok" dengan melodi lagu anak-anak Menanam Jagung di Kebun Kita, terdengar dalam video pendek yang beredar di media sosial.

Pawai obor menyambut Ramadan dilakukan di sejumlah tempat di Jakarta, pada Rabu (24/05). Di malam yang sama terjadi bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu.

"Ada foto2 (foto-foto) & video korban teror bom bunuh diri di Kp Melayu, tp yg (tapi yang) lebih menakutkan bg (bagi) saya: video anak2 yg (anak-anak yang) diajarkan & diperalat teriak2 bunuh2 (teriak-teriak bunuh-bunuh)," tulis penulis dan aktivis, Mohamad Guntur Romli, melalui akun Twitternya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Polisi berjaga-jaga menyusul bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta (24/05).

"Sampai kapan dibiarkan anak2 itu diajarkan teriak2 bunuh2, apakah smpai nanti mrk menjadi pelaku bom bunuh diri?" tambahnya dengan puluhan komentar.

Salah seorang pengguna, Dian, menanggapi dengan menyatakan, "Saya sebagai ibu miris mendengar anak2 kecil teriak2 bunuh2 di acara pawai obor yg seharusnya menyenangkan."

"Pihak @komnas_anak dan @Itjen_Kemdikbud hrs turun tangan!! Jangan diam saja ketika anak2 Indonesia di ajarkan yel2 bunuh orang!!" tulis pengguna lain Bennicioā€¸ @benny_ibra."

Hak atas foto Twitter

"Kaya kita mau bilang mau beli permen"

Pakar psikologi anak Universitas Indonesia, Rini Hildayani, mengatakan bila hal seperti ini dibiarkan dapat berbahaya.

"Pesan itu bisa tercatat bahwa hal itu memang benar untuk dilakukan, ketika perilaku itu dibiarkan terjadi dan tidak ada konsekuensi untuk anak justru mungkin direward dengan perilaku mereka itu. Anak anak bisa melihat bahwa perilaku itu wajar dan tidak salah," kata Rini.

"Kalau internalisasi (dari rumah tangga) bisa berbahaya, kalau dari usia kecil anak-anak sudah terpapar oleh sikap yang mentolerir atau membolehkan tanpa ada konsekuensi atas hal-hal yang agresif dan secara moral itu tak bisa dibenarkan meneriakkan hal-hal yang harmful (membahayakan) buat orang lain.

"Kayaknya ringan saja ngomongnya kan, kayak kita mau bilang mau beli permen. Padahal ucapan itu ada muatan agresivitas dengan mengatakan bunuh dan mengatakan hal-hal yang semacam itu. Bila itu ditolerir kata-kata seperti itu bisa dianggap benar dan hal-hal yang lebih jauh lagi mungkin saja terjadi di masa-masa yang akan datang," tambahnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Riziek Shihab juga menyanyikan 'bunuh-bunuh Ahok' November lalu.

Teriakan "bunuh-bunuh si Ahok" diangkat Rizieq Shihab pada saat demo menentang mantan gubernur DKI Jakarta itu November lalu.

Rizieq sendiri tak jelas keberadaannya setelah tidak hadir dalam pemanggilan polisi terkait dugaan pelanggaran Undang-undang Pornografi menyangkut Firza Husein.

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok membatalkan banding atas hukuman penjara dua tahun dalam kasus penistaan agama.

Arist Merdeka Sirait, aktivis perlindungan anak dari Komisi Nasional Perlindungan Anak menyatakan kekhawatirannya teriakan-teriakan seperti pada pawai obor itu akan berlanjut selama Ramadan.

"Apa yang terjadi tadi (Rabu) malam, ada teriakan bahwa di luar kesadaran anak-anak SD, SMP itu, akan menjadi-jadi pada satu bulan ini. Karena ini kan bulan Ramadan dan ada kesempatan peluang, habis tarawih, saur, dimungkinkan juga, ini yang memperihatinakan Komnas Perlindungan Anak," kata Arist.

"Kami menyerukan deradilaksasi pemahaman itu baik lingkungan rumah, sekolah dan tempat ibadah, karena anak-anak ini sudah ditanamkan rasa kebencian, dan itu terbukti pada (peristiwa) terakhir-terakhir ini," tambahnya.

Komentar pembaca di Facebook BBC Indonesia

Dari lebih dari 5.600 reaksi terkait berita anak-anak ini, sebagian besar mengungkapkan kemarahan (lebih dari 3.000) dan kesedihan (hampir 2.500) sampai Jumat (26/05) sore.

Banyak komentar dari sekitar 2.600 yang masuk mengungkapkan kemarahan terhadap orang tua atau orang dewasa yang membiarkan anak-anak ini ikut dalam ujaran kebencian. Inilah di antaranya:

Budi Satria -- "Ane Muslim, jangan ajarin anak2 kita dengan kekerasan, lebih baik ajarkan anak2 kita cara sholat yang benar, wudhu yang benar, patuh pada orang tua, belajar tentang kejujuran, menyayang binatang dan alam sekitar, sayang kepada teman, menghormati agama orang lain, dan berikan kepada mereka waktu bermain yang tepat serta berikan kegiatan positif yang sesuai umur dan kebutuhan mereka."

Rosdiana Sirait -- "Setuju sekali pendapat pak Budi Satria,inilah muslim sebenarnya. Biar bagaimanapun org tua lah yg berperan penting dengan apa yg dilakukan anak2 nya, makanya kita jadi org tua harus benar2 memperhatikan semua kegiatan anak kita, spy anak kita selalu berjalan di jalan yg benar."

Ani Yani -- "Suruh sekolah yg benar biar udah besarnya dapat kerjaan yg bagus jadi ga ada waktu untuk demo demo..."

Donatela Lux -- "Ikut miris anak anak yg suci dan polos mala ikut dengan mental org tua yg sakit."

Watikah Arnold -- "Yg bilang ini berita hoax gak bisa terima kenyataan yah??? Ini nyata lohhh di depan kita....anak anak calon penerus bangsa ini seperti ini adanya hari ini kalau tak ada tindakan dan perubahan yg tegas."

Maria N. Irene Najati "...Mau dibawa kemana Bangsa Indonesia dengan generasi yang selalu dibekali kebencian !!!!!"

Ummi Hani -- "Wahai para orang tua....pahamilah...!!! Apa yg kalian tanam itu yg akan kalian panen. Jgn ajari anak mengatakan "BUNUH" sbg kata yg "biasa2" saja."

Lilis Lilis -- "Ini sangat sangat memprihatinkan!! Anak2 yg vulnerable begitu mudah dihasut dan diradikalisasi.."

Eliza Kohar -- "Ga usah heran karena sejak kampanye Pilkada DKI putaran I aja udah banyak bocah2 yg belum punya hak pilih (bahkan ada yg masih usia sekolah dasar) yg diajak ikutan aksi penolakan dan penghadangan, banyak video nya bertebaran juga."

Topik terkait

Berita terkait