Kaesang: 'YouTuber amatir' yang buat vlog tentang Jokowi dan Obama

KAESANG Hak atas foto YOUTUBE / KAESANG
Image caption 'Kolektor kecebong' - tulisan di topi Kaesang. Kata 'kecebong' banyak digunakan sebagai ejekan di media sosial yang merujuk pada para pendukung Jokowi.

Siapa yang bisa mengajak seorang presiden beradu panco? Atau menyuruhnya cukur rambut di tukang cukur gaul - sambil rela diledek kalau rambutnya tipis? Jika presidennya Joko Widodo, maka jawabannya sudah tentu Kaesang Pengarep.

Ketimbang dua saudaranya, Kaesang adalah anak Jokowi yang paling eksis di media sosial. Abangnya Gibran Rakabuming Raka, yang sibuk berbisnis katering dan martabak, enggan tampil dan lebih memilih untuk berkicau lewat akun dagangnya @Chilli_Pari.

Sementara adik perempuannya, Kahiyang Ayu, yang dikabarkan melanjutkan studi magister di Institut Pertanian Bogor, juga tak banyak bersosial media dan disorot wartawan.

Sejak ayahnya terpilih menjadi presiden 2014 lalu, Kaesang banyak dibicarakan terutama karena kemunculannya dalam blog Diary Anak Kampung.

Setahun belakangan, dia juga banyak disorot karena video-video YouTube. Juga, ketika dia menjadi cameo dalam film garapan Ernest Prakasa, Cek Toko Sebelah, sebagai sopir taksi.

Di YouTube, dia mendeskripsikan dirinya sebagai "anak ganteng, perusuh, dan YouTuber amatir", sementara di Twitter dia memilih untuk menulis kata ikoniknya, 'GREGET."

"Yang menarik dari dia karena dia anak presiden, tetapi dia berusaha menunjukan bahwa dia orang yang biasa-biasa saja. Saya rasa dia juga bikin vlog sama dengan vlogger lain ingin menghasilkan karya saja," kata rekan sesama YouTuber, Anggun Adi alias Goenrock.

Hak atas foto YOUTUBE / KAESANG
Image caption "Hati-hati loh mas motongnya, nanti tambah jelek," kata Kaesang kepada pencukur rambut yang sedang melayani Jokowi di sebuah toko pangkas rambut. "Ini kalau (hasil potong rambut) bapak bagus, aku tak ke sini sendiri mas. Ini yang percobaan biar bapak aja."

Vlog Kaesang, menurutnya, adalah vlog yang apa adanya dan tidak dibuat-buat. Beberapa kali misalnya, Kaesang mencoba mendobrak citra anak presiden yang sering dianggap benalu dan hidup dalam kemewahan.

Salah satu yang paling baru, dalam video berjudul 'Bapak Minta Proyek' dia mengatakan, "memangnya masih zaman minta proyek sama orang tua yang di pemerintahan, dasar ndeso."

Dalam video yang lain, dia melucu tentang kondisi kamar tidurnya di Singapura yang sederhana - tidak mewah seperti perkiraan orang tentang anak presiden. "Di lemari aku ada mesin ATM dan lantai aku terbuat dari emas 24 karat," ujar Kaesang dalam videonya berjudul 'Pencitraan'.

Lalu apakah dia tampak serius menggarap vlognya sebagai profesi? "Saya belum melihat ke arah sana, kalau lihat vlogger profesional lain kontennya betul-betul khas. Kalau saya melihat dia masih mencari karakter yang pas," sambung Goenrock.

Dekat dengan Jokowi

Walau tampak enggan mencampuri urusan politik, Kaesang masih terlihat dekat dengan Jokowi - yang pada akhirnya juga ikutan membuat vlog di akun YouTube resminya: berisi tentang hal-hal santai seperti kegiatan memanah bersama Kaesang, kelahiran anak kambing peliharaan, hingga merekam makan siangnya dengan Raja Salman.

Pengamat media sosial Nukman Luthfie mengatakan baik Jokowi dan Kaesang sama-sama mengambil keuntungan dari vlog-vlog yang mereka buat bersama. Jokowi diuntungkan karena dengan vlognya bersama Kaesang, dia bisa menjangkau anak-anak muda dengan cara yang baru. Sementara Kaesang juga diuntungkan dengan meraup jutaan view ketika dia menampilkan Jokowi di saluran YouTube-nya.

Hak atas foto YOUTUBE / KAESANG
Image caption Dalam vlognya, Kaesang ikut mendokumentasikan pertemuan Obama dan Jokowi pekan lalu.

"Kalau kegiatan Jokowi dikutip di media massa, tidak dibaca oleh anak-anak millennial. Saling menguntungkan. Tapi Jokowi jelas dalam vlog-vlognya dia selalu menyampaikan pesan," papar Nukman.

Penulis buku Sisi Lain Istana yang juga wartawan Kompas, J Osdar, mengatakan bahwa video-video Jokowi dan Kaesang cukup populer, walau ada kritikan sana-sini yang menyebut bahwa itu adalah upaya pencitraan.

"(Isi videonya) Terbatas relasi anak bapak, mau tidak mau (Kaesang) tidak bisa lepas dari hal-hal seperti itu, untuk bantu bapaknya membentuk citra baik," kata J. Osdar. "Tapi menurut saya dalam batas wajar sebagai anak-bapak tidak sampai mempengaruhi kepresidenan Jokowi."

Dia berpendapat, vlog-vlog Jokowi juga bisa dilihat sebagai upaya untuk mendekatkan diri pada anak-anak muda, selain selalu mencitrakan dirinya sebagai presiden yang merakyat.

Hak atas foto YOUTUBE
Image caption Video adu panco bersama presiden ini ditonton lebih dari dua juta kali di YouTube.

'Paling berbeda'

Di antara anak-anak presiden yang lain, ketiga anak Jokowi memang paling berbeda karena tidak hanya jauh dari Istana, tetapi juga tidak punya bisnis skala besar seperti banyak anak presiden lain, kata J Osdar.

Anak Jokowi lebih senang bergelut di usaha kecil menengah. Tak hanya Gibran dengan bisnis kulinernya, kini Kaesang juga mengikuti jejak abangnya itu dengan berjualan jas hujan bertuliskan 'Tugas Negara Bos!' di internet.

"Mereka jauh, tidak masuk politik praktis, jauh dari campur tangan bapaknya yang presiden," sambungnya. "Kelihatannya yang sekarang ini sengaja dijauhkan karena melihat pengalaman lalu, terutama dari zaman Pak Harto. (Mereka) tidak ingin cap KKN muncul lagi di masa ini. Ada usaha untuk menjauhkan stigma KKN dari Istana, terutama anak-anaknya, tapi tidak tau saudara-saudara yang lain."

Hak atas foto YOUTUBE / JOKO WIDODO
Image caption Joko Widodo membuat vlog tentang kelahiran dua anak kambing miliknya.

Ini sangat berbeda dengan enam anak Suharto misalnya yang memiliki usaha besar terkait cengkeh, mobil, hingga minyak. "Yang paling fenomenal itu di zaman Pak Harto karena sampai anak-anaknya dewasa, beliau masih presiden, usaha anak-anaknya mendekati usaha konglomerat, multi nasional."

Sementara waktu zaman Sukarno, anak-anak masih bersekolah dan belum terlalu dewasa sehingga walau tinggal di Istana mereka masih menikmati masa remaja mereka.

Yang menarik adalah ketika Habibie menjadi presiden pada tahun 1998 menggantikan Suharto. "Waktu itu anak-anaknya sudah usaha, sudah lulus perguruan tinggi semua. Yang saya ingat anaknya Habibie mengeluh karena ada batasan-batasan masyarakat tentang korupsi kolusi nepotisme (KKN). Tuntutan reformasi tidak boleh KKN. Sehingga mereka untuk usaha agak sulit karena ada cemooh-cemooh masyarakat tentang KKN. Menurut Habibie ini, dia mengatakan anaknya tidak bisa berbisnis karena ketentuan-ketentuan KKN itu," papar J Osdar.

Hak atas foto KAESANG / INSTAGRAM
Image caption Kaesang mempromosikan bisnis jas hujannya di akun Instagram. "Balapan pakai jas hujan," katanya.

Tekanan-tekanan seperti ini sangat wajar karena ketika euforia reformasi masih tinggi. Menjawab keresahan itu, Istana lewat Menteri Perindustrian Hartarto Sastrosoenarto saat itu lantas menetapkan batasan-batasan KKN.

"Kalau zamannya Gus Dur lain lagi, Yenny Wahid putri kedua, ada di dalam istana, dia bahkan menjadi pendamping ayahnya, jadi penasehat dan pembisik. Tapi anaknya yang lain seperti Alissa, jauh dan jarang ke Istana," papar J. Osdar.

Sementara itu, ketika Megawati jadi presiden, Puan Maharani juga sudah lebih dulu terjun di bidang usaha sehingga perannya tidak begitu terlihat. Dan di era Susilo Bambang Yudhoyono, putra sulungnya masuk militer sementara anak keduanya, Edhie Baskoro Yudhoyono, terjun ke politik dan jadi anggota DPR.

Topik terkait

Berita terkait