Voice of Baceprot, hijaber metal dari pelosok Garut yang angkat kritikan sosial

voice of baceprot Hak atas foto Reuters
Image caption Voice of Baceprot, Firda Kurnia (kanan), Widi Rahmawati (kiri) dan Euis Siti Aisyah (pemain drum) saat bermain di Garut.

Tiga remaja dari desa di pelosok Garut, Jawa Barat, mengangkat berbagai kritikan sosial dan mencegah "pergaulan bebas" dengan aktif dalam band metal yang mereka namakan Voice of Baceprot (baceprot artinya bawel atau berisik dalam bahasa Sunda).

Firda Kurnia, Widi Rahmawati dan Euis Siti Aisyah membentuk band dengan bantuan pengasuh dan mantan guru mereka, Cep Ersa Eka Susila Satia, saat masih di Madrasah Tsanawiyah atau setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada Februari 2014 di Desa Ciudian, Garut.

Banyak penentangan di lingkungan sekitar yang mereka hadapi saat band dengan lagu-lagu metal ini terbentuk.

"Yah, ngapain (main band), perempuan yang berhijab biasanya marawisan (marawis main gendang dalam rebana), bukannya main ngeband di atas panggung," cerita pemain bas gitar Widi tentang penentangan yang dihadapinya.

Cep Ersa yang mengasuh mereka mengatakan, "Pada awalnya, hampir semua menentang, dari sekolah juga dan orang tua. Semula mereka bertujuh (dan sekarang tiga orang."

"Banyak yang menentang, termasuk guru ngaji mereka karena dianggap tak pantas, karena metal identik dengan hal-hal yang negatif karena penonton yang sering rusuh," kata Ersa.

Hak atas foto VOB
Image caption "Yah, ngapain (main band), perempuan yang berhijab biasanya marawisan (marawis main gendang dalam rebana), bukannya main ngeband di atas panggung," cerita pemain bas gitar Widi.

"Mereka perempuan dan berjilbab dan mereka dibesarkan di daerah dengan pola didik yang tak merdeka, banyak hal-hal yang ditabukan dan dibatasi. Padahal di luar, mereka melakukan hal yang dilarang. Justru ketika mereka diberi ruang, mereka jauh lebih mengenal lebih diri sendiri," tambahnya.

Namun di tengah penentangan, dalam tiga tahun terakhir, remaja berusia 15 dan 16 tahun ini manggung dan ikut festival di sejumlah kota di Jawa Barat.

"Perasaan lega dan senang dan bangga juga karena bisa menyuarakan kegelisahan hati lewat karya dan semoga makin banyak remaja yang terinspirasi dan mengikuti jejak kami," kata Firda, vokalis sekaligus pemain gitar.

Sementara Siti merasa sangat terbantu dan terhindar dari apa yang ia sebut pengaruh negatif dalam pergaulan remaja.

"Penjajahan moral: pergaulan bebas"

"Saya merasa menemukan dunia yang baru, musik sudah menyelamatkan hidup saya, pergaulan remaja hancur banget dan saya terbebas dari pergaulan bebas remaja, gaeg motor, seks bebas, narkoba, tawuran," cerita Siti tentang hal-hal negatif di sekeliling yang mereka sebut "penjajahan moral."

Hak atas foto VOB
Image caption Voice Baceprot manggung di sejumlah kota di Jawa Barat.

Kehidupan di pelosok, kata guru musik mereka, Cep Ersa, "jauh lebih mengkhawatirkan penjajahan moral di daerah dari pada di kota. Di kota lazim dan di kampung jadi tren...ketika jadi tren ini menjadi penjajahan moral (bagi remaja."

Di antara lagu-lagu berisi kritikan sosial yang mereka bawakan termasuk The School Revolution dan The Enemy of Earth is You.

"The Enemy of Earth is You mengkritik mereka yang mencitrakan mereka benar dalam segala bidang. Orang yang mencitrakan pelindung alam tapi merusak alam.

"Yang kedua, kaum agamawan, cendekiawan, yang ngomongin soal keadilan tapi mereka malah menebar kebencian, rasis. Malah mengobarkan perang atas nama kebenaran prinsipnya sendiri tidak mau menerima kebenaran orang lain," kata Ersa di balik makna lagu dalam bahasa Inggris itu.

Apa rencana tiga remaja yang gemar membawakan lagu-lagu metal ini?

"Saya ingin sukses di bidang musik. Rencana kita buat album tahun ini," kata Siti.

Sejumlah komentar dari akun Instagram Voice of Baceprot tentang klip-klip band mereka termasuk dari akun Ferypranata26 yang menyatakan, "Skill main musik udah cakep serius deh, tapi vokal ga diprioritaskan, mungkin jika gitaris belajar sedikit tentang vokal lalu pas bagian nyanyi permainan gitarnya dipersimple jauh lebih amazing dari pada cari vokal baru."

"Kita gak anti kritik ko. Bagi kita vocal adalah musik itu sendiri. Sebagai guitarist sekaligus vocalist menurut kita @peyfirddavob punya karakter yang menjadi salah satu soulnya VoB. Belajar dan berlatih tentunya harus tetap dilakukan," kata VoB menanggapi komentar itu.

Dan melalui Facebook BBC Indonesia, berbagai komentar yang masuk termasuk dari Ben Hard yang menulis, "Mantap...inovasi anak2 (anak-anak) jebolan Madrasah yg melihat dakwah bukan hanya dilingkungan masjid tapi juga keluar justeru ke kalangan anak muda demen musik irama rock atau metal yg keras," dan Wahyu Arlonsy yang menyatakan, "Selama tidak menyimpang dari keyakinan dan bisa menjaga sikap sebagaimana layaknya, Menurut Gue ini keren."

Topik terkait

Berita terkait