Diintimidasi 100 orang, KPAI akan mendampingi korban persekusi Cipinang

Facebook Hak atas foto FACEBOOK

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memastikan bahwa remaja 15 tahun yang diintimidasi di Cipinang akan mendapatkan pendampingan psikologi dan hukum termasuk hak pendidikan.

Dalam video yang tersebar di media sosial, remaja laki-laki berinisial PMA persekusi oleh sejumlah orang yang mengaku Front Pembela Islam dan diminta menandatangani surat bermaterai permintaan maaf karena dianggap telah menghina ulama dalam unggahan di Facebook.

Sejumlah laporan menyebut PMA juga mengalami tindak kekerasan dalam insiden itu, sementara polisi menyebut bahwa tiga orang terduga pelaku telah diamankan.

Kepala Divisi Sosialisasi KPAI, Erlinda mengatakan persekusi semacam ini "tidak bisa dibiarkan karena akan berakibat terganggunya tumbuh kembang anak karena trauma."

Pihaknya memastikan pendampingan psikologi akan diberikan kepada korban menyusul trauma yang muncul akibat insiden tersebut. "Kami bersama tim akan berikan itu," katanya.

Erlinda menambahkan persekusi tidak bisa dibiarkan karena dikhawatirkan akan memberi efek domino. "Kita tidak hanya melihat kasus ini saja tapi efek dominonya. Kalau dilakukan pembiaran, khawatirnya masyarakat lainnya yang mengatasnamakan kebenaran melakukan penegakan hukum dengan cara-cara sendiri," katanya.

Bagaimanapun FPI, melalui anggotanya Habib Novel, bersikukuh siapapun yang menghina ulama akan mereka kejar.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para pengunjuk rasa dalam protes di seputar Monas pada awal Februari lalu.

'Dipersekusi 100 orang'

Ada lebih dari 100 orang melakukan persekusi kepada remaja ini dengan cara mendatangi rumahnya di daerang Cipinang Muara Sabtu lalu, kata Koalisi Anti-Persekusi dalam rilisnya.

"Terjadi paling tidak dua kali tindak pemukulan di bagian kepala, intimidasi verbal dengan ancaman pembunuhan, dan upaya pemaksaan melakukan permintaan maaf. Semua proses persekusi ini disiarkan secara langsung melalui media sosial disertai dengan narasi yang diskriminatif. Aksi persekusi ini berlangsung hingga lewat tengah malam dan kemudian berangsur-angsur para pelaku persekusi ini membubarkan diri," papar mereka.

Sejumlah laporan menyebut ibu remaja ini dipecat dari pekerjaan dan diusir dari rumah kontrakan akibat adanya intimidasi itu, dan kini mereka telah dibawa ke rumah perlindungan.

KPAI bersama sejumlah lembaga terkait termasuk Kementerian Sosial serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban melakukan pertemuan dengan kepolisian hari ini, Jumat (02/06) di Polda Metro Jaya untuk membicarakan langkah-langkah pencegahan.

"Kami melihat ada benih-benih intoleransi, benih perpecahan, dan ini sengaja dibuat menjadi isu agama," tambah Erlinda.

Intimidasi terhadap bocah 15 tahun ini menambah panjang daftar kasus persekusi terhadap orang-orang yang dianggap melakukan penghinaan terhadap ulama dan agama. Sebelumnya, seorang dokter di Sumatera Barat bernama Fiera Lovita, meminta perlindungan kepada kepolisian dan pindah dari rumahnya di Kota Solok, karena diintimidasi terkait unggahannya di media sosial.

Sampai saat ini tercatat setidaknya 59 orang yang ditarget persekusi di Indonesia, terutama di Jawa Barat, kata SafeNet.

Topik terkait

Berita terkait