Lima hal terkait debat persekusi, Fahri Hamzah, sampai Indosat

Koalisi Anti Persekusi Hak atas foto Koalisi Anti Persekusi
Image caption Koalisi Anti Persekusi membuka hotline bagi sejumlah orang yang digruduk masal dan diintimidasi karena unggahan di media sosial.

Apa sebetulnya persekusi? Apa batasannya? Dalam beberapa hari terakhir, perdebatan tentang persekusi ramai di media sosial.

BBC Indonesia merangkum segala yang perlu Anda ketahui tentang fenomena ini:

1. Apa itu persekusi?

Dalam kamus, persekusi berarti pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Damar Juniarto dari SafeNet mengatakan pola persekusi yang terjadi akhir-akhir ini meliputi:

  • Menelusuri orang-orang di media sosial yang dianggap melakukan penghinaan.
  • Mengintsruksikan massa untuk memburu target yang sudah dibuka identitas, foto, dan alamat.
  • Mendatangi rumah atau kantor, melakukan intimidasi, dan dalam beberapa kasus dipukul, dipaksa menandatangani surat permohonan maaf bermaterai, ada pula yang didesak agar ia dipecat.
  • Beberapa kasus lainnya orang yang dituduh menghina akan dibawa ke polisi untuk dikenakan pasal 28 ayat 2 UU ITE atau pasal 156a KUHP.

Pada intinya persekusi dilakukan baik di dunia maya dan dunia nyata. Ada empat tahap dalam persekusi, yaitu penentuan target, ada ajakan (di media sosial), mobilisasi (di dunia nyata), dan kriminalisasi.

Hak atas foto FACEBOOK / FPI
Image caption seorang bocah berusia 15 tahun di Cipinang digruduk massa, sempat ditempeleng. dan dituntut membuat surat permintaan maaf bermaterai.

2. Siapa korbannya?

Peristiwa-peristiwa ini marak sejak pemimpin FPI, Rizieq Shihab tidak bersedia memenuhi panggilan polisi terkait penyelidikan dugaan pertukaran pesan dan gambar, yang disebut melanggar pidana UU Pornografi.

SafeNet mencatat terdapat 59 orang yang jadi sasaran persekusi di berbagai daerah, sementara GP Ansor, ormas Islam yang aktif memberikan pendampingan terhadap korban mencatat setidaknya ada 55 kejadian persekusi.

Salah satu yang paling disorot adalah Fiera Lovita, dokter umum di Kota Solok, Sumatera Barat, yang mengaku didatangi sekelompok orang yang mengaku anggota FPI dan meminta dirinya meminta maaf. Namun walau sudah meminta maaf, dia mengaku tetap mendapat ancaman.

Pekan lalu, seorang bocah berusia 15 tahun juga menjadi korban. Ada lebih dari 100 orang melakukan persekusi kepada remaja ini dengan cara mendatangi rumahnya di daerang Cipinang Muara Sabtu lalu, kata Koalisi Anti-Persekusi dalam rilisnya.

"Terjadi paling tidak dua kali tindak pemukulan di bagian kepala, intimidasi verbal dengan ancaman pembunuhan, dan upaya pemaksaan melakukan permintaan maaf," tambah mereka.

Di Balikpapan, seorang dokter bernama Otto Rajasa, didatangi berbagai kalangan akibat unggahannya di media sosial, dan akhirnya polisi mempidanakannya dan menahannya.

Hak atas foto KOMPAS TV
Image caption Sejumlah massa di Manado, Sulawesi Utara, menolak kedatangan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.

3. Apa batasannya? Fahri Hamzah dan karyawan Indosat dipersekusi juga?

Ada banyak pertanyaan di media sosial tentang batasan-batasan persekusi. Misalnya apakah penolakan terhadap Fahri Hamzah di Manado adalah bentuk persekusi? Atau penghadangan Tengku Zulkarnain oleh kelompok dayak di Bandara Sintang Kalimantan Barat juga persekusi?

Jawabannya adalah tidak, menurut pakar media sosial Nukman Lutfie, karena mereka mendatangi sebuah tempat, bukan didatangi massa.

Hak atas foto TWITTER / @nukman

Lalu bagaimana jika seorang karyawan dipecat dari perusahaan karena status Facebook pribadinya dianggap mengandung kebencian?

Menurut Nukman Lutfie, itu juga bukan persekusi karena terkait dengan kesepakatan kerja antara karyawan dan perusahaan. "Setiap perusahaan memiliki peraturan perusahaan. Jika postingan-mu melanggar itu ya bersiaplah dengan konsekuensinya."

Seperti diketahui, seorang karyawan Indosat bernama Riko M Ferajab dikenakan sanksi teguran oleh perusahaan karena unggahan-unggahan di media sosial yang dianggap anti-NKRI. CEO Indosat, Alexander Rusli dalam cuitannya mengkonfirmasi hal ini, "langkah sudah diambil. Seperti yang disampaikan terpisah kami tidak tolerir staf yang terbukti tidak sejalan dengan negara dan pemerintah."

Deva Rachman, Head of Corporate Communications Group of Indosat Ooredoo, mengatakan karyawan Indosat itu telah melakukan "introspeksi".

"Beliau juga tidak mengira bahwa postingannya berdampak seperti ini dan beliau melakukan instrospeksi lah terhadap yang beliau lakukan dan saat ini beliau masih bekerja di Indosat," kata Deva kepada BBC Indonesia.

"Kami melakukan pemahaman dan juga teguran karena postigannya menimbulkan beberapa komentar," tambah Deva.

Deva juga mengatakan cuitan Alexander Rusli tentang langkah yang diambil adalah, "melakukan warning atau teguran kepada yang bersangkutan dan ini sudah sesuai dengan peraturan perjanjian kerja bersama yang disepakati dengan seluruh pegawai."

Hak atas foto TUBAGUS ADITYA IRAWAN/PACIFIC PRESS/LIGHTROCKET V
Image caption Dalam banyak kasus, orang-orang yang menjadi target persekusi adalah pengguna media sosial yang dianggap menghina pimpinan FPI Rizieq Shihab

4. Mengapa persekusi dilakukan?

Front Pembela Islam, melalui akun Twitter @DPP_LPI membela tindakan sejumlah orang yang melakukan persekusi karena mereka menilai itu lebih baik ketimbang menculik atau melakukan teror.

Menurut mereka, persekusi terjadi karena aparat hukum mengabaikan "laporan Umat Islam" terkait pengguna media sosial yang mereka anggap "menghina ulama dan Islam".

Hak atas foto TWITTER

"Hentikan Persekusi? Bisa. Selama aparat mau menerima dan menindaklanjuti laporan masyarakat yang selama ini terus menerus diprovokasi," tulis mereka.

Dalam banyak kasus, orang-orang yang menjadi target persekusi adalah pengguna media sosial yang dianggap menghina pimpinan FPI Rizieq Shihab terkait kasus dugaan percakapan mesum via WhatsApp. Rizieq Shihab telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Anggota FPI Habib Novel mengatakan pihaknya bersikukuh siapapun yang menghina ulama akan mereka kejar. "Jadi kita tidak akan diamkan, siapapun, agama manapun, etnis manapun, suku manapun yang ketika dia sudah menghina agama Islam, menghina ulama, menghina al-Quran, maka akan kita kejar ke manapun," tambahnya.

5. Apa yang harus saya dilakukan jika merasa unggahan di media sosial menghina atau penuh kebencian?

Ada empat hal yang bisa Anda lakukan, kata SafeNet, yaitu:

  • Melakukan somasi, atau teguran terhadap pihak calon tergugat sebelum dilakukan proses hukum.
  • Melakukan mediasi damai, bukan menggruduk massal
  • Jika mediasi tidak berhasil, baru melapor ke polisi
  • Mengawasi jalannya peradilan agar adil

Topik terkait

Berita terkait