"Pertanyaan terlarang" ketika basa-basi di Hari Raya Lebaran

lebaran, kapan kawin Hak atas foto BBC / Davies Christian
Image caption "Kapan kawin? Cowoknya kok gak diajak?"

Bertemu dengan keluarga besar di Hari Raya Lebaran tentu hal yang menyenangkan. Anda bisa bertatap muka lagi dengan sepupu yang sudah lama tinggal di luar kota atau paman-tante yang merantau ke negeri orang.

Namun, ketika menjalin kembali silaturahmi, banyak orang yang tidak sadar bahwa pertanyaan basa-basi yang Anda lontarkan bisa menyinggung dan membuat orang tidak nyaman.

"Kapan nikah? Kok gendutan? Kapan gaji naik? Anaknya baru satu, kapan nambah?" BBC Indonesia berbicara dengan dua psikolog yang bersedia memberikan tips agar kumpul keluarga bisa semakin akrab tanpa perasaan sakit hati.

1. Mulai dari pertanyaan klise, walau agak basi

Hak atas foto BBC / Davies Christian
Image caption "Bagaimana kue Lebarannya? Enak tidak?" Ini memang pertanyaan basi tetapi tetap penting ditanyakan untuk membangun lagi kedekatan.

"Sudah makan atau belum? Kue Lebaran-nya enak tidak?" Ini adalah pertanyaan klise yang sebetulnya tidak perlu ditanyakan, tapi sangat berguna dalam situasi canggung. Terutama jika Anda tidak bertemu dengan kerabat Anda setahun penuh dan tidak tahu apa-apa tentang mereka sekarang.

Psikolog Roslina Verauli mengatakan pertanyaan klise semacam ini (yang umumnya meminta opini) membantu menjadi jembatan ke pertanyaan yang lebih dalam.

"Terlalu lompat ke dalam jika kita langsung bertanya 'kok betah masih jomblo?'. Kalau memang masih mau akrab, bantu diri kita untuk mulai menemukan pertanyaan-pertanyaan klise untuk saudara kita nanti di hari raya," papar Roslina.

2. Sesuaikan dengan umur

Untuk menjalin basa-basi, Anda harus paham dulu tahapan tumbuh kembang atau dalam kata lain: siapa sebetulnya yang kita hadapi. Beda usia, beda pertanyaan yang dilontarkan.

Roslina menyarankan untuk anak usia sekolah dasar, tanyakan hal-hal yang menyenangkan soal hobi atau kegiatannya apa saja.

"Jangan tanya soal 'eh kemarin juara enggak?' Jeder! Itu menghujam. Karena untuk anak SD, pertanyaan soal achievement, atau perasaan tentang kompeten atau tidak, itu penting," katanya.

Bagaimana dengan remaja?

Hak atas foto BBC / Davies Christian
Image caption Hindari pertanyaan-pertanyaan tentang kompetisi dan kompetensi karena dua hal ini dianggap sensitif bagi anak-anak usia sekolah.

"Jangan pernah tanya sudah punya pacar belum. Ini membuat malu, bagi yang punya pacar malu, yang belum punya pacar juga malu," kata Roslina.

Masalah geng dan pacar adalah isu sensitif bagi kelompok usia mereka. Sebaiknya tanya hal yang lebih netral misalnya, "Wah hebat ini masih ikut papa mama, biasanya kalau sudah besar sudah enggak mau."

Sementara itu untuk usia dewasa muda, pekerjaan, gaji, dan calon suami (atau istri) adalah isu yang membuat sedih bagi orang-orang yang belum mencapai ekspektasinya.

"Karena di usia dewasa awal, 20-30 tahun, karir dan pasangan hidup adalah tugas di masa tumbuh kembang mereka. Kalau ditanya telak demikian, menyedihkan bagi yang belum punya," sambung Roslina.

Namun soal karir bagus ditanyakan di usia dewasa (30 hingga 40 tahun) karena pada tahap itu, biasanya karir mereka sudah lebih stabil.

Sementara untuk orang yang lebih tua, bisa dibuka tentang hal-hal positif seperti kondisi badannya yang sehat dan penampilannya yang awet muda.

Hak atas foto BBC / Davies Christian
Image caption Kepada orang-orang yang lebih tua masalah penyakit adalah isu sensitif. Mulailah membangun ikatan dengan komentar-komentar positif tentang dirinya.

3. Tapi, bagaimana kalau kita yang justru ditanya pertanyaan menyakitkan?

Psikolog Pingkan Rumondor mengatakan cara terbaik menjawab pertanyaan sulit ialah tersenyum (untuk menjaga sopan santun) dan menjawab sejujurnya.

Untuk pertanyaan kapan menikah misalnya bisa jawab, "Belum ada rencana, masih fokus kuliah/kerja; belum tahu, inginnya tahun depan kalau bertemu orang yang sesuai harapan; sudah ada rencana, tapi belum pasti, tunggu saja kabar selanjutnya, dan lainnya.

"Jawablah senyaman mungkin. Jika merasa hal tersebut sangat pribadi, cukup senyum (supaya sopan), bilang belum tahu, lalu permisi dari situasi tersebut. Sebetulnya tidak ada keharusan untuk menjawab secara detil," kata Pingkan.

4. "Tapi saya lebih tua, dan saya ingin menasehati kerabat saya yang lebih muda"

Hak atas foto BBC / Davies Christian
Image caption Banyak meme-meme beredar di media sosial tentang 'Tarif Bertanya'. Walau lucu, ini menggambarkan keengganan anak muda yang ditanya soal macam-macam.

Setelah anak muda ini terbuka dan hubungan baik sudah terjalin dengan pertanyaan-pertanyaan klise, barulah Anda bisa menanyakan hal yang agak pribadi.

Menurut Pingkan, mendengarkan adalah hal penting.

"Hindari menghakimi, meski tidak sesuai dengan kemauan/harapan. Pahami dulu rencana dan harapannya. Terkait pasangan hidup, biasanya sang lajang sebetulnya ingin berkeluarga, tapi ada hambatan yang membuatnya menunda. Jika ternyata harapannya sama, tanyakan apa yang bisa dibantu (oleh sang paman/bibi)?" jelas Pingkan.

Setelah itu, barulah Anda bisa mengungkapkan harapan sebagai orang tua, dan tanyakan pendapat dia mengenai harapan tersebut.

Baru kemudian tanggapi dengan nasihat (saran: dimulai dengan kata saya, bukan kamu. Saya merasa akan baik kalau kamu mulai mencari calon pendamping hidup. Bagaimana menurut kamu. Hindari: Kamu seharusnya...).

Terakhir, tutup percakapan dengan kata-kata yang menghargai si anak muda dan ingatkan bahwa ia bisa bercerita atau minta bantuan jika dibutuhkan.

Cara menyampaikan harapan/nasihat seperti di atas jika dilakukan dengan tulus, cenderung dapat diterima daripada sekedar mencecar lalu menasihati.

Topik terkait

Berita terkait