Puasa ekstrem hingga 23 jam, sahur dan buka sekaligus dalam 55 menit

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Vlog Ramadhan di Helsinki oleh Widya Airlangga

Seberapa besar tantangan Anda berpuasa? Bagi warga Indonesia yang tinggal di belahan Bumi utara, jawabannya mungkin soal durasinya - yang cenderung ekstrem.

Widya Airlangga, WNI yang tinggal di Helsinki, Finlandia misalnya berpuasa selama 20 hingga 21 jam. Namun ada lagi yang lebih lama, yaitu di daerah Laplandia (bagian utara Finlandia). Di sana umat Muslim puasa lebih dari 23 jam, karena matahari hanya terbenam selama 55 menit saja.

Di Facebook BBC Indonesia, banyak orang membagikan kisahnya berpuasa di negara-negara utara. Bagaimana berpuasa di Inggris? atau di lingkar Kutub Utara?

Hak atas foto Deen Shariff
Image caption "Foto narsis saya dengan penampakan kapal pesiar, tempat saya bekerja, di Ulvik/Eidfjord Norway," kata Deen Shariff.

Di lingkar kutub utara - Deen Shariff

Saya bekerja di kapal pesiar dengan rute pelayaran negara Skandinavia dan beberapa wilayah dalam lingkar kutub utara. Pengalaman Ramadhan tahun ini menjadi pengalaman terbaik sepanjang masa dalam hidup saya.

Saya berpuasa di berbagai wilayah negara negara Skandinavia dan negara-negara pulau dalam lingkar kutub utara sperti Ulvik/Eidfjord, Isofjodur, Longyearbyen, Tromso, Leknes, Akureyri, Hammerfest, Nordkap, dan Honningsvag yang memang pada musim panas ini mataharinya nyaris tak pernah tenggelam.

Saya ingat di hari pertama Ramadhan, kapal kami berada di wilayah Isofjodur. Kami sahur jam satu pagi dan berbuka jam 23:54 malam, nyaris hampir 22-23 jam berpuasa. Ketika kami berbuka, kami juga sekaligus sahur dan ini pun mataharinya serta suasananya memang benar-benar terang sepanjang hari sepanjang malam. Tidak ada gelap sama sekali.

Suasananya walau musim panas tetap dingin yang amat sangat. Jangankan untuk ukuran orang Indonesia, untuk ukuran orang Eropa pun mereka tetep kedinginan.

Hak atas foto Deen Shariff
Image caption Suasana pegunungan salju abadi di Longyearbyen, Norwegia.

Puasa sembari berlayar dari AS ke Moroko - Faisal Maulana Bahari

Pekerjaan saya marine engineering atau lebih dikenal dengan engineer permesinan kapal alias pelaut. Saya bekerja di sebuah perusahaan pelayaran asal Jerman pada kapal berbendera Portugal.

Di sini saya akan berbagi cerita berpuasa di laut. Yaitu perjalanan dari New Orleans, AS ke Casablanca, Maroko. Yang sedikit membedakan adalah waktu yang tidak menentu dikarenakan perbedaan zona waktu pada saat melintasi Laut Karibia dan Samudra Atlantik.

Terkadang saya berpuasa 16 jam, terkadang 17 jam dan terkadang 15 jam, dengan temperatur area kerja di ruangan mesin kapal berkisar 45-47 derajat celcius dan kondisi cuaca laut yang berombak 3-4 meter dan mayoritas kru asing (Bulgaria, Polandia, Kroasia, Rusia, dan Filipina)

Namun dengan niat beribadah, karena Allah, semua dapat berjalan dengan lancar.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Central Park di New York.

Ujian berpuasa di New York - Vina Noviyanti

Saya di New York, Amerika Serikat hampir 17 jam berpuasa. Waktu buka puasa jam 20.29 malam dan subuh jam 03.45.

Alhamdulillah kalau sudah niat dilancarkan, padahal harusnya sudah masuk musim panas, tapi Alhamdulillah lagi, cuacanya tidak panas.

Setiap hari jemput anak sekolah yang tiap pulang sekolah pasti minta main ke taman jam 12 siang. Sekitar satu jam kalau main dan itu ujian banget kalau lagi panas-panasnya. Karena saya juga sambil main sama balita yang usianya 1,5 tahun yang tidak berhenti-henti lari.

Puasa 19 jam di Inggris - Atika Iskandar

Saya pernah puasa 19 jam selama di Inggris saat musim panas. Waktu Iftar itu sangat ditunggu-tunggu. Laparnya sih sudah hilang tapi haus sekali.

Sahur biasanya jam dua hingga setengah tiga pagi. Sementara berbuka di atas jam 21.30 malam. Waktu itu saya masih proses menyusui juga, tapi bisa dilalui walau hitungannya berbuka dan sahur suka jadi satu.

Paling sahur minum susu dan banyak air putih karena masih terasa kenyang karena kalap makan sewaktu Iftar. Hehehe...

Hak atas foto AFP / Getty
Image caption Gunung Fuji di belakang gedung-gedung tinggi di Tokyo, Jepang.

Merasakan toleransi di Jepang - Dede Ramdani

Saya mempunyai pengalaman berpuasa di Jepang sudah dua kali dan sekarang adalah puasa ketiga di sini. Puasa di Jepang juga cukup lama sekitar 17 jam.

Dimulai sahur pukul 02.00 pagi dan maghrib pukul 19.00 malam. Tapi Alhamdulillah, kuat berpuasa meskipun banyak kegiatan setiap harinya.

Orang Jepang rata-rata sudah mengetahui kapan puasa dan sangat menghargai dan mentoleransi kita yang umat Muslim. Saya sangat menyukai Jepang dan orang-orangnya, apalagi tempat-tempatnya begitu indah.

Foto di bawah ini adalah suasana kami saat berbuka dengan orang Jepang, meskipun mereka tidak berpuasa tapi mereka menunggu maghrib bersama kami, indahnya bertoleransi antara agama. Kami juga memperkenalkan masakan-masakan Indonesia kepada mereka dan mereka sangat menyukainya terutama nasi goreng sudah sangat terkenal di Jepang.

Hak atas foto Dede Ramdani

Puasa dan kerja malam di Belanda - Oktavianti Nur Sulaeman

Jika Anda benar-benar menjalaninya (puasa) tidak semudah yang diucapkan. Saya tinggal di Belanda, puasa sekitar 18 jam dan itu sulit apalagi dikombinasikan dengan pekerjaan saya di malam hari.

Saya sudah mencoba tapi keesokkan harinya kondisi tubuh memburuk, jadwal sahur yang dekat dengan jadwal Iftar bikin perut tidak bisa diisi sedangkan rutinitas pekerjaan, kegiatan rumah masih terus berlanjut keesokan harinya dan kondisi tubuh yang tidak fit. Jadi puasa 18 atau 21 jam, selama satu bulan penuh, tidak semudah yang diucapkan.

Topik terkait

Berita terkait