Selamat Idul Fitri dan tradisi 'Minal Aidin Wal faizin' yang berasal dari dakwah pedagang Arab

salat Idul Fitri di Pantai Parangkusumo, Yogyakarta Hak atas foto Getty Images
Image caption Salat Idul Fitri dan tradisi saling mengunjungi keluarga dan teman dengan saling mengucapkan Minal Aidin Wal faizin.

Ucapan Selamat Idul Fitri dan disertai dengan 'Minal Aidin Wal faizin' merupakan tradisi yang berawal dari para pedagang Arab yang menyebar Islam di Indonesia, menurut seorang anggota Majelis Ulama Indonesia, MUI.

Kartu-kartu ucapan, termasuk yang elektronik, bagi Anda yang mengirim ataupun yang menerima tentu kata-kata 'Minal Aidin Wal faizin' banyak ditemukan dan dilanjutkan dengan 'maaf lahir dan batin.'

Arwani Faishal, anggota komisi Fatwa, MUI, mengatakan 'Minal Aidin Wal faizin' yang berarti "semoga kita termasuk orang-orang yang kembali ke jalan yang benar atau ke jalan Allah dan termasuk orang yang beruntung atau berbahagia," bermula dari dakwah para pedagang Arab.

"Kalimat itu di suatu kawasan Melayu seperti Indonesia, Malaysia sangat populer. Ini bukan dari Nabi (Muhammad), tapi itu ucapan selamat dan secara tekstual adalah doa." kata Arwani.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Mudik lebaran 2017 di jembatan Suramadu, Surabaya pada Jumat (23/06).

"Di Indonesia populer di awal-awal semaraknya Islam, yang didakwahkan oleh para pedagang Arab...Yang menyebarkan Islam, yang menjadi panutan banyak orang, tentu diikuti oleh jemaahnya, masyarakatnya, penganutnya dan dari tahun ke tahun itu diikuti dan populer."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Mudik lebaran dari pelabuhan Surabaya.

"Itu doa baik, boleh diikuti terus menerus, tapi tak berarti hanya kalimat itu saja, mungkin suatu ketika nanti muncul ide kalimat lain selain Minal Aidin Wal faizin. Ini praktis dan puitis sehingga sangat mengena," tambahnya.

Dan bagaimana dengan lanjutan kalimat, maaf lahir batin?

Ied Mubarak di dunia Arab

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pedagang ketupat di Jakarta menjelang lebaran.

Arwani menyebutkan ini terkait syariat di mana Nabi (Muhammad) menyebut Ramadan adalah bulan yang berkah, "Allah memberi rahmat kepada para hambanya, Allah mengampuni dosa-dosa hambanya."

"Terkait dengan Allah mengampuni...maka muncullah gagasan yang bagus setelah Ramadan perlu minta maaf kepada sesama manusia. Diwujudkan dengan bertemu dan minta maaf."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tradisi bermaaf-maafan di Indonesia setelah salat Idul Fitri.

Ucapan lain terkait Idul Fitri adalah Taqabbalallahu Minna Wa minkum, yang "merupakan tradisi di dunia Islam," kata Arwani.

Arti ucapan ini adalah, "Semoga Allah menerima amal soleh kita dan kamu semua. Itu menurut suatu riwayat disampaikan oleh sahabat Nabi (Muhammad) kepada sahabat yang lain setelah Rasulullah wafat, itu bagian dari tradisi di dunia Islam," tambanya.

Di dunia Arab, ucapan selamat hari raya, menggunakan kata-kata Ied Mubarak, atau Idul Fitri yang memberkahi.

"Ini ada kaitannya dengan sabda Nabi yang menyebut datanglah Ramadan, bulan yang memberkahi. Kalau Ramadan memberkahi, kesimpulannya Ied juga memberkahi dan muncullah Ied Mubarak," kata Arwani.

Topik terkait

Berita terkait