Jemaah Aboge prediksi Idul Fitri 2018 jatuh pada hari Sabtu

aboge Hak atas foto Maksudi
Image caption Kyai Maksudi (kiri) menyatakan prediksi 1 Syawal jemaah Aboge selalu tepat.

Jemaah Aboge di Banyumas, Jawa Tengah, mengklaim dapat mengetahui jatuhnya satu Syawal atau Idul Fitri 2018 dan juga lima tahun mendatang, berdasarkan perhitungan kalender Jawa.

Kyai Maksudi, pemimpin Aboge di Purbalingga, Jawa Tengah, mengatakan kelompok yang merayakan Idul Fitri pada Selasa (27/06) mendasarkan perhitungan mereka pada penanggalan Aboge (Alif Rebo Wage), tradisi yang telah dilakukan sejak tahun 1400an pada zaman Sunan Kalijaga.

Berdasarkan perhitungan kalender Jawa ini, yang tahun ini terhitung tahun 1951, Ramadan selalu berjalan selama "30 hari".

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ritual kelompok Bonokeling - yang juga pengikut Aboge- menjelang Ramadan.

Penanggalan Aboge, kata Maksudi, didasarkan pada satu minggu yang terdiri dari 7 hari, satu tahun terdiri dari 12 bulan dan satu tahun, 354 hari."

Maksudi mengklaim "prediksi Aboge" selalu tepat, dan bahwa tradisi ini akan terus dipertahankan oleh pengikut yang berjumlah sekitar 1.000 di Purbalingga dan Cilacap.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bulan Ramadan selalu 30 hari menurut perhitungan berdasarkan Aboge yang juga diikuti oleh komunitas Bonokeling

"Kiblatnya ke ilmunya, prediksinya tepat...contohnya tahun 2018, lebarannya satu syawal jatuh hari Sabtu manis," kata Maksudi.

Menjelang Ramadan, kelompok ini memiliki ritual berziarah bersama-sama ke makam para leluhur. Komunitas yang mengikuti perhitungan Aboge ini termasuk kelompok Bonokeling.

An-Nadzir lebaran lebih awal

Hak atas foto Lukman Bakti
Image caption Lukman Bakti memimpin salat jemaah An Nadzir

Bila komunitas Aboge merayakan Idul Fitri lebih lambat dari tanggal yang ditetapkan pemerintah dan merayakan hari raya pada Rabu 27 Juni, di Sulawesi Selatan, jemaah An-Nadzir, berlebaran lebih awal pada Sabtu (24/06).

Ustad komunitas An Nadzir, Lukman Asli Bakti, mengatakan penghitungan yang mereka lakukan adalah dengan melihat akhir bulan, bukan seperti yang dilakukan pada umumnya dengan melihat penampakan bulan baru.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kelompok An Nadzir tinggal di daerah terpencil.

"Kami secara spesifik melihat perjalanan bulan, dengan fokus melihat akhir bulan Saban untuk menentukan awal Ramadan...Kenapa akhir Saban, karena sangat mudah kita amati dan jelas nampak bulan yang kita lihat sementara bulan pertama sangat tidak mungkin kita bisa lihat," kata Lukman kepada BBC Indonesia.

Lukman mengatakan pengikut An Nadzir yang berjumlah sekitar 1.000 orang di Gowa, Sulawesi Selatan juga ada di Bogor, Jakarta, Medan dan Dumai, Riau.

Ia juga mengatakan fase pergantian bulan ini juga dilihat berdasarkan tanda-tanda alam seperti air pasang.

"Saat pasang tertinggi pertama di situlah proses pergantian bulan terjadi...kami buka puasa pada hari Jumat (23/06) pada pukul 10.30 pagi karena ada proses pergantian bulan pada saat itu juga. Kami saur jam empat pagi pada hari terakhir Ramadan," tambah Lukman.

Komunitas ini didirikan oleh Syamsuri Abdul Madjid, yang memulai ajarannya di Dumai dan pindah ke Sulawesi pada 1998.

Ritual selama Idul Fitri, termasuk melakukan salat, dan kemudian ziarah dan bertemu dengan warga masyarakat lain.

Ia mengatakan sering menjadi perhatian karena memiliki penampilan yang berbeda dengan apa yang disebut Lukman "pakaian dengan mengacu pada sunah Rasul dan juga tampilan fisik, dengan rambut sebahu dan diwarnai."

Topik terkait

Berita terkait