Selamat dan Rohaya: Mengapa remaja nikahi nenek 71 tahun?

Nenek Rohaya Hak atas foto Sriwijaya Post
Image caption Rohaya, nenek 71 tahun yang menikahi remaja 16 tahun.

Cinta beda usia antara remaja Selamat Riyadi dan nenek Rohaya, 71 tahun, tak henti menyedot perhatian masyarakat.

Video yang merekam pernikahan keduanya, menyebar cepat lewat media sosial. Sampai kemarin, pasangan asal Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan, yang menikah siri pada Minggu (2/7) malam tersebut masih kebanjiran tamu - mulai dari tetangga, utusan Kementerian Sosial, sampai Ketua DPRD.

''Keduanya kalau tidak dinikahkan mau bunuh diri. Jadi kami putuskan secepatnya dinikahkan, minta tolong Ibnu Hajar, tokoh agama yang mantan P3N (Petugas Pembantu Pencatat Pernikahan,'' kata Kepala Desa Karangendah, Cek Ani.

Selamat, kata Cek Ani, tidak tamat sekolah dasar. Sedangkan nenek Rohaya adalah janda lanjut usia yang sudah dua kali menikah, kemudian menetap di Desa Karangendah 'sekitar 15 tahun terakhir'.

Berhubung pengantin pria baru berusia 16 tahun, masih di bawah 'usia menikah', kepala desa 'tidak berani mengeluarkan registrasi untuk Kantor Urusan Agama karena menyalahi administrasi'.

Undang-Undang Perkawinan 1974 mensyaratkan perempuan berusia 16 tahun dan laki-laki 19 tahun untuk bisa menikah.

''Menurut laporan dari kepala dusun, 4-5 bulan yang lewat sejak Selamat sakit, keduanya akrab. Selamat sering di rumah Ibu Rohaya. Dari situ dekatnya,'' ujar Cek Ani. Walau bukan saudara, nenek Rohaya yang merawat Selamat saat ia mengidap malaria, beberapa bulan yang lalu.

'Kasih sayang paripurna'

Saat keduanya dinikahkan, ramai warga berdatangan. ''Ada 500-an orang yang hadir,'' kata Cek Ani. Sebagai saksi yang mewakili nenek Rohaya ialah Raup, 75, kakak Rohaya.

Wartawan Sriwijaya Post, Leni Juwita, kepada BBC Indonesia menyampaikan bahwa Selamat 'sudah lama ingin menikahi Rohaya, namun terkendala Bulan Ramadan'.

Hak atas foto Sriwijaya Post
Image caption Rumah Rohaya di Desa Karangendah

Menurut Leni, pasangan tersebut kini menempati rumah milik nenek Rohaya yang berukuran 4 x 5 meter. ''Hanya ada dua lembar tikar lusuh. Tidak ada perabot mewah dan alat elektronik. Tidak ada HP,'' urai Leni yang turut hadir saat pernikahan Selamat dan Rohaya.

Selamat, kata Leni, hanya pekerja serabutan sebagai pembersih rumput upahan.

Sementara itu, pemerhati pernikahan anak dari Women Crisis Center, Yenni Izzi, mengatakan kasus pernikahan ini agak berbeda. ''Dia memilih menikah bukan karena faktor ekonomi, bukan karena fisik. Hanya karena dia merasa mendapat kebahagiaan dan kenyamanan, merasa diperhatikan, dikasihi, disayangi, sehingga kondisi itu membuat dia jatuh cinta kepada ibu ini.''

Secara psikologis, kata Yenni, Selamat yang tergolong anak memilih menikah supaya terus mendapat perhatian yang penuh dari Rohaya.

''Pikirannya masih pendek. Biar dia mendapatkan perhatian yang penuh maka harus hidup bersama. Hidup bersama, ya menikah,'' kata dia.

''Saat dia mau merasakan kasih sayang yang paripurna, maka salah satu caranya menikah.''

Topik terkait

Berita terkait