Lucu, iklan es krim dengan nuansa kolosal viral di dunia maya

indoeskrim Hak atas foto YOUTUBE / Dimas Djayadiningrat

Sebuah iklan es krim yang dibalut dengan nuansa sinetron kolosal menarik perhatian media sosial karena dianggap lucu dan unik.

Iklan berjudul 'Kisah Legenda Nusantara', yang disutradarai oleh Dimas Djayadiningrat ini, bercerita tentang dua bersaudara yang berkelahi lantaran rebutan makanan.

Lengkap dengan lagu yang berdentum dan pamer jurus bela diri, sang ibu berusaha menengahi pertikaian namun gagal - memaksanya untuk meraih ponsel pintar (dengan casing sebesar batako) dan menelepon suaminya - yang sedang terbang dengan elang raksasa jadi-jadian.

"Aku segera datang," kata sang suami bernada heroik sambil mengecek aplikasi Google Maps di ponsel. "Head west, you are in the fastest route despite of usual traffic," kata Google dalam bahasa Inggris, dan mereka pun meluncur.

Kepada BBC Indonesia, Dimas Djayadiningrat mengaku tak menyangka iklan Indoeskrim itu bisa menjadi viral. "Kita tidak menduga ya, karena kalau saya tidak pernah pikir hasilnya akan bagaimana. Saya justru berpikir prosesnya, yang detail, yang maksimal, habis itu yang kedua komunikasinya, sampai tidak pesannya."

Iklan digital harus "ekstra, ekstra menarik"

Video ini telah ditonton lebih dari puluhan ribu kali di YouTube, dan tersebar luas di Facebook dan Twitter. Dalam akun Instagram 9GAG, cuplikan video itu sudah ditonton sembilan juta kali dengan ribuan komentar.

"Lucu dan unik... hahahaha ngakakdeh ada-ada saja. Keren, karena ini berbeda, jadi pada penasaran. Keren yang buat dan yang punya ide," kata Shinta Juliet Lubis di YouTube. Unggahan di situs 9GAG malah menyebut iklan itu dari Malaysia - membuat sejumlah pengguna Twitter protes. "Reclaim our nation's pride," kata penulis buku Dewi Lestari.

Hak atas foto TWITTER / DEWI LESTARI

Menurut Dimas, iklan digital seperti ini memiliki pendekatan berbeda dibanding iklan televisi. "Digital itu harus ekstra, ekstra menarik, kerena orang dengan mudahnya nge-klik untuk ganti atau tidak menonton. Ini harus ekstra unik dan menarik."

"Dan saya melihatnya kalau di internet semakin katro, semakin senang orang-orang, semakin menyenangkan. Bukan dalam artian dibuat jadi orang katro, tetapi dalam artian mengkatrokan diri kita. Make fun of our self," paparnya.

Dari pemikiran itulah Dimas mengubah konsep yang ditawarkan klien dengan menggarap serius produksi ala sinetron kolosal di televisi mulai dari penggunaan DV Cam hingga pemain yang memang pernah berakting dalam sinetrom macam itu.

Hak atas foto YOUTUBE / Dimas Djayadiningrat

"Aslinya, satu keluarga di perumahan modern memperebutkan es krim, pakaiannya saja tradisional. Saya bilang ini dimaksimalkan saja sekalian, dibohong-bohongin sedikit di awal jadi penonton kira ini seperti sinetron beneran, baru di belakang kita mulai perlahan-lahan memberi tahu bahwa ini semua ngaco, semua ini bodor. Dan salah satu alatnya ya itu, handphone, garuda peranakan poodle ini," paparnya.

"Saya bilang ke mereka, kalau bikin digital memang begitu, nekad saja, kalau katro, katro sekalian, kalau koplak, koplak sekalian."

Tapi apakah ini merupakan ledekan terhadap budaya? Dimas dengan tegas membantah. "Saya hati-hati, saya tidak mau meledek budaya yang ada. Saya justru berkelakar di area sinetron itu."

Berita terkait