Kantor Twitter dicorat-coret dengan cuitan 'ujaran kebencian'

Warga memotret ''cuitan kebencian'', bagian dari proyek seni ''#HEYTWITTER'' yang dibuat Shahak Shapira di depan markas Twitter di Hamburg, Jerman. Hak atas foto Youtube via Reuters
Image caption Warga memotret ''cuitan kebencian'', bagian dari proyek seni ''#HEYTWITTER'' yang dibuat Shahak Shapira di depan markas Twitter di Hamburg, Jerman, pada 4 Agustus.

Seniman Jerman menyindir Twitter - raksasa media sosial yang dianggap gagal menghapus ujaran kebencian dalam platform mereka, lewat corat-coret cuitan kebencian di depan kantor Twitter Hamburg.

Shahak Shapira, seorang warga keturunan Yahudi, mengatakan enam bulan terakhir dia melaporkan 300 insiden ujaran kebencian. Hanya sembilan yang ditanggapi pihak Twitter.

Muncul sebuah video di YouTube yang memperlihatkan Shapira bersama 30 stensil cuitan kebencian tersebut.

''Jerman butuh solusi final terhadap Islam,'' bunyi cuitan salah satu warga net.

''Ayo, kita gas saja Yahudi,'' cuit pengguna internet lain yang mengkaitkannya dengan pembunuhan enam juta Yahudi oleh Nazi semasa Perang Dunia Kedua.

''Jika Twitter memaksa saya melihat (cuitan) yang semacam ini, maka mereka harus membacanya juga,'' kata Shapira dalam video yang diunggah Senin.

Dalam kolom komentar di YouTube, dia menguraikan bahwa cuitan-cuitan tersebut ''bukan sekadar penghinaan atau candaan ringan, tetapi sudah benar-benar menjadi ancaman kekerasan yang serius''.

Isinya pernyataan-pernyataan yang homofobia (fobia terhadap homoseks), xenofobia (ketidaksukaan terhadap orang dari negara lain atau yang dianggap asing), atau pengingkaran terhadap tragedi holokos.

Hak atas foto YouTube/Shahak Shapira
Image caption Shahak Shapira membuat stensil dengan konten cuitan yang dianggap tidak menyenangkan.

Menurut Shapira, Twitter merespon sembilan cuitan-cuitan yang ia laporkan dengan penjelasan cuitan tersebut tidak melanggar aturan situs.

"Belum ada satupun surel yang mengatakan cuitan tersebut sudah benar-benar dihapus," kata Shapira.

Di videonya yang berjudul #HeyTwitter, Shapira menjelaskan bagaimana dia membuat stensil cuitan-cuitan penuh kebencian tadi, kemudian berangkat ke Hamburg untuk menyemprotnya dengan cat di depan markas perusahaan media sosial tersebut.

''Besok,'' katanya, ''mereka mau tidak mau harus melihat semua cuitan indah, yang begitu mereka sukai sampai mereka abaikan begitu saja.''

Ujaran kebencian menjadi topik sensitif di Jerman, terutama yang terkait dengan kejahatan yang dilakukan Nazi semasa Perang Dunia II.

Bulan Juni, Jerman baru meloloskan undang-undang yang dapat memaksa perusahaan media sosial menghapus postingan rasis atau berisi fitnah dalam waktu 24 jam atau mereka dikenai denda €50 juta (sekitar Rp780 miliar).

Shapira mengatakan, dia juga melaporkan 150 komentar ke Facebook selama periode enam bulan yang sama dan 80 persen sudah dihapus dalam waktu satu sampai tiga hari.

Karen White, yang membidangi persoalan kebijakan publik Eropa di Twitter, kepada Reuters mengatakan: ''Selama enam bulan terakhir, kami meluncurkan serangkaian perangkat dan layanan baru Twitter kepada pengguna. Kami juga memperbaiki proses pelaporan dalam aplikasi untuk pengguna kami dan kami terus mengulas dan menekankan hal tersebut dalam kebijakan kami, juga upaya penegakannya.''

Perusahaan ini mengaku sudah menindak akun-akun yang berperilaku kasar, 10 lebih banyak dibandingkan tahun lalu.

Shapira sebelumnya ramai diberitakan karena aksi kontroversial melawan selfie (swafoto) di Tugu Peringatan Holocosdi Berlin.

Dia menyalin 12 swafoto di tugu peringatan tersebut yang diambilnya di media sosial, kemudian mempublikasikannya di situs web bernama "Yolocaust" - gabungan tagar populer Yolo - "you only live once" atau Anda hidup hanya sekali saja- dan Holocaust.

Hak atas foto Shahak Shapira
Image caption Pelempar bola dalam situs Shapira, Yolocaust.

Tiap-tiap foto diubah sedemikian rupa sehingga saat digeser maka tugu peringatan yang menjadi latar tergantikan dengan gambar-gambar kamp konsentrasi zaman Nazi.

Kali ini dia bilang: "Mari tunggu apa yang akan terjadi, mari lihat seberapa banyak foto bodoh yang tidak pantas yang harus saya lihat di internet.''

"Kalau Anda bertanya kepada saya apakah hal tersebut benar atau salah, ini sesungguhnya sudah pertanda yang baik. Jawabannya, memang tidak harus salah satunya. Yang jelas topik-topik ini sebaiknya diangkat dalam perdebatan."

Berita terkait