Siapa perempuan pilot uji yang terbangkan N219 buatan Indonesia?

Dok. Ester Gayatri Hak atas foto Dok. Ester Gayatri

Pesawat N219 sukses menjalani uji terbang perdana Rabu (16/8) kemarin. Ukurannya memang kecil dengan kapasitas 19 orang, tapi proses pembuatannya diawali dengan impian yang besar.

Disebut-sebut sebagai pesawat yang dirancang sepenuhnya oleh para insinyur Indonesia sendiri, N219 berhasil diterbangkan dalam ujicoba dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung - dan menjadi 'kado' peringatan kemerdekaan dari PT. Dirgantara Indonesia.

Masih dibutuhkan rangkaian uji coba tambahan dalam waktu satu tahun lebih untuk akhirnya bisa merilis pesawat ini dipasaran. Namun proyek pesawat yang memerlukan dana Rp827 milyar ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri terutama untuk daerah pedalaman.

Di balik kokpit adalah Kapten Esther Gayatri Saleh, seorang kepala pilot uji perempuan yang telah berkiprah sejak 1984, dan ini adalah pengalaman pertamanya menguji pesawat prototipe.

BBC Indonesia berbincang dengannya seputar pengalaman langka itu.

Hak atas foto PT Dirgantara Indonesia

Bagaimana kesan Anda ketika menerbangkan pesawat N219 pertama kali?

Very interesting -sangat menarik.Pertama kali, rasa bangga ada. Penasaran karena ini penerbangan pertama, Anda tidak pernah tahu. Sangat berisiko. Tapi setelah di runaway dan take off, saya hanya lakukan apa yang sudah dilatih dalam persiapan penerbangan.

Bagaimana penilaian Anda terhadap pesawat itu?

Bagus, better than expected -lebih baik dari yang diperkirakan. Banyak hal yang lebih bagus dibanding yang diprediksi di atas kertas. Tapi saya tidak bisa memberikan data-data karena masih terlalu dini, penerbangannya masih terbatas, tesnya juga hanya tiga puluh menit. Tetapi kita sudah rekam semua parameter. Pesawatnya memang baik, tetapi selanjutnya masih ada tahapan lanjutan untuk pengetesan lagi.

Hak atas foto PT Dirgantara Indonesia

Apa yang spesial dari pengujian N219?

Mau uji pesawat apapun risikonya sama. Bedanya karena ini semua buatan dalam negeri, rekayasa dalam negeri (dibuat oleh) kita, anak-anak bangsa. Beda dong, saya lebih bangga menerbangkan pesawat N219 daripada saya menerbangkan pesawat model lain. Ada nilai yang berbeda karena kita menerbangkan pesawat buatan sendiri.

Kalau dari segi teknis?

Kita desain ini sangat sederhana. Itu dibuat nantinya seperti, "you are flying an aircraft like driving a car"- Anda menerbangkan pesawat tak ubahnya mengemudikan mobil. Karena ini kegunaannya untuk short take off dan short landing, terbang landas dan mendarat di landasan yang pendek, makanya dibuat sederhana, akses perawatan dibuat mudah. Harga dibuat bersaing nanti, tapi jangan tanya saya harganya berapa.

Seberapa besar risiko pilot ketika harus menguji prototipe pesawat semacam ini?

Anda menerbangkan pesawat yang Anda tidak tahu perilakunya seperti apa. Walau di atas kertas sudah terdefinisi,tapi di dunia nyata, Anda harus menerbangkannya, bukan hanya teori, harus diuji, diverifikasi bahwa rancang bangun (yang dibuat) bisa terbang juga.

Jadi sesulit apa? Risikonya sebesar apa? Risikonya sangat tinggi. Prototipe pesawat itu risikonya tinggi.

Berbeda, kalau pilot-pilot lain itu kan operator, mereka menerbangkan pesawat yang sudah disertifikasi. Kalau pesawat yang baru Anda tidak tahu, Anda yang membuat aircraft flight manual, dan manual ini yang dikasih ke costumer. 'Ini sudah selesai pesawatnya sudah certified, kini kita latih pilot-pilot Anda untuk menerbangkannya.'

Hak atas foto Dok. Esther Gayatri

Kenapa Anda memutuskan jadi pilot uji?

Ini menantang dan sebuah privilege.

Saya diterima PT. Dirgantara Indonesia tahun 1984, berjalannya waktu saya butuh tambah jam terbang, jadi saya juga terbang di Merpati. Menimba ilmu, untuk tahu kalau (pilot) operator seperti apa, sehingga saya tahu kebutuhan pilot operator seperti apa. Sehingga keperluan operator bisa terdata oleh saya: oh mereka itu maunya seperti ini, jadi kalau di pabrik kita harus menjawab kebutuhan.

Saya sangat menghargai orang yang ingin menerbangkan pesawat di maskapai penerbangan. But for me, it is not my place. Itu bukan tempat yang paling cocok bagi saya. Saya ingin berkarir untuk membuat suatu produk.

Industri penerbangan ini kebanyakan didominasi laki-laki, seberapa sulit bagi Anda mendobrak pandangan orang?

I've been there for many years. It depends on us.Saya sudah bekerja seperti ini belasan tahun. Banyak hal tergantung kita juga. Awalnya di sana saya tidak mudah. Waktu awal saya masuk tahun 1984 juga masih ada penolakan-penolakan tidak tertulis. Tapi berjalannya waktu tentunya mereka melihat (kemampuan saya).

Intinya saya tahu apa panggilan hidup saya. Mungkin inilah talenta yang Tuhan berikan kepada saya: untuk menjadi pilot uji coba. Ini bukan sekedar pekerjaan, ini panggilan. It is not just another price tag, it is a value.

Anda sempat menyebut 'penolakan-penolakan tidak tertulis'. Seperti apa penolakan itu?

Sudah lama itu. Apa sudah pantas kita punya pilot perempuan? Bisa tidak dia? Kalau dilihat kan postur saya pendek hahaha...

Tapi juga mungkin latar belakang saya dianggap kurang memadai, dan stereotip bahwa ini adalah profesi yang dominan laki-laki. Tapi saya bekerja bukan untuk meyakinkan siapa-siapa, saya kerja karena memang ini panggilan. Ini tugas berat yang Tuhan berikan untuk saya, jadi saya jalankan dengan suka cita.

Saya menikmati pekerjaan ini dan saya berikan yang terbaik sehingga mereka akhirnya bisa terima dengan baik.

Hak atas foto Dok. Esther Gayatri

Anda kapten pilot uji perempuan pertama yang menerbangkan prototipe pesawat?

Saya tidak tahu, tapi (pilot perempuan) yang terbangkan prototipe jarang sekali. Boeing saya yakin tidak punya, Airbus (juga) tidak punya pilot perempuan yang terbangkan prototipe.

Jadi PTDI ini mendobrak, pilot uji perempuan pertama yang terbangkan prototipe. Saya pikir ini anugerah Tuhan. Karena susah sekali, di luar negeri untuk menjadi kepala pilot uji saja susah, apalagi menerbangkan prototipe. Karena membuat pesawat itu jarang. Karena mahal. Yang sering itu membuat serinya, misalnya 737 seri 800, dan lain-lain.

Jadi ini pengalaman Anda pertama terbangkan prototipe?

Pertama kali. Terakhir PTDI buat prototipe itu 22 tahun lalu (pesawat N250, berkapasitas 50 penumpang). Jadi yang terbangkan grup- lain, senior saya.

Apa harapan Anda untuk pesawat N219?

Saya ingin produk ini bisa jadi jawaban untuk landasan pendek yang ada di Indonesia. Jadi produksinya bisa masif dan dijual ke pelanggan.

Berita terkait