Sampo oplosan pestisida tewaskan warga desa: mengapa Diazinon begitu berbahaya?

kutu Hak atas foto Getty Images

Seorang ibu tiga anak menggunakan pestisida Diazinon untuk membasmi kutu kepala. Dua anaknya tewas dan satu masih dalam perawatan di RSUD Pandan Arang Boyolali, Jawa Tengah.

Akhir Rutiyani, 35 membalur kepala tiga anaknya dengan 'obat kutu': Khamilla 4,5 tahun, Qaulan Shakila 9 tahun, dan Klarissa 12 tahun. Dia juga memakai obat tersebut di kepalanya sendiri.

Khamilla dan Qaulan meninggal dunia Sabtu (26/8). Sedangkan Akhir sudah keluar dari rumah sakit dan kondisi Klarissa membaik, siap dipulangkan.

Diazinon — kimia beracun yang dipakai petani untuk mematikan hama serangga — berbahaya bagi manusia, kata ahli.

Andi Trisyono, ahli toksikologi insektisida dari Universitas Gadjah Mada mengatakan racun ini masuk golongan pestisida 'yang lebih beracun' terhadap mamalia dibandingkan jenis yang lain.

''Sistem syaraf manusia dan sistem syaraf kutu banyak kemiripannya,'' kata Andi.

''Diazinon membunuh serangga dengan cara menyerang enzim kolinesterase. Manusia juga punya enzim yang sama, jadi bisa terganggu kalau racun ini kena manusia.'' Efek keracunannya antara lain mual, pusing, mata berkunang-kunang, kata dia.

Bisakah pestisida dipakai sebagai obat?

''Pestisida itu jangan dianggap sebagai obat, pestisida itu racun,'' Andi menekankan.

Dari kasus keracunan 'obat kutu' di Boyolali, Andi mengatakan kuncinya adalah menekan pengetahuan masyarakat mengenai berbagai macam resiko pestisida. Lebih khususnya lagi racun yang digunakan di bidang pertanian, perikanan, kehutanan, termasuk juga bidang kesehatan manusia.

Makanya, kata Andi, pemakaian racun berbeda jauh dengan obat untuk menyembuhkan manusia.

Ini bukan kasus pertama, kata dia. ''Kasus keracunan pestisida, walau tidak sampai meninggal, cukup banyak. Beberapa bulan lalu saya juga dapat kabar petani meninggal setelah menggunakan pestisida.''

Hak atas foto Getty Images
Image caption Seorang pekerja pabrik wig di India membersihkan kutu dari bahan baku rambut

Badan Kesehatan Dunia WHO memperkirakan kasus keracunan pestisida akut mencapai 3 juta setiap tahunnya, dengan angka kematian mencapai 220 ribu. Umumnya kasus ini terjadi di negara berkembang seperti Afrika, Asia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.

Kulit kepala mereka tidak melepuh

Saat tiga anak Akhir Rutiyani ini tidur, mereka tiba-tiba terbangun karena merasa mual, pusing, dan lemas. Demikian Direktur RSUD Pandan Arang, Siti Nur Rohmah Hidayati menyampaikan kembali penuturan keluarga kepada BBC Indonesia.

''Ketika masuk rumah sakit, kondisi pasien yang kecil sudah kritis. Yang besar usia 12 tahun masih sadar. Dari gejala-gejala yang muncul memang intoksikasinya (keracunan) muncul seperti bau, kemungkinan karena terhirup hidung. Kondisi kulit kepalanya tidak luka dan tidak melepuh,'' kata Nur Rohmah.

Pihak rumah sakit menambahkan, siang harinya ibu anak-anak tersebut ikut dilarikan ke rumah sakit, 'tapi kondisinya masih bagus'.

Anak yang bernama Qaulan Shakila meninggal dunia Sabtu (26/8) dini hari. Disusul Khamilla yang masih balita malam harinya. Sedangkan anak tertua kondisinya sudah membaik dan segera keluar rumah sakit. Adapun ibunya sudah lebih dulu dipulangkan.

Image caption Tenda masih terpasang di rumah duka keluarga di Desa Kiringan, Boyolali, Jawa Tengah. Foto Fajar Sodiq

Polisi Boyolali menyita tujuh botol bekas pewarna makanan yang diduga dipakai sebagai wadah untuk mengoplos 'obat kutu'.

Hasil penyelidikan petugas, 'obat kutu' tersebut diperoleh dari warga bernama Sutinah, 70, warga Gatak Boyolali.

Ia mengaku meraciknya dengan oplosan insektisida. ''Dari rumah peracik obat kutu rambut diamankan barang bukti dua botol insektisida merk Diazinon dan satu botol kecil bekas pewarna makanan,'' kata Kasubag Humas Polres Boyolali AKP Muryati.

Sutinah dibantu anaknya Budiyanto, 31 menyiapkan racikan 'obat kutu' tadi, demikian kata AKP Muryati. Budiyanto membeli cairan pembasmi kutu merk Diazinon tadi di toko pertanian daerah Sunggingan, Boyolali seharga Rp20 ribu.

''Dari keterangan Sutinah, kemasan obat insektisida yang dibeli itu berbeda dengan sebelumnya. Namun kandungan dan komposisi yang tertera di botol sama dengan kemasan yang lama,'' kata AKP Muryati.

Menurut polisi, keluarga korban keberatan dilakukan autopsi dan menyatakan tidak akan menuntut secara hukum peracik 'obat kutu' tadi.

Topik terkait

Berita terkait