Foto imam Kanada dicatut untuk sebar berita palsu Badai Harvey

Ibrahim Hindy Hak atas foto Global News/Ibrahim Hindy
Image caption Ibrahim Hindy menjawab melalui akun Twitternya bahwa foto di berita palsu adalah foto dirinya.

Seorang imam dari Kanada memperingatkan bahaya apa yang ia sebut 'berita palsu' setelah fotonya digunakan dalam artikel tentang masjid Texas yang disebutkan menolak ratusan korban badai non-Muslim saat Badai Harvey menerjang.

Ibrahim Hindy mengatakan fotonya dicatut untuk melengkapi berita yang menyebutkan sebuah masjid di Texas menolak korban non-Muslim yang mencari perlindungan selama badai terjadi.

Badai Harvey menyebabkan banjir parah dan mengakibatkan ribuan orang mengungsi. Banyak fasilitas umum yang dibuka sebagai tempat penampungan sementara korban badai.

Hindy, yang tengah beribadah haji, menggunakan akun Twitter untuk menekankan bahwa ia bukan imam dalam berita itu dan belum pernah ke Texas.

Tanggapan Hindy mendapatkan banyak dukungan dan dibagikan lebih dari 200.000 kali dan disukai hampir 350.000 kali sampai Senin (04/09).

Imam asal Toronto ini mengatakan ia memutuskan untuk bersuara karena ia ingin menghadapi mereka yang menggunakan berita palsu untuk memecah belah orang.

Ia mendesak orang-orang untuk memusatkan perhatian pada berita positif, seperti banyaknya masjid di Texas yang dibuka untuk menampung korban selama bencana.

Masjid dengan nama palsu, 'Ramashan'?

Artikel tentang masjid Texas yang disebutkan bernama 'Ramashan' diterbitkan pada tanggal 31 Agustus di situs America's Last Line of Defense, yang menyebut diri situs satiris.

"(Ini) adalah penerbitan satiris yang terkadang menyampaikan kebenaran," tulis situs itu.

Mereka menyatakan masjid Ramashan dapat menampung lebih dari 500 orang namun tidak mau menerima non-Muslim atas perintah imam. Cerita lain menyebutkan korban banjir akhirnya menyerbu masjid untuk mencari tempat penampungan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sukarelawan membagian bantuan untuk para korban banjir.

Foto Ibrahim Hindy digunakan di bawah judul "Masjid Texas menolak membantu pengungsi: Allah melarang membantu orang kafir".

Ribuan orang menanggapinya dengan serius dan artikel itu dibagikan lebih dari 126.000 kali.

Namun foto Hindy kemudian diganti dengan Imam Lebanon Ahmad al-Assir.

Sejumlah orang mengatakan nama masjid juga salah karena "Ramashan" tak ditemukan di peta ataupun di mesin pencari.

Kewajiban agama

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Korban badai di tempat penampungan sementara.

Namun berita satiris ini dibagikan oleh akun Twitter yang cukup banyak pengikutnya dengan tagar antara lain #MAGA ('Make America Great Again') - slogan kampanye yang digunakan Presiden Donald Trump dan juga #TrumpTrain, yang digunakan oleh akun kelompok sayap kanan.

Hak atas foto @JimRobinson3RD
Image caption Akun Jim Robinson menggunggah berita dengan foto Hindy.

Unggahan akun @JimRobinson3rd dibagikan lebih dari 1.800 kali, sebagian menanggapi dengan komentar Islamofobia. Namun ada juga yang jelas menyebut bahwa artikel itu itu palsu.

Hindy yang masih berada di Mekah Senin (04/09) mengatakan selama beribadah ia dan rekan-rekan ikut mendoakan korban badan di Texas itu.

"Rekan-rekan dan saya mendoakan korban Badai Harvey #HurricaneHarvey. Saya bertemu dengan seorang jemaah dari Houston di hotel kami dan ia bercerita ia kehilangan rumah saat menunaikan ibadah Haji. Kesulitan yang ia alami sangat memprihatinkan" tulis Hindy.

Selama Badai Harvey, berbagai pihak membuka pintu untuk membantu termasuk paling tidak empat masjid yang dijadikan tempat penampungan dengan menyediakan makanan dan air.

MJ Khan, presiden Islamic Society of Greater Houston, menegaskan bahwa membantu korban bencana merupakan "kewajiban agama untuk menolong sesama".

"Ini adalah kewajiban, kewajiban agama untuk membantu sesama. Saat kamu memberi, Anda tak bisa hanya membantu keluarga sendiri saja ... Anda juga membantu siapa pun yang perlu bantuan," kata Khan.

Berita terkait