Ni Putu Kariani: Kasus suami 'potong' kaki istri di Bali bagian dari 'gunung es' KDRT

LBH Bali menjengung Kariani di RS Shanglah. Hak atas foto Jenny Jusuf
Image caption LBH Bali bersama Jenny Jusuf menjenguk Kariani di RS Sanglah.

Ni Putu Kariani masih terbaring di rumah sakit di Bali dalam kondisi trauma setelah kakinya dilaporkan dipotong oleh suaminya sendiri, kekerasan "ekstrem" dan merupakan bagian dari "gunung es" kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia, menurut Komnas Perempuan.

Kariani terlihat pucat dan tak banyak bicara, menurut Jenny Jusuf, aktivis media sosial yang menemuinya bersama tim Lembaga Bantuan Hukum Bali di Rumah Sakit Sanglah pada Rabu (13/09).

Menurut keluarga, Kariani sering mengigau meminta "jauhkan goloknya." Anak bungsunya yang duduk di bangku kelas empat sekolah dasar ikut menyaksikan kekerasan ini.

Jenny mengumpulkan donasi 'Peduli Putu, pejuang kekerasan domestik' melalui Kitabisa.com untuk meningkatkan kesadaran atas tingginya KDRT di Indonesia serta membantu pengobatan serta pemulihan fisik dan psikis dengan target Rp100 juta.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga ini merupakan bagian dari lebih 259.000 kasus di seluruh Indonesia yang tercatat di tengah "masih banyak yang tersembunyi," menurut komisioner Komnas Perempuan, Indri Suparno.

Dari angka lebih 259.000 ini, menurut Indri - 57% di antaranya adalah KDRT yang angkanya terus meningkat dari tahun ke tahun. Di luar angka itu, ia mengatakan kasus KDRT terus meningkat dari tahun ke tahun dan masih banyak yang tidak dilaporkan karena masalah pribadi yang dianggap tabu untuk diperkarakan.

"KDRT masih seperti gunung es...Angka yang didokumentasi Komnas belum menunjukkan keseluruhan angka KDRT karena angka yang tersembunyi atau belum dilaporkan masih banyak karena KDRT bersinggungan dengan persoalan privat yang dianggap oleh sebagian tabu untuk diungkap," kata Indri kepada BBC Indonesia.

"Persoalan KDRT faktornya kompleks, di mana di daerah-daerah secara budaya diizinkan diperlakukan secara tidak adil, misalnya dalam adat harus selalu melayani dan selalu bersiap ketika suaminya minta pelayanan apapun. Itu salah satu faktor yang menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga terjadi.

"Selain tabiat dan keyakinan agama yang keliru juga kultur dan budaya yang menyebabkan perempuan susah menegaskan situasi dan kondisinya saat ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga dengan suaminya sehingga ia sulit untuk melawan," tambah Indri.

Dalam kasus Kariani, menurut cerita keluarga kepada Jenny Jusuf, kekerasan telah dia alami selama bertahun-tahun dan pihak keluarga selalu meminta untuk bersabar.

"Penganiyaan sudah terjadi lama bertahun-tahun, mereka menyebutnya penganiyaan besar dan kecil, penganiyaan besar empat atau lima kali. Putu pernah pulang dengan kepala benjol berisi cairan dan akhirnya harus dioperasi, contoh lain tubuh disundut rokok, memar-memar, itu terjadi bertahun-tahun tapi dari pihak keluarga menyarankan bertahan dengan harapan suaminya bisa berubah," kata Jenny mengutip keluarga Kariani.

"Namun dengan kejadian ini, Putu akan ikut dengan mereka dan tak ikut dengan keluarga suaminya lagi. Kondisi sudah parah karena harus kehilangan kaki," tambahnya.

Kate Walton, pendiri akun Menghitung Pembunuhan Perempuan di Facebook, mengharapkan tidak akan ada keringan hukuman suami Kariani karena kasus yang "sadis dan ekstrem" ini.

Tertinggi di DKI Jakarta dan Jawa Timur

Hak atas foto Facebook
Image caption Kariani dipotong kakinya oleh suaminya di depan anaknya.

"Sepertinya suaminya cemburu dan menduga Putu selingkuh. Kita tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Namun, jika ternyata benar, seharusnya tetap tidak meringankan hukuman suaminya, karena cemburu bukan alasan untuk kekerasan.

"Apa yang dilakukan pada Putu sangat mengherankan sekali, sangat sadis dan ekstrem, dan yang paling sedih adalah teryata Putu sudah beberapa kali minta izin kepada keluarganya untuk menceraikan suaminya, tetapi tidak pernah diizinkan," kata Kate.

Sejumlah laporan mengutip anggota keluarga Kariani yang mengatakan ia sudah beberapa kali meminta cerai dari suaminya.

Terkait pembunuhan terhadap perempuan, sepanjang tahun ini saja yang dicatat Kate Walton dari pantauannya melalui media sudah lebih dari 114 orang.

"Umur mereka berbeda semua, dari tiga tahun sampai 79 tahun. Tempat tinggal mereka juga berbeda: ada yang tinggal di kota, ada yang di desa, ada yang di Jakarta, ada yang di wilayah pelosok di Riau dan Sikka. Ada yang ditembak, ada yang dicekik, ada yang ditikam, ada yang ditenggelamkan. Ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan, termasuk KDRT, sudah menjadi budaya di Indonesia dan bisa terjadi di mana saja kepada siapa saja," kata Kate.

Komnas Perempuan mencatat jumlah tertinggi kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia di DKI Jakarta dan Jawa Timur.

Namun tingginya angka ini karena disebabkan mudahnya akses pengaduan dan lebih siapnya aparat hukum, menurut Indri Suparno.

Kate Walton, pegiat hak perempuan asal Australia yang tinggal di Jakarta, mengatakan fasilitas seperti Pusat Pelayanan Terpadu untuk Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) merupakan langkah baik pemerintah Indonesia namun banyak yang belum berjalan maksimal.

"Banyak P2TP2A ini belum berfungsi dengan maksimal, biasanya karena anggaran yang dialokasikan tidak memadai dan staf belum cukup terlatih untuk menangani kasus kekerasan. Salah satu contoh yang bagus adalah P2TP2A di Kota Timika, Kab. Mimika, Provinsi Papua. P2TP2A tersebut sudah didanai dengan baik, staf sudah terlatih, dan jaringan dengan polisi dan fasilitas kesehatan (rumah sakit maupun Puskesmas) sudah dibangun dan dijalankan. Sayang sekali, kebanyakan P2TP2A di Indonesia belum sebagus yang di Kota Timika," kata Kate.

Berita terkait