Mengapa unggahan-unggahan aktivis Rohingya dihapus?

aktivis Rohingnya, Shan Hossain. Hak atas foto Shah Hossain
Image caption Unggahan Shah Hossain dihapus di tengah konflik yang terjadi di Myanmar.

Unggahan sejumlah aktivis Rohingya di media sosial terkait konflik di Myanmar diklaim dihapus dan banyak yang mempertanyakan apakah mereka menjadi sasaran terkoordinasi pemerintah.

Shah Hossain adalah aktivis Rohingya yang tinggal di Arab Saudi. Ia membuka akun Facebook sejak 2010 dan terkejut saat sejumlah unggahan terkait kejadian di Negara Bagian Rakhine dihapus.

Sebagian besar konten, termasuk gambaran tentang kekerasan, dan peraturan Facebook biasanya mengizinkan gambar-gambar seperti itu karena dianggap untuk kepentingan publik.

Hossain mengatakan ia punya kontak yang tinggal di Myanmar dan mengirimkannya foto dan video terkait kejadian di sana.

Hossain adalah salah satu dari sejumlah aktivis Rohingya yang mengaku unggahannya atau videonya dihapus oleh jaringan media sosial di tengah terjadinya konflik di kawasan itu.

Masalah ini bukan hanya di Facebook namun juga YouTube. Hossain termasuk aktivis yang mengorganisir saluran YouTube Arakan News Agency.

Pria menggali kubur

Hak atas foto Shah Hossain
Image caption Ada lebih 60.000 pelanggan di saluran YouTube Shah Hossain saat dicabut.

"Ada sekitar 60.000 pelanggan dan tiba-tiba YouTube menghapus saluran itu. Ini tak kami duga akan terjadi di media sosial. Kami mencoba untuk mengangkat isu kami namun jaringan media sosial memblokir kami," kata Hossain.

BBC Trending menghubungi YouTube dan perusahaan itu mengatakan saluran itu menerima "peringatan" beberapa kali terkait pelanggaran yang berujung pada penghentian. Namun mereka mengambil keputusan untuk mengaktifkan lagi.

Sejak bulan lalu, lebih dari 400.000 Muslim Rohingnya melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh di tengah operasi militer di Rakhine yang menurut PBB merupakan pembersihan etnik.

Menurut kelompok HAM, militer Myanmar membakar desa-desa Rohingya. Namun militer mengatakan mereka membalas serangan milisi Rohingya dan menyanggah menyasar warga sipil.

Sejumlah unggahan Shan Hossain yang dihapus dari Facebook sangat menggambarkan kekerasan. Salah satunya menunjukkan sejumlah pria menggali kubur untuk perempuan-perempuan yang meninggal.

Video lain menunjukkan anak laki yang telanjang dan tampak bingung dengan luka di kepalanya dan muka penuh abu. Pria di tempat kejadian mengatakan anak itu mengalami luka bakar setelah milisi membakar desanya. Namun BBC belum dapat memverifikasi keaslian video-video itu.

Tetapi tidak semua unggahan para akvitis sangat grafis menggambarkan kekerasan.

Nay San Lwin, aktivis Rohingnya yang bermarkas di Jerman, mengorganisir jaringan aktivis di Rakhine. Lwin secara rutin mengunggah kometar di akun Facebooknya dalam bahasa Myanmar terkait apa yang ia dengar dari lapangan.

Lwin mengatakan unggahannya terkait tuduhan terhadap militer Myanmar telah dihapus termasuk berbagai puisi.

"Rekan saya di Kuala Lumpur mengunggah berita dalam bahasa Inggris. Itu dihapus oleh Facebook dan akunnya dibekukan selama 72 jam."

Tuduhan kampanye pemerintah

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ratusan ribu pengungsi Rohingya melarikan diri dari Rakhine.

Ia memiliki ribuan pengikut di media sosial yang menurutnya sering mengecamnya. "Mereka mengancam mati saya karena saya menggunggah informasi ini di akun Facebook saya."

Lwin percaya dihapusnya unggahan itu merupakan bagian dari kampanye pemerintah atau pendukung pemerintah untuk mendiskreditkan Rohginya melalui internet dengan melaporkan unggahan mereka ke perusahaan media sosial.

Tuduhan ini sulit dibuktikan namun juga disebutkan oleh kelompok HAM.

"Kami mendapat laporan dari sejumlah aktivis Rohingya yang unggahan mereka di Facebook dan Twitter dihapus," kata Laura Haigh, peneliti Burma di Amnesty International.

"Tidak jelas dari mana ini berasal dan apa alasannya. Yang kami mengerti adalah para aktivis ini adalah yang mengunggah, melalui Facebook atau Twitter dan mereka mendapat banyak keluhan tentang unggahan mereka. Unggahan yang dihapus banyak yang berasal dari aktivis yang diketahui melaporkan dari Negara Bagian Rakhine," kata Haigh.

"Semua ini bagian dari perang propaganda yang terjadi di balik layar," tambahnya.

Berita terkait