Banyak hoaks tersebar, berikut 6 hal tentang Gunung Agung

hoax

Setiap suatu bencana duduk di tren pencarian, medsos pun langsung dijejali oleh foto-foto dan video hoaks.

Tidak terkecuali sekarang, saat Gunung Agung Bali naik status ke level 'awas' dan berita evakuasi meluas. Secara bersamaan pula foto, video, serta tautan yang dibumbui kebohongan berusaha merebut perhatian lewat Whatsapp, Youtube, Twitter, dan media sosial lainnya.

Berikut 6 kabar hoaks yang beredar tentang Gunung Agung dan dianggap mengganggu evakuasi:

Hak atas foto Getty Images
Image caption Gunung Agung naik status menjadi 'awas' setelah gempa-gempa kecil bertambah sering di wilayah sekitar lereng

#1 Gunung Agung 'meletus malam ini'

Kebohongan yang berbunyi 'Gunung Agung meletus malam ini' bersirkulasi lewat pesan berantai di Whatsapp pada Minggu (24/9).

Lebih lengkap pesannya:

''Yang di Surabaya dan sekitarnya bisa siapkan masker, karena abu vukanik akan sampai Surabaya dan merujuk letusan tahun 1963 debu sangat tebal bahkan saat siang hari tidak tampak. Tertutup debu vulkanik.''

Orang cenderung lebih percaya dengan informasi yang beredar dalam grup percakapan tertutup Whatsapp, terlebih jika mereka pengirim pesan adalah orang dekat, misalnya keluarga atau teman kantor. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan penebar hoaks untuk menebar kepanikan.

Hoaks tadi merembet ke berbagai format media sosial dan memicu kegaduhan yang tidak perlu. Akibatnya, di malam yang sama Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kasbani mengeluarkan keterangan pers untuk menegaskan bahwa kabar yang beredar 'tidak dapat dipastikan kebenarannya'.

Sedangkan, Humas BNPB Sutopo berkicau di Twitter: ''Di saat ribuan warga sekitar Gunung Agung mengungsi, masih saja ada orang yang menyebarkan berita menyesatkan dan bohong. Ini Hoax.''

Sedikitnya, ada dua kebohongan dalam informasi tersebut. Pertama, Gunung Agung malam itu tidak meletus. Kedua, spekulasi soal waktu letusan dianggap Kepala PVMBG Kasbani tidak berdasar, mengingat di seluruh dunia sampai saat ini 'tidak ada yang mampu memastikan kapan letusan akan terjadi'.

#2 Video yang mendahului peristiwa, berjudul 'Gunung Agung meletus dahsyat beberapa saat lalu'

Masih di hari yang sama, sebuah video beredar di kanal YouTube dan menayangkan lelehan lava pijar dan semburan abu vulkanik dahsyat — tapi bukan dari Gunung Agung melainkan dari Gunung Sinabung di Sumatra Utara yang meletus tahun 2015.

Video ini menimbulkan asumsi publik bahwa Gunung Agung sudah meletus. Akibatnya, warga net mengingatkan orang lain dalam jaringannya dengan peringatan palsu. Akun @BNPB_Indonesia pun angkat bicara meluruskan informasi keliru yang sudah terlanjur beredar. 'Gunung Agung belum erupsi, namun status awas.''

#3 Manipulasi foto hujan abu dari Soputan

Selain menyandung warganet dengan video Gunung Sinabung, pembuat hoaks juga mengedarkan foto-foto letusan dan hujan abu. Namun, bukan dari Gunung Agung melainkan dari letusan Gunung Soputan pada 2015.

#4 Permainan data pengungsi

Sebuah situs melaporkan bahwa total warga yang mengungsi dari wilayah bahaya Gunung Agung melebihi 15 juta jiwa.

Humas BNPB segera meluruskan bahwa penduduk Provinsi Bali tahun 2017 hanya 4,2 juta jiwa. Adapun, total pengungsi yang tercatat oleh BPBD Bali sampai pukul 12 Wita mencapai 75.673 jiwa. Tersebar di 377 titik pengungsian yang berada di 9 kabupaten/kota.

''Diperkirakan data jumlah pengungsi masih bertambah, karena pendataan masih terus dilakukan,'' kata Sutopo.

Saat ini situs tersebut sudah mengoreksi artikel. Total pengungsi 15 juta jiwa kini berubah menjadi 15 ribu jiwa. Hoaks atau tipografi? Entah, yang jelas sejumlah warga sudah sempat terhasut.

#5 Bermain dengan sentimen

Lainnya bermain dengan sentimen dan membuat keriuhan di media sosial. Bunyinya: "Kepada Yth Bapak Presiden RI, saya mau tanya apa bedanya kami dengan pengungsi Rohingya? Mereka bapak kasih bantuan berton-ton, sementara warga asli Indonesia apa?''

Deret pertanyaan tersebut dijawab skeptis oleh warganet. Akun @nic0nic0niiiiii mencuit: ''Mengecewakan... ada saja pihak yang memanfaatkan situasi seperti ini untuk kepentingan politik. Rendahan.''

#6 Aksi nekat warga menyelinap ke zona merah Gunung Agung

Semenjak level Gunung Agung naik menjadi 'Awas', penduduk yang berada di zona merah atau sekitar 12 kilometer dari puncak diungsikan. Gubernur Bali Made Mangku Pastika juga sudah memerintahkan warga maupun turis yang nekat berada di zona tersebut ditangkap dan dipaksa keluar.

Walau demikian, pada 29 September warga bernama Wayan Ada - pemilik akun Facebook Mangku Mokoh - bersama dengan pamannya Jro Mangku Kari membagikan video suasana puncak dan penampakan kawah dari Gunung Agung.

Pada postingan tersebut, akun Mangku Mokoh mengatakan:

''Tadi pagi saya naik ke puncak Gunung Agung karena saya belum tahu kapan Brahma, Wisnu, dan Siwa akan berjalan. Jika video ini penting bagi Anda tolong dishare, biar semua pengguna Facebook tahu bagaimana keadaaan Gunung Agung saat ini, Suksma.''

Sementara itu, walau membenarkan bahwa apa yang terekam itu adalah situasi terakhir kawah Gunung Agung, namun Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada BBC Indonesia menekankan melanggar radius berbahaya.

''Itu memang benar kondisi di kawah, tapi berbahaya sekali melanggar radius bahkan sampai dekat kawah,'' kata Sutopo.

Topik terkait

Berita terkait