Hari Batik Nasional: Benarkah batik Jawa tetap yang paling asli?

Salah satu koleksi batik dari Iwan Tirta yang ditampilkan di Jakarta Fashion Week, 2014 lalu. Hak atas foto ROMEO GACAD/AFP/Getty Images
Image caption Salah satu koleksi batik dari Iwan Tirta yang ditampilkan di Jakarta Fashion Week, 2014 lalu.

Setelah UNESCO menetapkan batik sebagai salah satu Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 2009, muncul berbagai batik jenis baru, seperti batik Aceh, Papua, Kalimantan, dan Betawi. Apa artinya batik-batik baru ini di tengah tradisi batik yang sudah berlangsung lebih lama seperti di Pulau Jawa?

Tagar #HariBatikNasional digunakan 7.600 kali dari Minggu (1/10) sampai Senin (2/10) atau meningkat 83.789%. Pengguna media sosial pun antusias membagikan foto-foto mereka menggunakan batik. Tagar lain yang juga populer adalah #banggaberbatik yang, dalam waktu sama, dicuitkan 4.300 kali dengan peningkatan 7.509%.

Dalam pernyataannya saat mengumumkan batik sebagai Warisan Budaya Dunia, UNESCO mengatakan bahwa batik Indonesia, atau 'teknik, simbolisme dan budaya di seputar proses pewarnaan menggunakan tangan pada kain katun atau sutra telah merasuki kehidupan orang Indonesia dari kelahiran sampai kematian'.

Mereka mencatat bahwa bayi-bayi digendong menggunakan kain batik yang didekorasi dengan simbol yang dirancang untuk membawa keberuntungan bagi si anak, jenazah pun ditutupi dengan kain batik.

Pakaian dengan desain sehari-hari dipakai secara teratur dalam dunia bisnis dan akademis, namun motif batik lain secara khusus dimasukkan ke acara perayaan seperti pernikahan, upacara kehamilan, dan pertunjukan wayang.

"Kain ini juga memainkan peran penting dalam beberapa ritual, seperti upacara melemparkan batik kerajaan ke dalam gunung berapi," kata UNESCO.

UNESCO juga mencatat bahwa batik diwarnai oleh para perajin yang menggambar desain dengan titik dan garis serta lilin panas. Dan motif-motif yang digunakan mencerminkan beragam pengaruh, seperti kaligrafi Arab, buket bunga Eropa, dan burung phoenix khas Cina, serta pohon sakura Jepang dan merak India atau Persia.

Tradisi ini, menurut UNESCO, menunjukkan bahwa batik adalah identitas budaya orang Indonesia dan lewat makna simbolik warna serta motifnya,, menunjukkan kreativitas dan spiritualitas orang Indonesia.

Namun beberapa tradisi yang disebutkan oleh UNESCO terkait dengan batik itu tak lepas dari budaya Jawa.

Lalu apa artinya ketika kini ada sentra-sentra produksi batik baru yang berbeda dari daerah asal batik yang biasanya dikenal oleh banyak orang, seperti Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Madura, Cirebon, atau Lasem.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP/Getty Images
Image caption Kelompok arisan di Jakarta mengenakan berbagai koleksi kain batik mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul batik Aceh, Papua, Kalimantan, dan Betawi -- daerah-daerah yang sebelumnya jarang terdengar memiliki tradisi membatik. Namun bagi pegiat batik Betawi lewat Batik Terogong, Siti Laela, asumsi ini tidak tepat.

"Dari saya kecil, begitu saya bisa mengingat, batik Betawi itu sudah ada. Tapi dulu tidak disebut batik Betawi. Di kampung Terogong ini dulu sudah banyak ibu-ibu membatik," kata Siti Laela.

Saat itu, saat dia kelas 3 atau 4 SD pada akhir tahun 1960an dan awal 1970an, Siti Laela mengingat bahwa ibu-ibu di kampungnya di Terogong, Cilandak, Jakarta Selatan sudah sering berkumpul untuk membatik dengan motif bunga-bunga buket.

Bahkan, menurutnya, di daerah Kebayoran Lama, ada Jalan KPBD yang merupakan singkatan dari Koperasi Pengrajin Batik Djakarta. Keberadaan jalan ini, menurut Siti Laela, adalah bukti keberadaan tradisi batik di Jakarta.

Siti sudah mencari 'bukti' dokumentasi batik Betawi sampai ke Arsip Nasional, namun tak menemukannya. Meski begitu dia yakin bahwa aktivitas membatik sempat banyak dilakukan di ibu kota sampai kemudian hilang.

Hak atas foto Ulet Ifansasti/Getty Images
Image caption Ratu Margrethe II dari Denmark mendengarkan penjelasan soal pembuatan kain batik saat mengunjungi Keraton Yogyakarta, Oktober 2015 lalu.

Asal mula Siti menghidupkan lagi batik Betawi berawal dari mengikuti pelatihan membatik yang diadakan oleh Pemprov DKI Jakarta bersama Lembaga Kebudayaan Betawi pada 2011.

Baru pada 2012 dia berani membuka usaha menjual batik Betawi, baik yang cap maupun tulis. Kini, dia mengembangkan batik-batik motif simbol-simbol yang ada di Jakarta, seperti Monas dan ondel-ondel. Dan menurut Siti, 'keaslian' batik Betawi yang dijualnya masih terus diragukan.

"Jangankan yang jauh, yang dekat di seputaran Jakarta saja begitu mereka mendengar batik Betawi, 'emang Betawi punya batik?' Buat saya sih, mereka beranggapan ada atau tidak batik Betawi, saya tetap pada niat ingin melestarikan batik Betawi, saya ingin keberadaan batik Betawi untuk pemberdayaan ibu-ibu sekitar, supaya mereka paham, ini lho pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran," kata Siti Laela.

Meski begitu, semakin banyak yang mencari batik yang dijualnya. Jika pada awal-awal membuka usaha, omzet yang diperolehnya sekitar Rp10 juta-Rp15 juta per bulan, kini dia bisa mendapat omzet Rp20 juta-Rp30 juta per bulan.

Sementara itu, Abdul Kadir Assegaf, pemilik Batik Kuntul Perak di Bontang, Kalimantan Timur, mengakui bahwa memang Bontang tak memiliki tradisi membatik.

Dia baru memulai usahanya setelah muncul imbauan dari pemerintah agar setiap kota dan kabupaten mengembangkan motif batiknya sendiri-sendiri untuk 'melawan' klaim Malaysia terhadap kepemilikan batik.

Abdul Kadir kemudian mengikuti pelatihan soal batik yang diadakan oleh Pemerintah Kota Bontang pada 2007, namun alasannya utnuk mengembangkan batik lebih ke sisi bisnis, yaitu menjual barang cendera mata khas Bontang.

"Bontang itu kan kota tujuan dari pekerja dan wisata. Ini kota pesisir yang sebagian besar, 85%-nya pendatang, jadi saya ingin mengangkat motif daerah, maskot burung kuntul dan mangrove. Kebetulan karakteristiknya burung kuntul ini burung pendatang, energik, dan burung pekerja," katanya.

Karsam, seorang ahli batik yang pernah menulis disertasi soal perbandingan batik Tuban dan batik Malaysia, membenarkan pernyataan Abdul Kadir Assegaf, bahwa perkembangan batik-batik di provinsi-provinsi baru yang sebelumnya tak punya tradisi membatik memang tak lepas dari persaingan antara Malaysia dan Indonesia dalam saling klaim kepemilikan batik antara 2005-2007.

"Karena batik sudah milik Indonesia, maka daerah manapun mau mengembangkan batik itu silakan, asalkan itu dengan teknik pembatikan. Dikatakan asli atau tidak itu kan tergantung prosesnya, selama dia membuat warna di kain, kain dicanting, dengan proses dicelup atau dicolet, kan tetap asli," kata Karsam.

Hak atas foto Sofie
Image caption Karya batik Sofie dalam peragaan di London pada bulan Juli lalu.

"Dari sisi teknik tidak banyak perkembangannya, yang banyak berkembang dari sisi bahan, dulu warna-warna alami, sekarang ada warna-warna lain. Biasanya, daerah yang mengembangkan batik itu akan dari sisi motif, motifnya akan bernuansa ikon lokal. Papua ya dengan burung cenderawasih, itu kan tidak masalah," ujar Karsam lagi.

Perancang busana, Sofie, dari Indonesian Fashion Chambers mengatakan batik perlu dikembangkan terus menerus sesuai dengan perkembangan zaman.

"Kalau ngomongin batik, kita mesti terus menerus melestarikan dan selalu berinovasi sesuai dengan perkembangan zaman biar para pencinta batik tidak bosan," kata Sofie kepada BBC Indonesia.

"Saya lihat di mall hari ini banyak orang belum memakai batik..saya nonton (di bioskop) dan di dalam juga yang pakai batik cuma tiga atau empat orang. Itu berarti belum pada tahu kalau hari ini hari Batik Nasional," tambahnya.

Hak atas foto ROMEO GACAD/AFP/Getty Images
Image caption Beberapa menteri Kabinet KErja mengenakan kemeja batik berbagai motif pada Oktober 2014 lalu di Istana Negara.

Sementara itu, Aceh yang tak punya tradisi membatik pun kini memiliki motif batik sendiri, seperti bunga jeumpa, rencong, atau tolak angin.

Topik terkait

Berita terkait