Ketika Eggi Sudjana laporkan Franz Magnis, adakah niat 'mengalihkan fokus diskusi'?

Eggi Hak atas foto Detik.com
Image caption Eggi Sudjana. Foto: Detik.com/Rengga Sancaya

Ogah disebut 'bodoh' oleh budayawan Franz Magnis Suseno, aktivis Eggi Sudjana melaporkan budayawan tersebut ke Bareskrim Mabes Polri dengan pasal pencemaran nama baik.

Pangkal dari persoalan bermula saat wawancara Eggi dalam sidang uji materi Perppu Ormas di Mahkamah Konstitusi beredar viral. Di situ dia mengatakan dengan lantang: ''Tidak ada ajaran selain Islam, ingat ya garisbawahi selain Islam, yang sesuai dengan Pancasila.''

''Selain Islam bertentangan. Karena Kristen trinitas, Hindu trimurti, Buddha sepengetahuan saya tidak punya konsep Tuhan kecuali dengan proses Amitabha dan apa yang diajarkan oleh Sidharta Gautama. Jadi ajaran-ajaran lain selain Islam bertentangan dengan sila pertama.''

Komentar Eggi ini dianggap memancing kegaduhan, sehingga Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia melaporkannya dengan pasal ujaran kebencian terhadap agama tertentu pada 5 Oktober.

Tidak cuma di Jakarta, laporan terhadap Eggi muncul juga di Bali. Forum Peduli NKRI melaporkan Eggi ke Polda Bali karena ucapannya dinilai mengandung unsur penistaan agama dan ujaran kebencian. ''Sudah ada yang melapor hanya di satu pasal, tapi kita ingin melihat seandainya memang bisa kita laporkan di pasal yang lain selain daripada penistaan agama kita akan laporkan juga.'' Hengky Suryawan, Koordinator Forum Peduli NKRI.

Hak atas foto Detik.com
Image caption Guru besar emeritus Sekolah Tinggi Filsafat, Driyakarya Franz Magnis Suseno menganggap ucapan Eggi Sudjana bahwa ajaran selain Islam bertentangan dengan Pancasila sebagai kebodohan. Foto: Detik.com/Ari Saputra

Kaitannya dengan Franz Magnis Suseno yang akrab disapa Romo Magnis, dalam wawancara dengan Tirto pada 7 Oktober, dia mengungkapkan 'dua kebodohan besar Eggi Sudjana'.

Eggi disebutkan Romo Magnis tidak paham Pancasila yang disahkan pada 18 Agustus 1945. Apa yang dikatakan Eggi tentang agama 'bertentangan dengan maksud pendiri negara yang menetapkan Pancasila dan UUD. Kekeliruan kedua, Eggi salah memahami konsep Trinitas. ''Kesombongannya adalah dia merasa tahu agama sendiri, lalu merasa bisa menilai agama lain,'' ujar Romo Magnis.

''Kenapa Franz Magnis saya laporin juga? Dia nyebut-nyebut saya bodoh,'' ujar Eggi kepada wartawan di Kantor Bareskrim, Gambir, Selasa (10/10).

''Ente mau enggak dibodoh-bodohin? Enggak mau dong walaupun benar bodoh.''

"Mengalihkan fokus diskusi"

Di Twitter, akun @ajunsii berkicau bahwa Eggi Sudjana yang juga berprofesi sebagai pengacara, bermain strategi untuk mempengaruhi aparat hukum. ''Dengan dia lapor balik, secara psikis membuat kasusnya ribet dan fokus terpecah.''

''Dengan lapor balik dia seolah korban pendzholiman, bikin opini publik dan mancing demo tanggal cantik!''

''Yang dibubarkan HTI, bukan Islam. HTI dibubarkan tidak berarti agama Islam bubar. Begitu cekaknya logika pembicara ini,'' kicau akun @AT_AbdillahToha menanggapi video wawancara Eggi yang beredar viral.

Berbeda dengan yang lain, akun @joxzin_jogja membela Eggi saat warganet menyebutnya penista agama. Akun tersebut berkicau: ''Penistaannya dimana ya?

Menurut Miko Ginting, peneliti dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan, upaya Eggi Sudjana melaporkan balik mereka yang mengadukannya ke polisi — termasuk Romo Magnis yang mengkritik ucapan Eggi, bisa ditengarai sebagai satu upaya untuk 'mengalihkan fokus diskusi'.

''Kan fokus diskusinya adalah ketika Eggi Sudjana melontarkan pernyataan yang berkaitan dengan agama,'' kata dia.

''Fokus diskusinya di situ. Setidak-tidaknya dengan pelaporan ini kan menjadi beralih diskusinya, ya laporan terhadap beberapa orang termasuk Romo Magnis dan sejumlah tokoh masyarakat.''

''Konteks ini kan misalnya Eggi Sudjana melemparkan statement (pernyataan) kemudian beberapa orang mengkritik .. Eggi Sudjana maka dilaporkan balik. Saya kira untuk beberapa orang memang ada pelaporan di awalnya ya, tapi kan untuk Romo Magnis tidak ada. Romo Magnis kan tidak melaporkan Eggi Sudjana sebenarnya, tapi memberikan pendapat terhadap Eggi Sudjana.''

Pasal karet

Secara prinsipil, Miko juga memandang pasal yang dipakai Eggi untuk melaporkan orang yang mengadukannya sebenarnya pasal karet, yang 'secara nilai bermasalah'.

''Pasal penghinaan dan pencemaran nama baik itu memang punya permasalahan tersendiri... Cukup luas tafsirannya. Sebaiknya penggunaannya dihindari.''

Namun Miko menilai kasus ini bisa jadi yang serius buat kepolisian, yang menjadi filter apakah kasus semacam ini bisa diproses ke tahap selanjutnya. Sebab dalam konteks pengaduan semua orang bisa mengadukan siapapun. Makanya yang penting menurut Miko adalah filternya.

''Ini kan masih pengaduan dari seorang Eggi Sudjana yang belum tentu juga akan diproses ke tahap selanjutnya. Filternya ada di pihak kepolisian.''

Topik terkait

Berita terkait