Adu bagong, duel 'mengerikan' babi hutan dan anjing dilarang Pemda Jawa Barat

Peringatan: Beberapa foto dalam tulisan ini mungkin bisa mengganggu Anda.

adu bagong Hak atas foto Reuters
Image caption Agus Badud yang memiliki 40 anjing dan sering diikutkan pada adu bagong.

Tradisi adung bagong atau duel antara babi hutan dan anjing yang banyak diselenggarakan di Jawa Barat disebut aktivis menunjukkan "generasi muda yang semakin tak peka terhadap kekejaman atas binatang."

Duel antara babi hutan sampai salah satu di antaranya mati ini banyak dipertontonkan di berbagai kabupaten Jawa Barat termasuk Bandung, Majalengka, Garut dan Kuningan dan disebut aktivis pelindung satwa, Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group, Marison Guciano sebagai "mengerikan."

Berita adu bagong juga diangkat sejumlah media Inggris dengan mengutip pegiat pelindung binatang yang menyebut pertunjukkan semacam ini harus "dikecam."

Menanggapi berita ini, Pemerintah Jawa Barat, menyatakan akan mengirimkan larangan ke semua kepada daerah untuk "melarang" kegiatan ini.

"Pemprov paham Adu Bagong merupakan tradisi masyarakat Jawa Barat yang telah berlangsung lama. Namun apabila sebuah tradisi memberikan pengaruh buruk dan berdampak negatif bagi kehidupan sosial bermasyarakat, sudah sepatutnya tradisi tersebut dihilangkan bahkan dilupakan," kata Ade Sukalsah, kepala bagian publikasi Pemda Jabar.

"Pemprov Jabar meminta kepada Bupati/Walikota untuk menerbitkan sebuah peraturan yang melarang pertunjukan Adu Bagong di wilayahnya, kata Ade.

Adu bagong ini biasanya diselenggarakan di arena seluas 15 sampai 30 meter dengan pagar bambu untuk melindungi penonton dan berakhir setelah salah satu binatang terluka.

Para peserta mengatakan kepada kantor berita Reuters, duel binatang ini dilakukan untuk menjaga tradisi berburu yang dimulai pada tahun 1960-an saat babi hutan meningkat pesat dan diburu untuk melindungi hasil panen.

Hak atas foto Reuters
Image caption Penonton adu banteng yang menyaksikan duel babi hutan dan anjing di Cikawao, Jawa Barat.

Salah seorang peserta Nur Hadi -Ketua Hiparu, sebuah kelompok anjing pemburu- yang mengikutkan anjingnya ikut berduel mengatakan tradisi ini telah turun menurun.

"Dulu (duel) ini sangat sederhana dan tidak seperti sekarang karena anjing harus dilatih... dan dari situ diturunkan dan telah menjadi bagian dari tradisi dan budaya," kata Nur Hadi kepada Reuters.

Namun Marison Guciano mengatakan duel ini harus dihentikan karena merupakan kekejaman terhadap binatang.

"Saat bertarung (terlihat) bagaimana penduduk bersorak sorak melihat kejadian yang menurut saya mengerikan, termasuk anak-anak dan ini mengajarkan generasi muda kita semakin tak peka terhadap kekejaman dan kekerasan terhadap hewan," kata Marison.

Hak atas foto Reuters
Image caption Celeng yang tak mati akan diadu lagi setelah luka-lukanya sembuh.

"Dan ini membuat masyarakat tidak peka terhadap kekejaman atau kekerasan atas binatang di sekitarnya. Dan ini mengkhawatirkan."

"Dan saya berkesimpulan atas nama tradisi ini tak bisa dibenarkan dan harus dikoreksi dan ini jelas jelas kriminal," tambahnya.

Marison menunjuk pada pasal 302 dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang "menyebutkan penyiksaan terhadap binatang adalah pidana tapi cuma hukumannya dan penegakan hukum pasal ini sangat lemah."

Ade Sukalsah, kepala bagian publikasi Pemda Jabar, juga merujuk pada pasal 302 dan menyatakan "Selanjutnya, untuk penegakan hukum terkait dengan Adu Bagong, Pemprov meminta Pemerintah Kabupaten/Kota untuk bekerjasama dengan Kepolisian setempat dengan melibatkan masyarakat sebagai pengawas lingkungan tidak resmi."

Media Inggris, The Independent, mengutip Wendy Higgins, juru bicara Humane Society International yang mengatakan, "Duel brutal dan eksploitatif antara anjing dan babi hutan di Indonesia merupakan tontonan yang mengganggu dan harus dikecam."

Ditaruh di kotak kecil dan dipukul

Hak atas foto Reuters
Image caption Tradisi ini disebutkan telah dilakukan sejak 1960an saat jumlah babi hutan banyak.

Walupun diprotes oleh para pecinta binatang, tontonan adu banteng ini masih banyak di Jawa Barat, tulis Daily Mail.

Babi hutan yang selamat dari duel kembali diadu setelah luka-luka binatang ini sembuh sedangkan bila mati maka dagingnya dijual.

Pemilik anjing Agus Badud, seperti dikutip Reuters, mengatakan tradisi ini merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat setempat.

Hak atas foto Reuters
Image caption Desa Cikawao, Majalaya, salah satu daerah yang menyelenggarakan adu banteng.

Pemilik anjing membayar sekitar Rp200.000 sampai Rp2 juta untuk ikut serta, tergantung dari besarnya anjing.

"Saya ikut serta untuk meningkatkan harga jual anjing saya dan tak ada gunanya anjing-anjing ini bila saya tak ikutkan dalam kontes seperti ini," kata Agus.

Hak atas foto Reuters
Image caption Adu bagong memberi penghasilan kepada penduduk, kata pemilik anjing.

Para aktivis pelindung binatang termasuk Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group telah mengajukan protes kepada Pemerintah Daerah Jawa Barat agar menghentikan praktek adu banteng ini.

Marison Guciano mengatakan dari sisi penangkapan babi liar di hutan saja sudah menyalahi aturan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

"Bayangkan saja, babi hutan di simpan di boks kecil berhari-hari sebelum pertarungan... tak bisa membalikkan badan...dan itu jelas bentuk kekejaman terhadap hewan. Walaupun babi hutan yang dianggap hama oleh penduduk tak pantas diperlakukan seperti itu, dan keluarnya itu juga (dari boks)... ada yang dipukul pakai kayu," kata Marison.

Hak atas foto Reuters
Image caption Adu bagong dengan anjing disebut aktivis binatang sebagai tontotan "mengerikan."

"Mengambil babi hutan dari alam liar jelas melanggar aturan karena Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatur pengambilan satwa liar dari alam liar itu harus ada izin dan surat angkut. Ini saja sudah melanggar aturan.," tambahnya.

Dari lebih 250 komentar dari Facebook BBC Indonesia sampai berita ini diturunkan, sebagian besar mengecam "tradisi adu bagong" ini dan menuntut pemerintah untuk menghentikan.

"Hentikan kekejaman terhadap binatang atas nama tradisi," tulis Yolani Elvira Bachtiar Martin, dan Mahfuz Budi menulis, "Pemerintah harus menghentikan ini."

Pengguna lain, Ade Fikriansyah mengatakan, "Tradisi yang harus ditinggalin."

Sementara sebagian lainnya mengaitkan dengan ekosistem.

"Terlepas dari itu, setiap hewan memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem," tulis Feny Alkieshara.

Sedang Imam Andani Sinabariba menyatakan, "Sebenarnya tradisi seperti ini sudah seharusnya dihilangkan karena kita manusia seharusnya lebih bisa bijak dalam memperlakukan hewan dengan semestinya karena hewan juga bisa merasakan sakit semoga tradisi ini bisa dihilangkan."

Topik terkait

Berita terkait