Cekoki 'alkohol' ke satwa di Taman Safari, ancaman denda hanya Rp4.500

instagram Hak atas foto Instagram

Dua pengguna Instagram bikin geram warganet setelah video yang beredar menunjukkan mereka mengumpani satwa Taman Safari Bogor dengan 'alkohol'.

Video tersebut diunggah ke medsos oleh akun @alyccaaa dan @philipbiondi, kemudian disebarkan oleh warganet @doniherdaru dan @makrumpi, Selasa (14/11).

''Di video pertama, mereka seolah hendak memberikan wortel ke rusa/kijang, namun ternyata malah memasukkan minuman (yang kami duga keras),'' ujar akun @doniherdaru. ''Sangat tidak patut dan dapat diancam pidana.'' Kijang yang dicekoki minuman tersebut lari terbirit-birit, kemudian tawa pengunggah video pecah.

Peringatan: Video berikut bisa mengganggu kenyamanan Anda

Dalam video lain, pengunggah dan teman-temannya menyiram cairan yang diduga 'anggur merah' ke mulut kuda nil dan mempermainkan seekor zebra.

Perilaku pengunjung yang kelewat batas ini kemudian diadukan pengelola Taman Safari Bogor ke kepolisian, Rabu (15/11) karena dianggap sudah melanggar norma tentang kesejahteraan satwa.

Sementara itu di media sosial beredar teks yang diduga sebagai permohonan maaf pelaku. Bunyinya: ''Saya juga manusia yang bisa berbuat salah dan setolol tadi siang. Sekali lagi saya mohon maaf dan minta tolong agar postingannya dihapus.''

Denda paling banyak Rp4.500

Ketua Profauna Indonesia Rosek Nursahid mengatakan sesungguhnya pendekatan untuk kasus ini 'tak cukup pidana'.

Sebab menurut Rosek, kasus ini menunjukkan adanya 'sistem yang salah' dengan perlakuan masyarakat terhadap binatang di taman satwa.

''Menurut saya pidana kurang kuat. Sah-sah saja, artinya memang ada juga aturannya, tetapi hukumannya juga sangat ringan sekali,'' imbuh dia.

Dalam KUHP pasal 302, penyiksaan terhadap binatang hanya diancam pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak Rp4.500.

Rosek juga mengingatkan bahwa KUHP merupakan produk hukum lama dari zaman Belanda yang sebetulnya sudah tidak relevan untuk saat ini.

Kasus di Taman Safari dan taman satwa lain, menurut Rosek merupakan cermin begitu bebasnya interaksi antara wisatawan dan satwa. Termasuk menunjukkan 'kontrol yang lemah', sehingga pengunjung bisa memberikan minuman keras tanpa diketahui oleh petugas.

''Taman safari seharusnya tidak sekadar melaporkan tetapi juga introspeksi, kenapa itu bisa terjadi. Jangan melempar kesalahan sepenuhnya kepada pengunjung yang kemudian mengunggah video itu ke publik. Tetapi seharusnya introspeksi kenapa itu bisa terjadi kenapa petugas bisa terlewatkan dari pantauan petugas.''

''Ini menunjukkan sebuah sistem yang salah. Sistem di mana satwa-satwa di taman satwa diperlakukan tidak sepantasnya, hanya kebetulan ini yang terungkap karena dipublikasikan ke jejaring sosial,'' ungkap Rosek.

Dampak alkohol terhadap satwa

Menurut Rosek, pemberian alkohol dalam kondisi tertentu apalagi berlebihan akan memicu agresivitas. Sama halnya dengan dampak alkohol pada mamalia seperti halnya manusia.

''Apalagi kepada binatang yang tentunya tidak punya kontrol sebaik manusia sehingga tanpa uji medis pun itu pasti berdampak negatif.''

Rosek berharap pemerintah, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bergerak juga mengevaluasi keberadaan satwa-satwa di taman satwa agar interaksi terhadap pengunjung betul-betul dibatasi supaya kejadian serupa tidak berulang.

Topik terkait

Berita terkait