'Taktik berjilbab' pelatih pria Thailand untuk masuk ke turnamen putri Iran dikecam

somprach phonchoo Hak atas foto Twitter/ICHRI
Image caption Foto Somprach Phonchoo yang menyebar di media sosial.

Seorang pelatih pria Thailand menimbulkan kemarahan dan kontroversi di media sosial setelah tersebar foto-fotonya memakai jilbab dalam turnamen olahraga Kabbadi perempuan di Iran.

Foto Somprach Phonchoo yang tersebar di media sosial dengan memakai selendang penutup kepala itu diambil dalam kejuaraan putri Kabaddi Asia di kota Horgan, pada akhir November lalu.

Sebagian foto menunjukkan ia memakai jilbab hitam dan yang lain menggunakan handuk putih. Sejumlah laporan menyebutkan ia diusir sebelum masuk ke arena turnamen lagi.

Federasi Kabaddi Iran mengungkapkan kemarahan dan mengkritik Somprach Phonchoo yang disebutkan memperdaya penjaga untuk menyelinap masuk ke tempat pertandingan.

Federasi juga mengatakan pelatih Thailand itu "melanggar peraturan negara tuan rumah."

Juru bicara federasi, Abuzar Markalai, mengatakan kepada situs Jam-e Jam, bahwa Somprach harus "meminta maaf atas sikap tak menghormati kepada perempuan."

Tetapi Somprach sendiri dalam wawancara dengan BBC Thailand mengatakan ia diminta oleh penyelenggara memakai penutup kepala dan bahwa ia tidak masuk ke arena pertandingan. Namun Markalai menyanggahnya.

"Pelatih pria harus ada di ruangannya atau duduk di pintu masuk ke arena pertandingan. Semua pelatih harus menutupi kepala, bukan hanya saya. Ada juga pelatih dari Taipeh yang melakukan hal serupa," kata Somprach.

"Saya datang dan duduk. Jauh (dari arena pertandingan), namun paling tidak saya bisa menyemangati anak-anak dan tidak pergi (dari situ)," tambahnya.

Diusir setelah beberapa detik

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tim Kabaddi Iran dan Thailand bertanding sejak 2013.

Somprach juga mengatakan tidak melanggar peraturan dan menerapkan yang ditentukan pihak penyelenggara.

Ia mengatakan akan meminta organisasi olahraga di Thailand untuk mempertimbangkan mengirim pelatih perempuan bila ada pertandingan di Iran atau negara lain yang memiliki peraturan serupa.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tim Kabaddi putri Iran pada turnamen tahun 2014.

Sementara kepada Radio Farda, Radio Free Europe/Radio Liberty, Phonchoo juga mengatakan hal yang sama.

"Saya katakan saya ingin masuk karena Thailand tak punya pelatih perempuan. Selama pertandingan penting untuk pelatih mendampingi tim," katanya lagi.

Phonchoo mengatakan "ia tidak marah" karena jilbab adalah bagian dari "budaya di Iran" namun ia mengatakan "sedih" atas insiden itu.

Federasi Kabaddi Iran mengatakan akan melaporkan kejadian itu pada Federasi Dunia Kabaddi, walaupun Somprach telah diusir dari arena setelah "beberapa detik."

Pengguna media sosial banyak yang berkomentar dengan sindiran.

Akun @30khonak misalnya menulis, "Kasian pria itu dengan tangan disilang dan duduk karena takut dengan perempuan di stadion."

"Besok, mungkin mereka mengatakan, setelah melihat orang-orang beragama dan bersahabat di Iran, ia juga akan memakai jilbab,"cuit @1hoseim.

"Tomorrow, they will probably say: After seeing the

Kabaddi adalah olahraga yang berasal dari Tamilnadu, India, antara dua tim -putra atau putri- yang masing-masing terdiri dari tujuh pemain.

Biasanya di Iran, perempuan sering menyamar menjadi laki-laki untuk masuk ke stadion olahraga, tempat yang melarang kehadiran perempuan.

Federasi olahraga Iran juga menghadapi tekanan untuk mencabut pembatasan dan larangan terhadap perempuan di seputar pertandingan olahraga, terutama larangan menonton sepak bola pria.

Topik terkait

Berita terkait