Banjir Jakarta: Mengapa jadi subjek saling tuding dan bahan nyinyir?

jakarta Hak atas foto Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik Jakarta
Image caption Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau lokasi tanggul jebol di Jati Padang, Senin (11/12).

Banjir Jakarta pada Senin (11/12), sontak menjadi obrolan warga kota. Tidak hanya jadi objek kekesalan bagi mereka yang terkena dampak langsung banjir, tapi juga diperbincangkan hangat oleh para warganet.

Berdasarkan pantauan dari Spredfast.com, cuitan yang menggunakan kata 'banjir' melonjak drastis 2.166% dalam 24 jam terakhir. Terdapat lebih dari 74 ribu cuitan terkait bencana di sore Senin itu.

Salah satu obrolan yang ramai didiskusikan adalah tentang pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, yang mengatakan hujan deras yang mengguyur ibukota selama hampir dua jam itu, justru harus dilihat sisi positifnya.

"Allah lagi ngirimin hujan. Kalau kita punya sistem yang baik, hujan justru harus menjadi berkah bagi kita," tutur Sandi di Balaikota DKI Jakarta, Senin (11/12).

Hak atas foto BPBD DKI Jakarta

Bisa diduga, pernyataan Sandiaga Uno kemudian jadi bahan perbincangan -yang menanggapi positif, maupun yang nyinyir.

Seorang warganet dengan akun @Pusokoseto menyebut banjir yang melumpuhkan sebagian Jakarta itu hanyalah "air yang mengalir secara santun". Cuitannya telah di-retweet lebih 1.000 kali.

Sementara, merujuk pernyataan Sandiaga, Elida Hanum Daulay lewat akunnya 'mengajak' netizen untuk 'menyambut' banjir dengan "gembira".

Ajakan untuk 'pasrah', juga dicuitkan akun @Tandhy.

Ada pula yang bernada pedas.

Saling tuduh kembali terjadi

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan deras berujung banjir yang menggenangi Jalan Rasuna Said, Kuningan, Dukuh Atas, bahkan hingga kompleks menteri di Jalan Denpasar, karena adanya pengumpulan masa udara basah dan uap air yang cukup signifikan.

"Proses itu sudah berlangsung sejak Minggu 10 Desember, terjadi potensi pertumbuhan awan hujan, disusul hujan intensitas lebat hingga sangat lebat dalam hitungan jam." Banjir pun menggenang dengan ketinggian beragam, dari 40 sentimeter hingga satu meter.

Hak atas foto Instagram

Alhasil, seperti yang kerap terjadi ketika banjir menerjang ibu kota, berbagai komentar saling tuduh pun bermunculan. Lewat akun Instagramnya, putra_hg mengunggah foto satir: banjir menggenang di Jalan Gatot Subroto, mobil harus bergerak pelan menembus banjir, sementara di pinggir jalan berdiri papan iklan besar dengan foto Anies-Sandi dengan tulisan "Selamat Datang".

Namun, tidak sedikit warganet yang tidak rela Anies-Sandi dipersalahkan. Banyak yang menulis bahwa banjir tidak bisa dikaitkan begitu saja kepada gubernur dan wakil gubernur ibukota itu, karena mereka baru "dua bulan dilantik".

Apalagi, Anies-Sandi disebut 'tidak pernah' mencantumkan penanggulangan banjir dalam janji kampanyenya.

Bahkan objek aksi saling tuding bergulir jauh hingga ke Presiden Joko Widodo. Sebuah video yang direkam saat Jokowi masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, ramai disebarkan.

Dalam video itu Jokowi menyebut, "Untuk banjir, masalahnya bukan Jakarta. Airnya hampir 90% berasal dari atas. (sebanyak) 13 sungai yang ada, itu kewenangannya dari pemerintah pusat". Dalam video itu kemudian muncul narasi bahwa jika menjadi presiden, Jokowi akan bisa menyelesaikan masalah itu.

Tak ketinggalan, Wakil Ketua MPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid, menyindir sang presiden, lewat cuitannya yang telah di-retweet sebanyak lebih 300 kali.

Lalu, bagaimana solusinya?

Namun, apakah saling tuduh bisa menyelesaikan masalah?

Warganet Alldo Felix J. Lewat akut Twitternya @alldofj menyebut tidak. Dia mencuit berbagai upaya solusi pernah dicoba sejumlah gubernur Jakarta dalam lima tahun belakangan, tetapi tetap tidak berhasil menghentikan banjir di ibukota.

Berdasarkan catatan, ketika Fauzi Bowo menjabat Gubernur DKI Jakarta lalu, sempat terjadi banjir pada bulan Februari dan November 2012. Sebanyak lebih dari 1.000 orang mengungsi. Ketika Jokowi memimpin, terjadi banjir pada pertengahan Januari 2013. Sebanyak 12 orang meninggal dunia dan puluhan ribu lainnya mengungsi.

Ketika Basuki Tjahaja Purnama menjadi gubernur DKI Jakarta, banjir juga terjadi setiap tahun mulai dari 2014 hingga 2017. Setidaknya total lima orang meninggal dunia dan puluhan ribu warga mengungsi. Dan ketika Anies baru beberapa waktu memimpin, banjir juga telah datang menerjang.

Hak atas foto KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Image caption Joko Widodo saat masih menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, meninjau pintu air Jembatan Merah, Jakarta Pusat, Senin (13/01/14).

Akun @alldofj pun menulis, "Sekarang kita tahu bahwa mendiskusikan banjir dengan narasi politikus tidak akan menyelesaikan masalah".

Bagaimanapun, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, juga menulis di akun media sosialnya bahwa Jakarta sudah rawan banjir sejak zaman penjajahan Belanda. Dia pun mengunggah peta perubahan penggunaan lahan Jakarta dari 1972 hingga 2014, yang memperlihatkan semakin sedikitnya lahan hijau tempat resapan air.

Meskipun begitu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berkata lain. Menurutnya, banjir yang melanda sejumlah wilayah di pusat Kota Jakarta pada Senin, juga disebabkan tali air yang terhambat karena proyek pembangunan LRT dan MRT.

"Kita akan tegas bahwa jangan menyepelekan soal saluran air, proyek harus jalan tapi saluran air juga harus di perhatikan karena itu merepotkan warga," ujar Anies kepada wartawan di balaikota, Selasa (12/12).

Memperbanyak daerah resapan air atau segera merapikan pembangunan proyek LRT-MRT, mungkin bisa turut mencegah parahnya anjir.

Namun, apakah itu benar-benar bisa membuat banjir tidak akan datang lagi di kemudian hari? Karena jika tidak, seperti yang terjadi kemarin dan waktu sebelum-sebelumnya, warganet akan terus 'bernyanyi,' dan saling menyalahkan, Juga saling nyinyir.

Berita terkait