Ridwan Kamil dan strategi media sosialnya: Kenapa selalu soal jomblo?

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Ridwan Kamil, jomblo dan media sosial

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil termasuk salah satu politisi yang sering menggunakan media sosial sebagai upaya merangkul dukungan dan massa. Namun caranya menggunakan media sosial tak lepas dari kritikan, salah satunya soal isu LGBT dan seringnya dia menggunakan lelucon soal jomblo.

Dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia, dia menjelaskan strateginya dalam menggunakan media sosial.

Ridwan Kamil, dipastikan bakal berduet dengan Bupati Tasikmalaya, Uu Ruhzanul Ulum pada Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018. Sebagai politisi, Ridwan Kamil termasuk yang sering menggunakan saluran media sosialnya untuk memperlihatkan berbagai aktivitasnya.

Hak atas foto Instagram/@RidwanKamil

Akun Instagramnya memiliki 7,4 juta pengikut, di Twitter, sepanjang 2017, dia menempati urutan sembilan politisi/pejabat pemerintah yang paling banyak dibicarakan, di atas Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, sementara laman Facebooknya diikuti dan disukai dua juta orang lebih.

Hak atas foto Ed Wray/Getty Images
Image caption Ridwan Kamil saat mendampingi Raja Swedia Carl XVI Gustaf yang datang ke Bandung, Mei 2017 lalu.

Berikut petikan wawancara Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dengan Rebecca Henschke dari BBC Indonesia.

T: Jawa Barat punya masalah dengan intoleransi, bahwa ada penelitian yang menyatakan tegangan antar-agama tensinya tinggi. Untuk hal itu, bagaimana visinya?

J: Itu salah satu alasan saya ingin menjadi gubernur, supaya peradaban Jawa Barat, masyarakatnya bisa lebih baik. Saya ini datang dari dua dunia. Saya punya pesantren delapan, dari kakek saya.

Kakek saya ini kyai, running (mengelola) madrasah, tapi saya sekolah juga di UC Berkeley. Jadi kombinasi saya pesantren tapi American-educated (pendidikan Amerika)membuat saya punya dua dimensi. Problem Jawa Barat yang tadi disebut, satu, ekonomi, maka saya punya program bagaimana pesantren ini tidak hanya teaching Islam, tapi mandiri secara ekonomi.

Satu pesantren satu produk, di Bogor ada satu pesantren punya pabrik roti, pesantren punya pabrik sabun, supaya uangnya membiayai perbaikan.

Jangan sampai bikin kemiskinan ekstrem kemudian didatangi orang-orang yang mau cuci otak dan akhirnya membenci sesuatu untuk menyalahkan sambil mencari simbol, jadi terjadi intoleransi.

Yang kedua, kekurangan bangsa Indonesia hari ini adalah dialog. Orang Indonesia kadang-kadang tidak suka berdialog dengan orang yang berbeda pendapat. Jika saya dan Anda berbeda pendapat, biasanya saya ngomongnya ke sana, saya ngomongin Anda tapi ke sana, Anda baca, Anda balas lagi ke sana, tapi pas ketemu tidak mau (bicara).

T: Dan itu banyak lewat media sosial kan?

J: Itu kekurangannya, kita harus berani, harus lebih banyak berdialog langsung dengan orang-orang yang berbeda perspektif, dengan topik-topik yang sensitif, dikonfrontasi, terus menghormati.

Kalau sama pendapatnya ya alhamdulillah, kalau setelah dialog pendapat tetap berbeda, ya dihormati. Bagi saya kekurangan hari ini adalah dialog, baik fisik maupun digital.

T: Dan Anda sempat ramai di luar negeri soal media sosial yang bicara soal LGBT dan orang Thailand. Kenapa Anda bercanda seperti itu di media sosial?

J: Sebenarnya itu tafsir kultural ya. Misalkan begini, saya bilang di balik lelaki hebat di belakangnya ada wanita hebat. Bagi feminis itu mungkin dianggap sesuatu yang ofensif, oh berarti wanita harus selalu ada di belakang.

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/Getty Images
Image caption Ridwan Kamil saat melakukan inspeksi menjelang peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung, 2015 lalu.

Padahal maksudnya kan tidak begitu. Nah saya juga sama terhadap isu tadi. Bagi saya tidak bermaksud. It's just a simple thing (ini hal yang sederhana), tapi ditafsir, dibaca berbeda, sebagai pemimpin, kalau ternyata maksudnya baik tapi ditafsirnya tidak baik, saya minta maaf.

T: Jadi bapak tidak ada masalah dengan LGBT di Bandung?

J: Tidak, tidak. Ya, artinya permasalahan itu punya nilai-nilai kontekstual, membahas isu ini di Amerika, rileks-rileks saja, tapi membahas isu ini di Indonesia bisa menjadi isu yang sensitif. Jadi artinya saya sedang belajar.

Ternyata membahas satu isu bisa beda tafsirnya. Bagi sebagian orang itu, it's okay, bagi sebagian orang, it's not good. Tapi yang penting intensinya, intensi saya tidak ada niat jelek.

Intensi saya tidak ada niat buruk. Yang penting itu. Beda kalau pribadi saya niatnya jahat kan. Itu barulah saya problematik. Taoi saya tidak ada niat jahat, tidak ada niat buruk, saya orang baik. Jadi kalau keliru, saya minta maaf.

T: Karena Anda sangat aktif di media sosial...

J: 13 juta followers saya..

T: Strategi Anda seperti apa?

J: Sederhana. Adakah cara hari ini kita bisa menjangkau banyak orang kecuali dengan smartphone? Dengan social media. Kalau ke TV mungkin mahal, ke radio mungkin butuh waktu.

Orang Indonesia khususnya adalah orang yang senang mengkonsumsi informasi berita secara online. Saya punya 13 juta followers. Saya gunakan media sosial hanya untuk positive news, karena bad news banyak. Saya beritakan kegiatan saya, saya jawab pertanyaan-pertanyaan, saya klarifikasi fitnah-fitnah, saya minta maaf kalau saya keliru, I'm just a human (saya hanya manusia) kan.

T: Tapi style Anda sangat rileks juga, bercanda yang soal istri Anda juga muncul..

J: Saya datang ke kantor Facebook di Amerika. Kantor Facebook bilang begini, Pak Wali Kota, orang Indonesia ternyata interaksinya sedikit kalau kalimat beritanya serius.

Kalau mau interaksinya tinggi, Anda sampaikan pesan Anda dengan cara-cara yang tidak terlalu serius. Gara-gara riset Facebook inilah, pulang dari Amerika, saya ubah, kalimat saya lebih humoris, it's a bit funny sometimes (kadang-kadang lucu).

Saya ungkapkan sisi saya yang pribadi bahwa saya juga husband, saya punya istri, saya juga orangtua, saya juga suka nonton dan sebagainya. Ternyata masyarakat Indonesia sekarang berubah.

Dia ingin melihat pemimpin apa adanya, behind the scene (di balik layar). Apakah jadi pemimpin harus selalu jaga image? Tidak begitu. Sekarang millennial berharap Anda seperti millennial tapi kerja Anda baik. Itu saya bilang.

Ada juga orang yang masih bilang 'Pak Wali Bandung banyak main medsos, mana kerjanya?' Saya bilang, Anda hidup di zaman dulu, sekarang banyak di medsos, tapi kerja juga berprestasi, itu the new era.

T: Dan Anda suka bercanda tentang jomblo, kenapa ya?

J: 70% followers saya adalah single. Jadi kalau saya sebut isu yang ada di emosi mereka, single, tentang mantan, tentang hayu menikah, itu ratingnya selalu tinggi. Just keywords to make it more interactive (kata kunci untuk membuatnya lebih interaktif).

Topik terkait

Berita terkait